Uang

Oleh : Charles Beraf

Dalam suatu kesempatan diskusi di kelas, di University of the Philippines, seorang teman saya, Annica Quakenbush – warga Michigan (USA) bertanya retoris tentang dampak globalisasi terhadap pola hidup masyarakat. ‘Tahukah Anda cara mana yang paling lazim dan ampuh orang mendapatkan uang di era ini?’

Menurut Annica, cukup dengan MENJUAL, orang bisa hidup. Seorang buruh pelabuhan mendapatkan uang dengan menjual jasanya. Seorang petani mendapatkan uang dengan menjual hasil kebunnya. Seorang pengrajin mendapatkan uang dengan menjual hasil kerajinannya.

Charles Beraf , Sekretaris International Students’ Association (ISA), University of the Philippines Los Banos, Filipina

Charles Beraf , Sekretaris International Students’ Association (ISA), University of the Philippines Los Banos, Filipina

Namun, jangan lupa, kata Annica, bahwa tuntutan ekonomi uang dewasa ini sudah menyeret orang untuk berani menjual apa yang tak pantas dijual. Demi uang orang bisa menjual diri dalam prostitusi. Demi uang orang bisa mengorbankan orang lain dalam jejaring human trafficking. Demi uang orang bisa menggadaikan harga diri dengan menilep uang rakyat.

Di NTT, pada ranah budaya, entah disadari atau tidak, komodifikasi semacam itu pun sudah dan tengah menggerusi lokalitas dan orisinalitas kebudayaan masyarakat NTT. Di Lamalera, Lembata – kampung yang terkenal dengan tradisi perburuan Paus itu, melaut kerap menjadi komoditi wisata bagi para nelayan. Semangat melaut malah melejit ketika mereka bisa terbayar oleh para turis.

Di Bena – Bajawa, menurut catatan Stroma Cole dalam Tourism, Culture and Development: Hopes, Dreams and Realities in East Indonesia (2007), orang menenun tidak terutama demi melanggengkan tradisi menenun, tapi terutama demi segepok uang dari para turis yang datang berkunjung ke Bena.

Kisah miris di Lamalera dan di Bena ini barangkali juga terjadi di daerah lain di NTT. Entahkah hospitalitas orang-orang Larantuka menyambut para tamu menjelang Semana Santa sungguh menjadi bagian integral dari tradisi keagamaan itu, atau sebaliknya hanyalah sebentuk komodifikasi berlabel ‘religius’ di tengah arus ekonomi uang? Entahkah Tarian Caci di Manggarai kini masih tetap an sich menjadi tradisi seni orang – orang Manggarai, atau sebaliknya hanya sebuah ‘jualan’ di saat para penari bisa terbayar?

Entah ya, entah tidak! Namun patut disadari bahwa hal komodifikasi adalah dampak yang memang sering sulit dihindari dari arus ekonomi uang dewasa ini. Apa pun bisa jadi komoditi, bisa jadi uang. Kekayaan budaya pun bisa jadi uang. Dan demi uang, konsekuensi yang mungkin paling berat harus ditanggung adalah di satu pihak mengutamakan interest para customer, para turis, mereka yang beruang dan di lain pihak, orisinalitas dan identitas asali dari kekayaan budaya pun bisa dikorbankan.

Lalu, kalau demikian yang terjadi, apakah kita tetap juga lantang mengatakan bahwa masyarakat NTT memang sedang mewarisi kebudayaan leluhurnya?

Balik Arus

Sering kita dengar lontaran yang sudah sangat klise, bahwa ekonomi masyarakat NTT bisa didongkrak antara lain melalui pariwisata budaya. Hal itu kedengaran luar biasa, tetapi juga tersimpan logika kapitalis yang juga tak kalah luar biasa, seperti halnya pada industri pertambangan, yang gencar ditolak di NTT. Maka, demi uang, kekayaan budaya pun bisa dimodifikasi, dilakonkan seturut kehendak wisatawan atau mereka yang beruang dengan resiko yang sangat mungkin terjadi adalah bahwa orisinalitas nilai dari kekayaan budaya itu dapat tergerus. Ini serupa hukum pasar, hukum jual beli; bahwa apa yang kita punyai dan hanya bisa terjual sekurang-kurangnya bisa memenuhi apa yang menjadi harapan pembeli, pengunjung atau mereka yang beruang.

Hemat saya, cara pandang semacam itu mesti dibalik dengan melihat bahwa kekayaan budaya yang dimiliki adalah hal yang patut dijaga sebagai cerminan identitas kolektif masyarakat dan dihidupi sebagai cara hidup. Dan, karena itu, sebagai konsekuensi dari penghidupan itu adalah antara lain bisa mendatangkan uang atau bisa mendongkrak ekonomi masyarakat NTT. Maka, yang menjadi tugas dan tanggung jawab utama generasi NTT adalah menghidupi budaya, bukan terutama demi uang, tetapi demi terjaganya orisinalitas nilai dan identitas kolektif masyarakat NTT. Sekali lagi, uang adalah konsekuensi, bukan tujuan!

Ya, membangun dan atau mengubah cara pandang masyarakat yang sudah terlanjur diseret ekonomi uang memang bukan perkara mudah. Masyarakat dan seluruh stakeholders di NTT bertanggung jawab untuk hal ini. Jika tidak, budaya kita (bakal) hanyalah serupa tontonan, komoditi di hadapan para penikmatnya dan bukanlah cerminan identitas asali kita. Jika tidak, kita hanyalah masyarakat ‘muka uang’, yang sudah kehilangan basis budaya, meski kita berbangga punya sejumput kekayaan bernama ‘pariwisata budaya’. Sialan! ***

Azizah, Harga Diri dan Perjumpaan Potensi

Next Story »

Politik yang Bobrok, Andil Kekisruan Ekologi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *