Tuhan Membawa Damai, Bukan Teror dan Ancaman

LABUAN BAJO, FBC- Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng, Pr menyatakan, Tuhan datang membawa sukacita dan damai sejahtera bukan membawa teror dan ancaman bagi umat manusia. Sebaliknya, manusia yang suka membawa teror dan ancaman bagi sesama cenderung suka memuliakan dirinya sendiri, menganggap dirinya lebih hebat, lebih berkuasa, lebih perkasa atau lebih unggul daripada manusia lainnya.

: Uskup Ruteng, Mgr.Hubertus Leteng, Pr. (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

: Uskup Ruteng, Mgr.Hubertus Leteng, Pr. (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Uskup Leteng mengemukakan hal itu dalam kotbah misa peresmian Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Wae Sambi, Labuan Bajo, Selasa (12/5).

Dikatakan Uskup Leteng, manusia boleh memiliki pangkat dan jabatan, manusia boleh sukses dalam segala bidang kehidupan namun, kerapkali manusia cenderung sombong atau menyombongkan diri, bersikap angkuh bila meraih kesuksesan atau keberhasilan.

Meskipun memiliki pangkat dan jabatan, merasa hebat dan sukses namun manusia mesti ingat bahwa di luar dirinya masih ada juga orang atau manusia lain yang lebih unggul, lebih hebat dan lebih sukses. Karenanya, manusia tidak perlu bersikap ingat diri, sombong atau memuliakan dirinya sendiri.

Uskup Leteng juga mengingatkan sikap fanatisme sempit dan radikalisme merupakan tindakan yang tidak manusiawi karena merupakan ekpresi dari kesombongan dan keangkuhan manusia. Namun patut dipahami bahwa keamanan, sukacita dan damai sejahtera ada di tangan kita semua.

Ia menyatakan, Labuan Bajo sebagai daerah tujuan wisata internasional di mana semua bangsa-bangsa manusia datang ke wilayah ini maka umat dan seluruh elemen masyarakat perlu menjaga dan merawat suasana kedamaian dan kenyamanan bagi semua orang.

Sikap fanatisme sempit dan radikalisme menurut Uskup Leteng perlu diatasi dengan sikap kasih dan persaudaraan yang dihidupkan diantara sesama manusia baik antar umat beragama maupun antar sesama masyarakat.

Bunda Maria sebut Uskup Leteng kiranya menjadi panutan dan teladan semua umat manusia. Di mana Maria menjadi ibu bagi semua orang dan menjadi mama bagi segala bangsa-bangsa di dunia terutama bagi semua orang dari segala bangsa yang datang ke wilayah ini.

Kehadiran manusia dari segala bangsa ke Labuan Bajo selayaknya disambut dengan sukacita dan damai sejahtera. Untuk itu,ia meminta seluruh umat, pastor paroki dan segenap dewan pastoral paroki agar bekerjasama bahu membahu membangun umat Allah di wilayah ini baik di lingkungan paroki maupun dengan semua orang dari berbagai latarbelakang suku, agama, ras dan golongan.

Sementara itu, Ketua Panitia pembangunan gereja Paroki Santa Maria Bunda Segala Bangsa Wae Sambi, Agustinus Jik mengatakan, paroki Maria Bunda Segala Bangsa terdiri dari 6 wilayah, 24 komunitas basis dan total umat berjumlah 4.500 jiwa. Selain itu, di wilayah paroki terdiri dari 3 SD, 1 SMP, 3 SMA, 4 komunitas biara.

Sedangkan rata-rata umat bermatapencaharian sebagai petani sebesar 75 persen dan sisanya 25 persen terdiri dari pengusaha dan PNS.

Paroki Maria Bunda Segala Bangsa merupakan paroki yang ke-84 di bawah wilayah Keuskupan Ruteng. Gereja paroki Maria Bunda Segala Bangsa dibangun di atas sebidang tanah yang terletak di kawasan Wae Sambi, Labuan Bajo hak ulayat masyarakat adat yang beberapa tahun lalu telah diserahkan kepada pihak gereja Keuskupan Ruteng untuk dibangun gereja. (Kornelius Rahalaka)

Anak Muda Peduli Lingkungan, Berwisata Sambil Tanam Bambu di TWA Golo Lusang

Next Story »

Misionaris SVD Sumbang Gedung untuk Pesantren Walisongo

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *