Toleransi Antaragama: Belajarlah dari NTT

Umat Muslim, Kelurahan Bokasape membersihkan Gereja Hati Amat Kudus Wolowaru, Kec. Wolowaru, Kab. Ende  pada 31 Maret 2015. (Foto : FBC/Ian Bala)

Umat Muslim, Kelurahan Bokasape membersihkan Gereja Hati Amat Kudus Wolowaru, Kec. Wolowaru, Kab. Ende pada 31 Maret 2015. (Foto : FBC/Ian Bala)

Oleh : Charles Beraf

Tentang toleransi antaragama, NTT rupanya bisa menjadi ‘sekolah’. Di Larantuka, selama Semana Santa, saudara-saudara yang beragama Islam bertindak sebagai pengaman. Di Wolowaru, beberapa hari sebelum Perayaan Paska 2015, sekelompok muslimah terlibat dalam pembersihan gereja Paroki Wolowaru. STFK Ledalero setiap tahun mengirimkan satu atau dua frater untuk hidup dan belajar bersama para santri di Pesantren Walisanga, Ende.

Charles Beraf , Sekretaris International Students’ Association (ISA), University of the Philippines Los Banos, Filipina

Charles Beraf , Sekretaris International Students’ Association (ISA), University of the Philippines Los Banos, Filipina

Kenyataan-kenyataan hidup semacam itu selalu dijumpai hampir di seluruh wilayah NTT- suatu hal yang malah jarang ada di daerah lain di Indonesia. Di beberapa daerah lain di Indonesia, perbedaan agama barangkali tampak serupa api dalam sekam, kapan pun bisa menyulut konflik dan kekerasan. Namun di NTT, perbedaan agama adalah kekuatan. Agama-agama malah berfusi menjadi kekuatan yang berperan penting merekatkan, membangun dan menumbuhkan hidup persaudaraan.

Belajar dari NTT

Setiap agama, dalam arti tertentu, merupakan teks. Di hadapan teks itu, para penganut agama adalah pembaca dan penafsir. Dari teks itu, para penganut menimba atau memperoleh pengetahuan melalui pembacaan dan penafsirannya. Sebaliknya, tanpa upaya menimba dari teks itu, tidak hanya terpupuk ketidaktahuan (kebutaan) para penganut agama, tetapi juga teks itu kehilangan relevansi dan signifikansinya bagi penganutnya dan bagi konteks di mana teks itu berada.

Di tengah konteks yang plural dalam hal agama, seperti Indonesia, pengetahuan tentang agama adalah conditio sine qua non. Dari sudut pandang pascamodernisme, Filosof Hans-Georg Gadamer menyatakan bahwa setiap pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang agama tertentu adalah penafsiran dan semua penafsiran tergantung pada horison kita masing-masing. Dalam konteks yang plural, sangat mungkin muncul pelbagai horison. Namun pelbagai horison yang berbeda itu-antara teks dan penafsir, antara agama yang satu dan yang lain bisa difusikan dalam apa yang oleh Gadamer disebut fussion of horizons, peleburan horison.

Dalam fussion of horizons itu, makna dunia “aku” terlebur ke dalam dunia makna teks atau agama lain yang sangat berbeda. Dengan keterleburan itu, makna keduanya (“aku” dan teks atau agama) menjadi luas. Fusi ini terjadi melalui proses di mana makna mewujudkan diri atau muncul dari teks (atau yang lain) dan “aku” sebagai penafsir atau pembaca terklaim, bukan sebagai yang asing atau yang berjarak dari teks, tetapi yang dekat dan tahu tentang teks.

Dengan fusi atau peleburan ini, selain dimungkinkan terhindarnya catachonic error (kesalahan katakonik) atau logical fallacy terhadap penganut atau agama tertentu, juga terminimalisasi religious truth claim (superioritas keagamaan). Dengan fusi, seorang penganut agama tidak mudah mengadili agama tertentu dengan kategori asing serupa menerapkan aturan permainan bulu tangkis untuk sepak bola. Selain itu, dengan fusi itu juga, tak satu pun penganut agama merasa berhak mengklaim diri sebagai yang benar dan yang lain sebagai yang salah.

Konflik antaragama atau semakin memudarnya toleransi antaragama di beberapa daerah di Indonesia, hemat saya, berakar pada masalah belum ber-fusi-nya agama-agama atau belum ber-proses-nya agama-agama untuk menjadi kekuatan bersama. Kondisi ini malah semakin diperparah oleh kecenderungan banyak kaum elit (pemimpin) agama yang karena ketokohan dan pengaruhnya, di satu pihak menjadikan atribut agama sebagai komoditas kepentingannya dan di lain pihak, mempengaruhi para penganut agamanya yang nota bene amat minim pengetahuan agama dan ekonomi. Dengan itu massa agamanya dengan sangat mudah ‘dibakar’, disulut untuk terlibat dalam konflik antaragama. Hal lain, ketika terjadi hajatan politik Pilkada misalnya, orang cenderung melihat calon dari sisi agama mana – yang secara tanpa disadari memperkeruh bibit dan relasi konfliktual antaragama.

Hal belum ber’fusi’nya agama-agama itu, selain dikembalikan pada tanggung jawab masing-masing agama atau penganut agama, juga menjadi tanggung jawab negara. Negara perlu proaktif dan bertanggung jawab untuk terus membuka serta mengkawal kanal-kanal komunikasi yang memungkinkan agama-agama untuk berfusi. Hemat saya, demokrasi tidak lain adalah menjadi kesempatan bagi negara untuk menanamkan secara terus menerus pada warga apa yang oleh Paul Ricoeur disebut sebagai asketisme, yakni suatu sikap menenggang yang lain dengan mengabaikan di hadapan pihak yang lain kesewenangan dan kekuasaan (puissance) untuk mencegah yang lain. Ada dua prinsip yang bisa dipegang dari asketisme demokratis Ricoeur, yakni pertama, “Saya menenggang walaupun bertentangan dengan keinginanku, namun untuknya saya tidak memiliki kekuasaan untuk mencegahnya”, dan kedua, “ saya tidak menyetujui namun juga tidak menolak alasan-alasan yang membuat engkau hidup secara berbeda dari saya”(Ricoeur, 1996: 190). Dengan cara macam ini, dari waktu ke waktu, proses berfusinya agama-agama terus dimungkinkan dan dengan itu dari waktu ke waktu toleransi antaragama tumbuh subur di negeri yang amat plural ini.

Untuk hal ini, barangkali daerah lain perlu juga belajar dari NTT. NTT adalah sekolah tentang bagaimana agama(wan)-agama(wan) berfusi menjadi kekuatan positip bagi masyarakat. ***

Jembatan Palmerah dan Rindu yang Purnama

Next Story »

Aroma Mafia Anggaran di DPRD Manggarai dan Kecurigaan Publik

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *