Terbakarnya Kapal Ina Maria, Keuskupan Terima Sebagai Musibah

LARANTUKA, FBC- Hutan Bakau di pantai desa Sama Soge kecamatan Wotan Ulumado Flores Timur jadi saksi. Sebuah peristiwa tragis terjadi di pantai itu Kamis 30 April 2015. Orang-orang dengan wajah tegang berhamburan di hutan bakau itu. Sekitar empat puluhan orang. Di antaranya dua orang wisatawan asing dan empat orang anak-anak.

Bersamaan dengan itu, kepulan asap tumbuh dari hutan bakau itu. Asap itu terus membubung tinggi melewati bukit Botung pulau Adonara sehingga mudah ditangkap mata dari kota Larantuka di balik bukit itu. Selanjutnya, berita heboh itu menyebar cepat di Flores Timur dan Lembata bahkan merambah ke media sosial facebook mengabarkan peristiwa tragis itu.

Vigis, demikian nama pria asal pulau Lembata yang telah malang melintang di dunia pelayaran. Dialah kapten kapal cepat Ina Maria milik Keuskupan Larantuka. Dengan keberanian penuh, ia nekat belok haluan dan mendaratkan kapal yang dikemudikannya lengkap dengan para penumpangnya di tempat yang tidak semestinya dilakukan, di hutan bakau itu. Dalam benaknya tentu cuma satu, selamatkan para penumpang yang telah mempercayakan keselamatan diri mereka padanya dalam pelayaran itu.

Kapal cepat penumpang Ina Maria milik Keuskupan Larantuka rute Larantuka - Lewoleba PP saat terbakar di pesisir pantai perairan Tanjung Gemuk Adonara. ( Foto : Dokumentasi Polres Flotim )

Kapal cepat penumpang Ina Maria milik Keuskupan Larantuka rute Larantuka – Lewoleba PP saat terbakar di pesisir pantai perairan Tanjung Gemuk Adonara. ( Foto : Dokumentasi Polres Flotim )

Kapal Ina Maria, sebuah kapal cepat milik Keuskupan Larantuka yang telah kurang lebih tiga tahun melayani para penumpang di Flores Timur dan Lembata. Rute perjalanan kapal itu sejak awal tidak berubah. Pagi dari Larantuka ke Lewoleba dan sore dari Lewoleba ke Larantuka. Dan hari kamis 30 April 2015, berselang beberapa menit meninggalkan dermaga Larantuka, perjalanan kapal itu terhenti dan berakhir di hutan bakau pantai Sama Soge. Di pantai inilah, kapal cepat yang gagah dan lihai membelah ombak dan gelombang sepanjang pelayaran Larantuka ke Lewoleba PP itu berubah jadi bangkai hanya dalam hitungan menit.

Di luar dugaan! Tiba-tiba saja kapal itu terbakar. Kapten kapal akhirnya mendaratkan kapal yang sedang terbakar itu secara paksa ke atas rawa-rawa di sela-sela akar bakau. Para penumpangpun berhamburan keluar sebelum lida api meluluhlantakan kapal berbahan dasar fiber itu.

Hubungan Pendek

Ekonom Keuskupan Larantuka Pastor Rosarius Yansen Raring, Pr selaku wakil pihak pemilik kapal malang itu ketika dihubungi per telepon Jumat 1 Mei mengatakan, setelah mendengar kapal Ina Maria terbakar, pihaknya langsung terjun ke lokasi bersama aparat dari Polres Flores Timur dan mendapatkan informasi langsung dari kapten kapal itu di lokasi kejadian.

Sebagaimana biasanya, pagi itu pelayaran dimulai dari Larantuka. Para penumpang larut dalam suasana pelayaran pagi yang sejuk. Sambil menikmati sajian lagu-lagu, para penumpang disuguhi hembusan angin laut nan sejuk yang menyelinap masuk melalui jendela kapal yang sengaja dibuka. Pemandangan indah di sebuah selat bening antara tanjung gemuk di pulau Adonara dan hamparan pantai pulau Solor menambah nyamannya suasana pelayaran pagi itu.

Setelah kapal membelok di Tanjung Gemuk dan menghilang dari pemandangan arah Larantuka lalu melampaui kawasan budidaya mutiara di Oyang Baran, tiba-tiba para awak kapal dikejutkan oleh munculnya api di bagian atas dek kapal naas itu. Sumbernya dari sebuah generator yang berfungsi mensuplay energi untuk lampu, kipas angin, AC dan musik di kapal itu. Diduga telah terjadi hubungan pendek dari generatior itu.

Dijelaskan Romo Yansen Raring, berdasarkan keterangan yang ia peroleh dari kapten kapal bahwa setelah mengetahui adanya sumber api dari atas dek kapal, mereka berupaya memadamkannya. Namun upaya-upaya itu tidak membuahkan hasil. Pilihannya adalah selamatkan para penumpang dan membiarkan kapal itu dihanguskan api.

Menurutnya, dalam situasi darurat di atas laut itu, pilihan pertama adalah keselamatan para penumpang. Keputusan inilah yang telah diambil secara tepat oleh kapten kapal itu. Mengetahui kecilnya peluag untuk memadamkan api dan sulitnya mengevakuasi generator itu ke laut, maka ia nekat membelokkan haluan kapal itu menuju pantai, tepatnya di hutan bakau. Jalan keluar ini dilakukan secara sukses. Para penumpang berhasil diselamatkan walau ada yang dalam kondisi kejiwaan yang tertekan.

Terima Sebagai Musibah

Romo Yansen mengatakan, pihak Keuskupan Larantuka telah menerima kejadian ini sebagai sebuah musibah. “Kami tidak mempersalahkan siapa-siapa, apalagi mempersalahkan para awak kapal. Ini ,murni musibah. Tidak mungkin awak kapal melakukan kesengajaan. Kalau mereka mau bakar mengapa itu dilakukan di dalam perjalanan yang tentu merepotkan mereka juga”, demikian kata Romo Yansen Raring, Pr.

Pihak Keuskupan Larantuka selaku pemilik kapal ini justru berterima kasih kepada kapten dan para awak kapal karena telah melakukan keputusan yang paling tepat dalam situasi gawat itu. Mereka telah berhasil menyelamatkan empat puluhan jiwa manusia. Baginya, itu yang paling bernilai ketimbang menyelamatkan kapal. Hal ini yang menurut Rom Yansen menjadi catatan paling penting dalam membuat keputusan di saat-saat genting, yakni memilih yang paling penting.

Kepada Uskup Larantuka Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr,  Romo Yansen telah melaporkan bahwa kejadian ini murni musibah, bukan kesengajaan siapa-siapa. Hal yang sama juga ia sampaikan ke Polres Flores Timur.

Kerugian 1, 5 Miliar

Kepada Uskup Larantuka, Ekonom Keuskupan Larantuka ini telah membuat rincian laporan kerugian yang mencapai 1.5 miliar rupiah. Untuk diketahui, November 2014 silam, kapal ini mendapat perawatan dan penggantian empat buah mesin dengan nilai beli mencapai satu miliar lebih.

Selain kerugian dimaksud, dalam musibah ini pihak Keuskupan tanpa kesulitan mengaku dan bersedia mengganti sejumlah barang milik para penumpang. “Kami telah membuat keputusan untuk menghitung ganti rugi barang-barang milik para penumpang di luar tas pakaian para penumpang”, demikian katanya.

Para penumpang KM, Ina Maria saat dievakuasi di pelabuhan Larantuka. ( Foto : Dokumentasi Polres Flotim )

Para penumpang KM, Ina Maria saat dievakuasi di pelabuhan Larantuka. ( Foto : Dokumentasi Polres Flotim )

Ia merincikan, yang wajib diganti adalah empat buah sepeda motor milik penumpang yang tentunya dihitung berasarkan nilai ekonomi barang tersebut, sebuah televisi milik seorang pegawai bank yang mutasi dari Larantuka dan sejumlah HP. “Keuskupan akan melakukan perhitungan untuk mendapatkan nilai ganti ruginya”, kata Romo Yansen.

Romo Yansen Raring menjelaskan, kepada pihak yang mendonasikan kapal itu ke Kesukupan Larantuka pun, pihak Keuskupan telah memberikan penjelasan setelah musibah ini terjadi dan memahami juga bahwa ini murni musibah, bukan kesengajaan.

Kehilangan Sarana Angkutan Cepat

Yang disesalkan kini adalah kejadian itu sungguh membuat para penumpang di hari Kamis itu punya pengalaman buruk. Hal berikut adalah masyarakat  pengguna jasa transportasi laut jurusan Larantuka ke Lewoleba PP telah kehilangan sebuah sarana angkutan cepat. Diharapkan, kapal Fantasi Expres bisa mengatasi kekosongan rute perjalanan pagi dari Larantuka ke Lewoleba.

Ketika dikonfirmasi, Romo Yansen mengakui bahwa, manfaat paling besar dari pengelolaan kapal ini adalah pelayanan cepat kepada para penumpang. Keuntungan finansil urutan berikutnya. Jika menggunakan kapal kayu, kurang lebih dua jam waktu terbuang di laut. Kapal cepat ini membuat penghematan waktu dua jam bagi para penumpang.

Ia mengakui, dalam perhitungan pendapatan dan belanja Keuskupan yang Ekonom laporkan ke Dewan Keuangan tidak mencantumkan penerimaan dari kapal cepat Ina Maria. Sebab dari pengalaman, sekali perjalanan, kapal dengan kekuatan empat mesin itu menghabiskan 600 liter bensin. Dan jika dalam satu kali pelayaran hanya mengangkut 20 orang penumpang dari daya angkut 40-an orang dengan harga tiket Rp 100.000, maka defisit.

“Yang sangat saya utamakan adalah bagaimana agar kapal ini bisa membiayai diri sendiri dan melayani masyarakat yang membutuhkan perjalanan cepat”, kata Romo Yansen Raring, Pr. (Melky Koli Baran)

Syahbandar Larantuka Tak Bisa Larang Kapal yang Tidak Menerapkan Aturan

Next Story »

Pagelaran Seni Busana Sampah Daur Ulang

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *