Tekan Pengeluaran Masyarakat, Camat Pulau Ende Konsisten Berlakukan Kawasan Tanpa Rokok

ENDE, FBC-Camat Pulau Ende, Usman Husen mengatakan Kecamatan Pulau Ende memiliki sebuah peraturan tentang Kawasan Tanpa Rokok atau KTR yang sudah berlaku sejak tahun 2013. Peraturan ini berdasarkan gagasan tim Pencerah Nusantara (PN) dan Pemerintah tingkat Kecamatan dengan tujuan untuk mengurangi pengeluaran khusus untuk rokok.

Camat Pulau Ende, Usman Husen, S.H. saat ditemui FBC  di rumah jabatan (rujab) camat Pulau Ende. (Foto : FBC/Ian Bala)

Camat Pulau Ende, Usman Husen, S.H. saat ditemui FBC di rumah jabatan (rujab) camat Pulau Ende. (Foto : FBC/Ian Bala)

Hal ini disampaikan Camat Usman kepada FBC di rujab Camat, Pulau Ende setelah upacara bendera dalam rangka Hari Pendidikan Nasional pada Sabtu (2/5/2015). Beberapa area kawasan tanpa rokok diantaranya, area perkantoran, sekolah, area fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan pustu, Masjid atau Musholah, angkutan umum misalnya perahu motor dan ojek, tempat kerja, tempat anak bermain, tempat hajatan dan dalam rumah.

Camat Usman menjelaskan, KTR tersebut sudah berjalan sejak tahun 2013. Masyarakat disarankan untuk tidak merokok pada kawasan tersebut.

Ia mengatakan peraturan ini sebenarnya untuk mengatasi kesehatan masyarakat khususnya kepada anak-anak, dan perempuan. Selain itu untuk mengurangi angka pengeluaran pembelian rokok sehingga ekonomi masyarakat dapat meningkat.

“Masyarakat tidak protes, malah mereka menyambut baik. Dulu sebelum saya pindah ke sini, saya merokok. Adanya peraturan ini maka saya berhenti merokok. Saya juga bangga dengan peraturan ini, sehingga saya juga bisa hemat,”Kata Camat.

Dijelaskannya, peraturan itu hanya sekedar menyadarkan masyarakat untuk mengurangi rokok. Rokok merupakan salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap pendapatan keluarga. Oleh karena itu, ia menegaskan masyarakat wajib mentaati peraturan tersebut.

“Sanksi hanya berlaku bagi mereka yang buat hajatan. Jika tuan hajatan menyiapkan rokok maka kena sanksi. Yang siapkan rokok denda 500 ribu,”tegas Camat Usman.

Tidak Keberatan

Mochammad Sholehhudin (24) koordinator Pencerah Nusantara ke-3, kepada FBC di Pulau Ende (2/5/2015) menjelaskan rokok merupakan salah satu faktor penyebab kesehatan. Selain itu, rokok dapat menguras ekonomi keluarga yang mengakibatkan keluarga tetap miskin.

“Masyarakat menyambut baik dengan program ini dan sekarang banyak yang sudah berhenti merokok. Ini adalah pola yang kita lakukan untuk mengatasi kemiskinan. Ya, mereka justru bersyukur dengan adanya peraturan itu.”ujarnya.

Pencerah Nusantara atau sering disebut dengan PN tersebut sudah berjalan sejak tahun 2013. Mereka adalah tim Pencerah Nusantara ke-3 pada Tahun 2015, dan melanjutkan program kerja PN ke-1 pada tahun 2013 dan PN ke-2 pada tahun 2014. Program kegiatan Pencerah Nusantara lebih pada bidang kesehatan. Sebelumnya, tim Pencerah Nusantara melakukan studi kasus baik di masyarakat maupun di Puskeskam dan Pustu.

Dokter Yoze Rizal sedang memeriksa salah seorang pasien di Puskesmas Achmad Yani Pulau Ende. (Foto : FBC/Ian Bala)

Dokter Yoze Rizal sedang memeriksa salah seorang pasien di Puskesmas Achmad Yani Pulau Ende. (Foto : FBC/Ian Bala)

“Ini salah satu program PN. Sebelumnya kita studi kasus kemudian dianalisis dan dilakukan penyuluhan. Ya, alhaldulilah masyarakat menyetujui itu dan program ini sudah berjalan seperti biasanya,”kata Sholehhudin.

Dokter Yose Riza, selaku dokter umum Pencerah Nusantara mengatakan banyak masyarakat yang mengalami infeksi saluran pernapasan atau ispa. Menurutnya, selain dipengaruhi dari debu atau asapan kendaraan, ispa juga dipengaruhi dari rokok.

“Rokok sangat pengaruh saluran pernapasan. Banyak pasien yang mengalami infeksi saluran pernapasan. Maka dari itu kita adakan peraturan ini dan masyarakat sangat antusias.”kata dr. Yoze yang sudah tujuh bulan mengabdi di Puskesmas Achmad Yani Kecamatan Pulau Ende.

Ia menjelaskan peraturan yang dilakukan oleh Pemerintah didasari dari hasil pemeriksaan kesehatan di Puskesmas. Banyak masyarakat saat ini sudah mentaati aturan ini. “Peraturan itu dibuat setelah dilakukan studi kasus dan ternyata banyak yang mengalami ispa,”ujar dr. Yoze

Farizal, warga Dusun Tandjung, Desa Rendoraterua di kediamanya (2/5) menceritakan awalnya ia keberatan dengan peraturan tersebut. Setelah rutin mengikuti penyuluhan dari Tim Pencerah Nusantara, ia mulai sadar akan pengaruh rokok terhadap kesehatan.

“Awalnya saya tidak setuju. Tetapi karena setiap kali dengar penyuluhan dari tim PN, saya mulai sadar, sekarang saya sudah kurang rokok,”Ujar Farizal yang mengakui sebagai pecandu berat.

Setelah aturan tersebut ditetapkan, Farizal mulai menyadari akan pendapatan perharinya. Lelaki 37 tahun ini yang sehari-hari sebagai nelayan mulai mengurangi biaya rokoknya. Pendapatan yang dihasilkan kemudian ditabung untuk kebutuhan hidup keluarganya.

“Saya mulai tabung dan lumayan pendapatan saya. Sebelum-sebelum itu, saya rokok tiap hari 3 bungkus dan sekarang paling tinggi tiga batang. Saya mulai kurangi rokok dan saya berusaha aka berhenti total.”tutur Farizal. (Ian Bala)

Sekolah Wajib Membuat Kriteria Kelulusan Anak Didik

Next Story »

Empat Siswa Tuna Grahita Ikuti Ujian Ahkir

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *