Tambang Bisa Berakibat NTT Jadi Padang Gurun

KUPANG. FBC – Tambang yang sedang gencar dilakukan di sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) suatu saat nanti akan menjadikan daerah ini sebagai padang gurun.

Prof. Dr. Rizaldi Boer

Prof. Dr. Rizaldi Boer

“Kondisi NTT memang terbukti bahwa intensitas hujan sangat rendah atau sedikit ini diperparah dengan banyaknya aktifitas pertambangan yang tidak beraturan di NTT mengakibatkan NTT terancam menjadi daerah gurun pasir. Dan ada sejumlah daerah yang berpotensi menjadi gurun,” kata Direktur Eksekutif Center For Climate Risk and Opportunity Management in Sount Asia and Pacific (CCROM) Prof. Dr. Rizaldi Boer dalam kegiatan Training Jurnalis di Kupang, Senin, 4 Mei 2015.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan CCROM di NTT, kata Rozaldi, daerah yang terancam menjadi gurun yakni Sabu Raijua dan Sumba Timur, karena rendahnya curah hujan di daerah itu dan juga berpeluang di daerah lain yang sedang gencar melakukan tambang.

Proses pengurunan di NTT, jelas Rizaldi, sudah terlihat dari sekarang, karena rendahnya curah hujan di sejumlah daerah. Proses penggurunan itu terjadi, karena rendahnya curah hujan. Dimana, hujan yang jatuh jauh lebih kecil dari evakurasi air dari bumi ke atmosfir.

“Semakin besar perbedaan itu, maka semakin keringlah wilayah itu. Jika semakin kering, maka ada kemungkinan bisa menjadi gurun,” jelasnya.

Faktor lain yang ikut mendorong terjadinya penggurunan, katanya, yakni eksploitasi air tanah dan pembukaan lahan tambang. Faktor-faktor inilah yang juga menjadi penyebab terjadinya penggurunan.

“Air bawah tanah kalau terus diambil hutan akan lambat laun kering dan aka nada rongga yang bisa mengakibatkan penurunan tanah, Apalagi jika ada bangunan besar yang terus dibangun di atasnya,” kata Rizaldi.

NTT, lanjutnya, daerah yang relatif kering, sehingga evakurasi air sudah melebihi hujan yang ada. Karena itu, perlu adanya pemetaan lokasi pertambangan dan pemahaman akan perubahan iklim, sehingga bisa meminimalisir ancaman pengurunan itu. “Lokasi-lokasi tambang harus di petakan,” tegasnya.

Menurut Rizaldi, solusi yang harus dilakukan di daerah ini adalah memperbanyak embung dan waduk sehingga ada persediaan air yang cukup. Jika itu dilakukan secara baik dan cepat maka kebutuhan air bisa diatasi dan mengurangi pemakaian air bawah tanah.

Hal lainnya yang harus diperhatikan serius adalah harus ada pemetaan wilayah byang jelas bahwa ada daerah-daerah tertentu kegiatan pertambangan harus dilarang.

Dia mencotohkan, pada tahun 1956, seorang ahli tanah bernama Profesor Gobang telah mengingatkan pemerintah agar lahan di Porong , Sidoarjo, Jawa Timur tidak boleh dilakukan kegiatan pertambangan. Namu, peringatan Profesor ahli tanah itu tidak diikuti sehingga terjadilah bencana yang terus berlanjut hingga saat ini.

Rizaldi juga menjelaskan, saat ini di Indonesia ada sekitar 37 juta hektar lahan kritis. Kondisi ini memang sedang ditangani pemerintah untuk melakukan reboisasi dan penanaman kembali hutan. Lahan kritis ini terjadi akibat pemanasan global yang mengakibatkan ancaman ekosistem, cuaca menjadi semakin ekstrim dan sulit terdeteksi dengan baik serta bencana yang luar biasa ekstrim. (Oni)

Beberapa Siswa Mengundurkan Diri, Hari Pertama UN di Sikka Berjalan Lancar

Next Story »

TNI Telisik Daerah Potensi Teroris

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *