Sinergitas Desa Wisata dan Pelaku Pariwisata Dorong Paket Ekowisata Baru

Peserta pelatihan penyusunan paket wisata. (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Peserta pelatihan penyusunan paket wisata. (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

LABUAN BAJO, FBC- Innovative Indigenous Flores Ecotourism for Sustainable Trade (INFEST) bekerjasama dengan Indonesia Ecotourism Network (Indecon), Kamis (30/4/2015) menyelenggarakan pelatihan penyusunan paket wisata kawasan Flores umumnya dan Manggarai pada khususnya. Program pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing desa-desa di Flores teristimewa desa-desa dampingan dari kedua lembaga.

Program kegiatan ini juga bertujuan untuk membangun sinergitas antara semua stakeholders terutama desa-desa wisata dengan para pelaku pariwisata di Flores dalam rangka mewujudkan pembangunan pariwisata berbasis masyarakat.

Agus Wiyono dari Indecon menyatakan, kegiatan pelatihan penyusunan paket wisata kawasan Flores penting dilakukan agar pariwisata ke depan direncanakan secara baik sehingga tidak menimbulkan ketimpangan dalam pengembangan pariwisata di wilayah ini.

Menurut dia, program tersebut telah diresmikan oleh perwakilan Uni Eropa, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Indecon pada bulan April 2013 di Jakarta sebagai pelaksana kegiatan. Salah satu tujuan yang hendak dicapai yakni meningkatkan kemampuan bisnis wisata lokal, seperti pemandu lokal dan biro-biro perjalanan wisata setempat serta mendorong pemerintah daerah di setiap kabupaten untuk bersama-sama mengembangkan pariwisata.

Pada tahan 2014, INFEST bersama beberapa komunitas masyarakat di desa-desa dampingan telah berhasil menetapkan potensi alam dan kebudayaan yang pada akhirnya berhasil membuat paket-paket ekowisata baru.

Pengembangan paket ekowisata ini dibutuhkan untuk menarik minat wisatawan sehingga meningkatkan jumlah kunjungan dan lama tinggal di sutau destinasi disesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing desa dan dibarengi dengan peningkatan kapasitas masyarakat.

Kegiatan pelatihan penyusunan paket wisata kawasan Manggarai raya ini melibatkan antara lain Desa Liang Dara, Kecamatan Mbeliling, Komunitas adat Tado di Desa Nampar Mancing, Kecamatan Sano Nggoang, komunitas kebudayaan Wae Rebo di Kecamatan Satar Mese dan Cunca Wulang di Warsawe, Kecamatan Mbeliling. Pelatihan diawali dengan mempresentasikan beragam potensi pariwisata serta paket tour yang ditawarkan kepada pengunjung serta berbagai infrastruktur pendukung yang tersedia di komunitasnya masing-masing.

Martin Anggo dari Lembaga Pelestarian Budaya Wae Rebo sedang mempresentasikan paket wisata Wae Rebo. (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Martin Anggo dari Lembaga Pelestarian Budaya Wae Rebo sedang mempresentasikan paket wisata Wae Rebo. (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Ketua ASITA Manggarai Barat, Theodorus Hamun dalam sesi diskusi mengemukakan bahwa pelatihan penyusunan paket wisata sangat penting dilakukan demi sinergitas antara komunitas-komunitas lokal dengan para pelaku pariwisata juga untuk meningkatkan pelayanan maksimal kepada para wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi wisata.

Ia mengaku, pihaknya sudah mulai menyusun paket-paket penjualan wisata yang diawali dengan survey lokasi, penetapan harga jual, promosi dan berbagai prosedur standar yang harus dilakukan. Namun, di lapangan masih terdapat berbagai kendala dan hambatan.

“Beberapa tahun lalu, kami sudah menyusun paket-paket perjalanan wisata namun di lapangan hampir selalu menghadapi kendala dan persoalan,”ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai Barat, Sebastian Pandang. Dia menyatakan, kualitas sumber daya manusia terutama para pelaku wisata hendaknya terus menerus ditingkatkan kapasitas dan pelayanannya mengingat dunia pariwisata sering berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan kesiapan sumber daya manusia dalam memberikan pelayanan. Apalagi pada tahun 2016 Indonesia akan memasuki masyarakat ekonomi asia dan Afta yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan pariwisata di wilayah ini.

Untuk menghadapi era perdagangan global berikut berbagai konsekwensi yang akan diterima maka kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas dan penguatan kelembagaan serta peningkatan pelayanan mesti dilakukan.

Ia menyebutkan salah satu kelemahan yang dihadapi selama ini yakni belum adanya regulasi yang mengatur tentang kepariwisataan dan adanya tumpang tindih aturan main dalam pelaksanaan wisata.

“Ada salah kaprah tentang pariwisata. Manggarai Barat misalnya disebut sebagai leading sector pembangunan. Tetapi belum jelas bagaimana dan mulai dari mana membangun pariwisata,”tandasnya.

Sedangkan Martin Anggo dari Lembaga Pelestarian Budaya Wae Rebo menyebutkan, sejak Wae Rebo masuk sebagai salah satu warisan dunia oleh Unesco, banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara berkunjung ke wilayah itu.

Tingkat kunjungan yang semakin meningkat berdampak langsung pada peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat setempat. Meskipun demikian, ia mengaku beberapa persoalan dihadapi oleh warga setempat terutama soal etika dan tata aturan yang belum disusun atau diatur secara baik sesuai adat istiadat, budaya dan kearifan lokal sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda di kalangan masyarakat lokal.

Kondisi ini menurut dia berpotensi merusak dan meminggirkan nilai-nilai etis-spiritual yang selama ini dihayati dan dihidupi oleh masyarakat setempat.

Menanggapi fenomena ini, Getrudis Naus dari PT Getrudis Tour and Travel menyatakan, budaya lokal adalah nilai terpenting yang harus dihargai oleh para wisatawan. Setiap wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi wisata mesti diberitahu tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan demikian pula terkait dengan keamanan dan keselamatan para wisatawan.

Berangkat dari pengalaman, Getrudis mengisahkan ada pula wisatawan yang enggan didampingi oleh guide saat memasuki sebuah tempat wisata yang terkenal rawan. Dalam siatuai demikian, tidak ada salahnya bila pendamping melarang wisatawan tersebut bilamana ia tidak ingin didampingi.

”Kita berhak melarang wisatawan itu masuk ke lokasi wisata bila wisatawan itu tidak mau didampingi. Apalagi jika lokasi wisata itu sangat rawan kecelakaan,”tukasnya.

Kegiatan penyusunan paket wisata ini mendapat apresiasi puluhan peserta yang terdiri dari komunitas pengelola wisata di desa dan pelaku pariwisata seperti travel tour dan guide.

Peserta mengharapkan agar pelatihan dan penguatan kelembagaan kepariwisataan terus menerus dilakukan ke depan demi meningkatkan kapasitas dan sinergitas dalam memajukan pariwisata di wilayah ini. (Kornelius Rahalaka)

Buruh Pelabuhan Minta Perhatian Pemerintah Dan DPRD Lembata

Next Story »

183 TKBM Pelabuhan Laurens Say, Tidak Terdaftar di BPJS Kesehatan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *