Sikapi Perubahan, Baku Peduli Adakan Pelatihan Jurnalistik bagi Pelajar

Seorang peserta sedang melatih mewawancarai seorang nara sumber dalam kegiatan pelatihan jurnalistik bagi pelajar. (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Seorang peserta sedang melatih mewawancarai seorang nara sumber dalam kegiatan pelatihan jurnalistik bagi pelajar. (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

LABUAN BAJO, FBC- Ilmu jurnalistik bukan hanya menjadi milik para wartawan atau pekerja pers tetapi jurnalistik sudah harus menjadi pengetahuan umum yang dapat dipelajari oleh semua orang dan perlu mulai diajarkan di bangku sekolah.

Demikian juga, pada era globalisasi ini yang ditandai dengan perkebangan teknologi informasi yang kian maju maka dunia kewartawanan sudah saatnya harus dikembangkan terutama bagi para pelajar di sekolah-sekolah.

Aktivis LSM Baku Peduli, Edward Angimoy mengemukakan hal itu dalam kegiatan workshop bertema Jurnalisme Perubahan yang diadakan di Green Peace Hotel Labuan Bajo, Selasa (26/5).

Dikatakan, jurnalistik merupakan ilmu yang selalu hidup dan berkembang seiring dengan dinamika kehidupan sosial masyarakat. Kehadiran media massa baik cetak maupun elektronik atau media sosial lainnya terasa semakin penting dan sudah merupakan kebutuhan hidup manusia. Maka tak heran bila beberapa tahun belakangan ini, industri pers kian marak dan semakin banyak anak muda yang tertarik untuk menggeluti bidang profesi ini.

Antusiasme itu telah pula mendorong kemunculan sekolah-sekolah praktis kewartawanan baik formal maupun non formal. Tumbuhnya industri pers membuat media massa baru saling berlomba menyajikan informasi yang menarik kepada pembaca.

Namun harus diakui pula bahwa masih ada media massa yang melakukan penyimpangan aturan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya. Ada media massa yang memberikan atau menyiarkan berita tidak berdasarkan fakta atau bertentangan dengan kaidah hukum sehingga memunculkan berita bohong, mengandung fitnah dan hasutan. Ada pula media yang memunculkan pemberitaan jurnalisme “berselera rendah” yaitu mengemas berita gosip, sensasi yang sekedar asal laku dijual tanpa mempedulikan etika atau dampak negatif dan tentu saja tanpa mengiktui kode etik jurnalistik.

Fenomena jurnalisme yang kurang mengedepankan kualitas isi dan adanya penyimpangan-penyimpangan tersebut maka pendidikan dan pelatihan jurnalistik baik kepada para pekerja pers maupun calon jurnalis muda seperti para pelajar perlu dilakukan. Para calon jurnalis atau wartawan muda serta penulis pemula perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan mengenai dunia jurnalistik.

Para peserta workshop jurnalisme perubahan di Labuan Bajo (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Para peserta workshop jurnalisme perubahan di Labuan Bajo (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Kegiatan workshop bertema jurnalisme perubahan ini diadakan selama tiga hari dengan melibatkan para pelajar se-kota Labuan Bajo. Peserta kegiatan merupakan utusan dari sekolah menengah tingkat atas se- kota Labuan Bajo dan sekitarnya.

Kegiatan workshop diisi dengan teori dan praktek lapangan seperti pengetahuan tentang dasar-dasar jurnalistik, teknis penulisan berita stright news dan feature serta in depth news, teknik wawancara, etika wawancara, teknik investigasi, penulisan feature, kode etik jurnalistik dan foto jurnalistik.

Selain itu, para peserta juga diperkenalkan dengan beragam jurnalisme seperti jurnalisme perang atau kekerasan, jurnalisme damai, jurnalisme alternative, jurnalisme advokasi, jurnalisme sastra dan jurnalisme perubahan atau transformasi sosial.

Kegiatan ini bertujuan antara lain, mendorong kepekaan peserta atau calon jurnalis terhadap berbagai persoalan social yang terjadi di sekitarnya dan berusaha menyampaikan informasi kepada masyarakat atau publik melalui media massa. Pendidikan dan pelatihan ini juga bertujuan menanamkan sikap hidup yang mengedepankan nilai-nilai etika dan moral serta tata karma dalam pergaulan serta memupuk rasa empati, solidaritas, rela berkorban dan tanggungjawab moral dan sosial.

Sementara itu, Ketua Divisi Riset dan Publikasi Yayasan Sunspirit, Kris Bheda Somerpes menyatakan, media massa harus menjadi mata dan hati bagi publik. karena itu media massa bukan hanya sekedar mengungkapkan fakta atau suatu peristiwa tetapi media massa dan wartawan dituntut untuk memiliki tanggung jawab moral terhadap kebenaran informasi serta harus bisa mendorong adanya perubahan sosial ke arah yang lebih baik dan sejahtera.

Dalam menghadapi konflik kepentingan misalnya, media massa harus bisa mengidentifikasi berbagai pihak yang terlibat dalam pertikaian, meluruskan isu-isu yang tidak benar serta mengungkapkan akar permasalahan yang mungkin terkait dengan sejarah, psikologis sosial maupun budaya. “Peranan media massa adalah mengungkap fakta tanpa menyulut isu melainkan lebih kepada pencarian solusi,”ujarnya.

Media massa bukan sekedar sarana untuk pemuatan pesan dan informasi belaka. Namun media massa harus menjadikan suatu peristiwa menjadi berita yang menarik bagi pembaca dan menimbulkan empati seperti dengan menekankan bahwa kekerasan hanya membuahkan kesengsaraan. Oleh karena itu suara-suara korban kekerasan lebih harus ditonjolkan ketimbang kepentingan kelompok elite. Media massa juga harus bisa memuat pemberitaan yang seimbang, tidak bias gender dan bisa memberi empati khususnya kepada anak-anak dan perempuan serta korban kekerasan. Media massa harus menjadi saluran komunikasi dalam pemecahan konflik. Jurnalisme perubahan menjadi roh yang mendorong perubahan sosial.

Kegiatan yang diikuti puluhan pelajar ini, selain mempelajari hal-hal bersifat pengetahuan umum jurnalistik, mereka juga diajari hal-hal teknis seperti mencari dan meliput berita, penulisan berita, teknik dan etika wawancara, teknik investigasi, penulisan berita mendalam dan feature serta pelatihan fotografi jurnalistik.

Selain kegiatan in class para peserta juga melakukan praktek lapangan. Peserta ditugaskan untuk meliput berita terkait sejumlah isu atau peristiwa actual yang terjadi di Manggarai Barat. Mereka diterjunkan ke sejumlah titik lokasi untuk melakukan peliputan sesuai dengan tema masing-masing peserta seperti isu tentang masalah air bersih, infrastruktur publik dan fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Hasil liputan para jurnalis muda akan diterbitkan dalam bentuk majalah atau bulletin. Para peserta akan membentuk sebuah komunitas jurnalis pelajar yang secara rutin melakukan kegiatan-kegiatan jurnalistik ke depan seperti pendidikan dan pelatihan jurnalistik, penerbitan karya jurnalistik baik melalui media massa yang ada maupun publikasi hasil karya para peserta. (Kornelius Rahalaka)

Polres Flotim Lakukan Sweeping Senjata

Next Story »

Kasus Dugaan Pemalsuan Dokumen Memenuhi Syarat untuk Diproses Hukum

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *