Sail Komodo 2013, Adakah Pengaruhnya Hari Ini?

Oleh:  Kanis Lina Bana

Setelah dua tahun Sail Komodo berlalu, “adakah berkah yang terbersit dari hajatan ‘pembabtisan’ hewan purba Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia? Adakah nilai plus bagi masyarakat NTT umumnya dan masyarakat lokal Manggarai Barat khususnya?

 Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Pertantayaan ini terkesan melankolis. Mungkin sebagian orang menilai pertanyaan ini terlalu rada cengeng, gila dan buat-buat. Bisa juga ada yang ngelantur, “ko mau repot-repot, tidak mau urus diri saja!” Yang lebih ekstrim mungkin begini, “jangan shock perhatian, itu urusan pemerintah bukan urusanmu. Tahu dirilah!”

Sah-sah saja apabila ada yang menilai seperti itu. Itu haknya. Sebab setiap orang punya hak yang sama untuk omong. Tergantung kepentingan di baliknya. Dan saya yang menukilkan sebait kegelisahan di atas bukan karena ada kepentingan ekonomi atau politik, tetapi samata-mata setitik akhlak bening yang bergetar agar ‘mutiara Komodo’ berdampak luas bagi masyarakat lokal. Bukan sebaliknya, masyarakat lokal jadi penonton menyaksikan adegan serakah yang diperankan oknum-oknum berkuasa dan berduit. Seharusnya, merasa naif bila masyarakat lokal hanya sebatas ‘atribut’ pembungkus kebusukan-kebusukan kaun borjois serakah tak bermartabat.

14 September 2013 lalu di Labuan Bajo sana menggeliat, hiruk-pikuk menyihir mata dunia. Wisatawan asing dari berbagai penjuru dunia datang ke ujung barat Pulau Flores ini. Sedikitnya wisatawan dari 47 negara, 127 kapal pesiar sandar di bibir pantai Labuan Bajo. Tidak termasuk wisatawan yang datang menggunakan transportasi udara dan darat. Jumlahnya tak terbilang. Labuan Bajo benar- benar seksi, jadi buah bibir, menyedot perhatian dan menggedor hasrat. Labuan Bajo di tahun 2013 itu adalah ‘magnet akik’ baru di dunia pariwisata NTT.

Tidak mengherankan, sambutan begitu hangat-meriah. Laut sangat teduh, ombak pecah memelas. Buih-buih ombak hilang di cela bebatuan dan pasir putih. Peristiwa hari itu beda dan istimewa. Direstui leluhur, alam bersahabat menyapa wisatawan yang datang. Demikian pun prosesi-prosesi lain yang syarat muatan budaya sungguh menijtakkan kepuasan. Kerja keras selama berbulan-bulan menuju puncak perayaan tidak sia-sia. Semuanya sukses. Wisatawan puas, kita pun puas.

Karena itu meski ‘ritual’ Sail Komodo menghabiskan uang miliaran rupiah dalam sekejab bukan soal. Yang penting acaranya lancar, Komodo pun mengglobal. Terkenal menembus batas-batas belahan dunia. Harapan tersebut tergapai. Kesan pertama selama prosesi Sail Komodo memang sangat menggoda.

 Alam Surgaku

Rahim Manggarai Barat memiliki potensi pariwisata yang luar biasa.
Alam lingkungan laut, trumbu karang indah memesona. Di daratan ada gua batu cermin, batu susun dan Verhoven. Ada pupulasi burung aneka satwa di hutan Mbeliling, komunitas ular di Welak, air terjun, danau Sananggoang dan fosil Warloka. Potensi ini diperkaya lagi dengan warisan tradisi yang masih terpelihara rapi jali.

Memang dari sekian banyak kekayaan pariwisata di Manggarai Barat, satwa langka di Pulau Komodo dan Rinca yang paling kesohor dan dikenal publik secara luas. Merek pariwisata Manggarai Barat ada di sana sehingga mencuri perhatian wisatawan bukan hanya menjelang puncak acara Sail Komodo, 14 September 2013 lalu, tetapi sejak 19 Desember 1991. Saat itu UNESCO menetapkan binatang reptil raksasa nan ganas itu sebagai salah satu warisan dunia. Komodo dan Rinca pun jadi incaran wisatawan sebelum ke tempat lain.

Sayangnya, pemerintah Kabupaten Manggarai saat itu belum mekar jadi Kabupaten Manggarai Barat kurang serius mengelola potensi tersebut. Pemerintah tahu akan potensi itu tapi seolah-olah belum tahu, tidak mau tahu atau pura-pura tidak tahu sehingga jangankan berpikir dan bertindak melalui alokasi anggaran menyiapkan fasilitas pendukung, melirik pun tidak. Makanya Komodo kala itu hanya terkenal bagi orang luar, sedangkan bagi warga tanah ‘asalnya’ masih malu-malu untuk tidak dikatakan cuek.

Borok Luka

Peran masyarakat lokal ‘digusur’ pergi sejak pembentukan panitia Sail Komodo dirancang. Masyarakat lokal kurang mendapat ruang dan kesempatan. Hanya segelintir orang yang terlibat, itu pun sebatas pelengkap. Yang bersifat koheren merangsang kemajuan sosial dan ekonomi tidak menjadi obsesi utama. Padahal sasaran utama Sail Komodo dikemas menjadi “wah..” sebagai jembatan emas NTT menuju destinasi utama pariwisata dunia. Ikutannya jelas berkorelasi lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat lokal. Karena itu peran masyarakat dibangun sejak dini, melibatkan masyarakat lokal dalam kegiatan yang bersentuhan dengan pariwisata itu. Yang dipelihara selama ini justru ruang rakyat disingkirkan-dinggarong. Proses marginalisasi jadi virus masif yang terstruktur.

Memang belum jadi takaran. Sebab Sail Komodo baru dua tahun berlalu. Dari segi durasi waktu masih amat sejengkal sehingga bias-biasnya masih hangat terasa. Masih segar dalam layar ingatan kita. Tetapi nuansanya sudah menor nan miris. Kepentingan ekonomi tercabik-cabik, keutuhan lingkungan tercemar, pemerintah belum serius urus lokasi wisata, penguasaan tanah dan halaman umum oleh pihak tertentu sulit dihindarkan. Ini borok luka yang ditetaskan setelah Sail Komodo itu berlalu. Bukan panen raya keberhasilan yang diperoleh masyarakat lokal, tetapi jerit tangis hingga air kering yang dirasakan. Seperti membenarkan nas ini “mete larut malam, bangun pagi-pagi. Sia-sialah saja para pembangun bekerja!”

Andaikan Pater Marselinus Agot, SVD,  bersama teman-teman aktivis lingkungan tidak ngotot, Pantai Pede jatuh ke tangan perorangan bukan mustahil. Beruntung aliran protesnya kencang sehingga lahan itu luput dari penggarong. Warga masih bisa leluasa menikmati panorama senja di pantai itu. Melepas lelah ketika penat bekerja. Mengaso sambil berujud ujud pada Dia di atas sana.

Alam Pantai Pede lebih memihak rakyat jelata agar bisa meracik harap, meraih nasib di tengah pengembaraan hidup ini. Alam tidak akrab dengan penguasa serakah. Ia lebih dekat mesra dengan warga jelata.

Sama-Sama Rasa

Sesuai data terdapat 162 pulau di wilayah Manggarai Barat, 13 pulau diantaranya sudah berpenghuni. Selebihnya masih kosong. Tercatat pula tiga pulau yakni, Bidadari, Kanawa, dan Sebayur sudah dikuasai Ernest Lewandoskia, Stefano Plaza dan Mr Ed untuk kurun waktu 25-30 tahun. Bahkan satu diantara tiga orang pengusaha asing ini sudah mengantongi Izin HGU sejak tahun 2001. ( Bdk (Tempo. Co, 11/2/2015). Bila tiga pulau sudah terjangkau investor, maka ancaman terhadap pulau lain bukan mustahil. Lokasi strategis mulai jadi target.

Seturut kegelisahan yang diwarta-sharingkan aktivis lingkungan dan anak-anak Manggarai yang kini menjadi misionaris ke luar negeri tercium aroma tak sedap terkait pariwisata di Manggarai Barat.

Pertama, adanya tegangan kepentingan antara target pendapat asli daerah dengan pemberdayaan masyarakat lokal yang endingnya masyarakat lokal dikorbankan. Karena itu dalam perspektif pembangunan masyarakat maka pepemberdayaan masyarakat lokal menuju kesejahteraan rakyat menjadi pilihan utama. Dalam pemberdayaan masyarakat lokal itulah daerah memperoleh PAD-nya.

Kedua, iklim pariwisata di Manggarai Barat belum sampai pada titik aman. Di mana imbas dari skenario yang dimainkan dunia usaha pariwisata cukup apik dan solid sehingga Manggarai Barat hanya menjadi salah satu obyek kunjungan wisata bukan tujuan wisata. Indikatornya bisa kita lihat ada kapal layar wisatawan yang datang ke Labuan Bajo menikmati keindahan alam wisata setempat tetapi menginap dan istrahat di tempat lain. Skenario ini menguntungkan pihak lain. Daerah dan masyarakat lokalnya tidak berdampaka. Menyikapi hal ini maka. Yang perlu kita ciptakan adalah iklim dan dinamika kepariwisataan yang efektif dan ekonomis.

Caranya pemerintah setempat dan pelaku usaha perlu promosi terus menerus dan membangun jejaringan yang kuat dengan pengelolaan wisata antar daerah maupun antaranegara.

Daerah perlu belajar mekanisme kerja dunia kepariwisataan di Bali. Di sana jejaringan sudah sangat kuat dan pemberdayaan civil society-nya sudah mapan. Peranan masyarakat dengan segala hierarki adatnya sungguh diperhatikan. PAD dan ekonomi masyarakat lokal sama-sama dapat imbasnya karena ruang gerak dan kontribusi terhadap perkembangan pariwisata dikemas dalam nuansa kebersamaan semua stakeholdersnya. Pendek kata pariwisata di Bali selalu dalam spirit ini, ada kerja sama dan sama-sama kerja. Hasilnya pun sama-sama rasa.

Sementara di daerah kita peranan tiga stakeholders belum kelihatan adil dan berimbang karena kepentingan. Civil society selalu pada posisi tawar yang lemah. Padahal alam raya dan potensi yang ada di wilayah kita adalah harta bersama yang dinikmati bersama pula. Hindari monopoli.Jangan ada dusta diantara kita. Stop tipu-tipu. ***

Menghadirkan Semangat Guru Lembata Tempo Dulu

Next Story »

Pemilukada Manggarai, Untuk Apa?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *