Cegah Konflik Warga Lewonara dan Lewobunga

Polres Flotim Lakukan Sweeping Senjata

MAUMERE, FBC - Aparat kepolisian resort Flores Timur (Polres Flotim) akan kembali melakukan sweeping senjata tajam dan sejata rakitan di kedua desa Lewonara dan Lewobunga kecamatan Adonara Timur, kaubaten Flores Timur, menyusul aksi yang hendak mengakibatkan bentrok, Minggu (24/05/2015).

Sebelumnya, Senin (25/05/2015), Polres Flotim  sudah melakukan sweeping senjata, dimana dalam sweeping tersebut ditemukan senjata tajam dan 5 senjata api rakitan.

Warga desa Bele mendatangi kantor Polsek Adonara Timur meminta agar senjata rakitan dan senjata tajam yang disita aparat keamanan untuk dikembalikan. (Foto : Bernard Nara Gere )

Warga desa Bele mendatangi kantor Polsek Adonara Timur meminta agar senjata rakitan dan senjata tajam yang disita aparat keamanan untuk dikembalikan. (Foto : Bernard Nara Gere )

Polres Flotim menghimbau kepada warga kedua desa agar menyerahkan senjata yang dimiliki secara sukarela kepada aparat keamanan dengan tenggang waktu 48 jam. Jika hal ini tidak dilakukan, maka aparat keamanan akan melakukan sweeping kembali Kamis (28/05/2015) dan bagi yang kedapatan memilikinya akan diproses secara hukum.

Hal ini disampaikan Kapolres Flotim, AKBP Dewa Putu Gede Artha,SH,MH kepada FBC yang menemuinya,Selasa ( 26/05/2015). Dikatakan kapolres Gede Artha, kejadian yang hendak berujung bentrok terjadi Minggu ( 24/05/2015 ) sekitar pukul 17.00 wita dan berlangsung hampir satu jam namun anggota kepolisian cepat berada di lokasi sehingga kontak fisik bisa dicegah.

“ Anggota langsung membagi diri dan menghalau dua belah pihak. Jika aparat kepolisian terlambat, kemungkinan kedua kubu sudah melakukan kontak fisik dimana masing-masing kubu sudah mempersenjatai diri dengan senjata tajam dan senjata rakitan “ jelasnya.

Dari sweeping yang dilakukan pihak kepolisian lanjut Gede Artha, polisi menyita puluhan senjata tajam dan 5 senjata api rakitan yang dimiliki kedua kubu. Pemicu terjadinya konflik demikian Gede Artha, masih terkait persoalan tanah yang sama seperti sebelumnya. Penyelesaiannya lanjut Gede Artha masih belum menemui kata sepakat sebab kedua kubu masih bertahan dengan keinginan masing-masing.

“ Soal kepemilikan tanah sengketa ada yang berdasarkan hak ulayat, penuturan sejarah, penguasaan dan sertifikat. Persoalan ini pun belum bisa diselesaikan sebab ada yang meminta diselesaikan secara adat tapi ada yang menuntut diselesaikan secara hukum “, ungkapnya.

Untuk wilayah Adonara sambung Kapolres Gede Artha, terus terang saja penyelesaian kasus tanah agak rumit. Pihak kepolisian tuturnya,  hanya berfungsi melaksanakan pengamanan, perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat. Untuk itu tambahnya, pihak kepolisian lebih fokus kepada bagaimana agar bisa mencegah konflik itu terjadi dan tidak meluas.

Menahan Diri

Kasubag Humas Polres Flotim, Iptu Erna Romakia yang ditemui FBC, Rabu (26/05/2015) menyebutkan aparat keamanan yang diterjunkan ke lokasi konflik berjumlah 157 orang terdiri  dari Brimob, aparat Polres dan Polsek sementara dari TNI AD meliputi aparat komando raiyon militer ( koramil ). Brimob Maumere sebanyak 85 personil sementara dari Polres 41 personil dan Polsek Adonara Timur berjumlah 17 personil. Aparat Koramil yang diperbantukan sebanyak 14 personil.

Senjata api rakitan yang disita aparat keamanan saat sweeping usai konflik antara warga desa Lewobunga dan Lewonara. ( Foto : Bernard Nara Gere )

Senjata api rakitan yang disita aparat keamanan saat sweeping usai konflik antara warga desa Lewobunga dan Lewonara. ( Foto : Bernard Nara Gere )

Pihak kepolisian dalam hal ini Kapolres Flotim terang Erna, sering turun ke lokasi kedua desa dan selalu melakukan pendekatan agar masyarakat tidak bertikai kembali.

Sejak kejadian awal tahun 2012 jelas Erna, kapolres Flotim selalu berusaha melakukan pendekatan secara kekeluargaan tetapi tugas selanjutnya berada di pihak pemerintah untuk melakukan mediasi dan mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai.

“Kedua belah pihak diharapkan untuk menahan diri,  tidak melakukan tindakan anarkis sambil menunggu penyelesaian masalah tanah tersebut,“ himbaunya.

Di lokasi konflik sambung Erna, aparat keamanan mendirikan dua buah pos penjagaan dan selalu melakukan patroli. Dalam patroli tersebut demikian Erna, bila ditemukan ada masyarakat yang bergerombol maka aparat akan melakukan komunikasi dan pendekatan guna menghimbau masyarakat menghindari konflik.

“ Situasi saat ini sudah kondusif dan aparat keamanan akan tetap berada di lokasi. Jika kondisi sudah membaik, aparat keamanan akan ditarik dari lokasi konflik,“kata Erna. ( ebd )

Studi Kelayakan Bandara Adonara, Pemprov NTT Alokasikan Rp. 1.1 Miliar

Next Story »

Sikapi Perubahan, Baku Peduli Adakan Pelatihan Jurnalistik bagi Pelajar

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *