Polda NTT Simpulkan Tolis Ruing dan Bence Terlibat Dalam Kasus Laurens Wadu

LEWOLEBA, FBC- Setelah memeriksa sejumlah saksi dan tersangka, Kepolisian Daerah (Polda) NTT memperoleh pentunjuk kuat, kalau Antonius Loli Roing, alias Tolis dan Petrus Urbanus P. Ruing terlibat dalam kasus pembunuhan berencana dengan korban Aloysius Laurentius Wadu. Informasi penting Polda NTT itu memaksa sejumlah pihak untuk angkat bicara, mereka mendesak Polisi untuk segera menangkap dan menahan dua saudara sepupu itu.

Informasi penting Polda NTT yang dimaksud adalah  yang disampaikan Kepolisian Daerah (Polda) NTT melalui surat nomor R/105/XII/2014 pada 5 Desember 2014 dan dikutip Komnas HAM-RI dalam surat bernomor 1.358/K/PMT/IV/2015 tertanggal 6 April 2015, surat Komnas HAM RI yang ditandatangani Komisioner Dianto Bachriadi itu ditujukan kepada Pastor Mikhael Pruhe, OFM, Koordinator Koalisi Penak Keadilan dan Kebenaran (KPK2), sebagai salah satu Ormas yang mengadvokasi kasus pembunuhan Laurens Wadu. KPK2 berkedudukan di Jakarta.

Tersangka Antonius Loli Ruing (kaos bergaris) dalam kawalan polisi dalam rekonstruksi di TKP, tahun 2014 silam. (Foto FBC/Yogi Making)

Tersangka Antonius Loli Ruing (kaos bergaris) dalam kawalan polisi dalam rekonstruksi di TKP, tahun 2014 silam. (Foto FBC/Yogi Making)

Pater Mikhael Pruhe saat dikonfirmasi melalui kontak telepon Rabu (20/5/2015) menjelaskan, sekitar bulan Februari tahun 2014 silam, KPK2 melayangkan surat pengaduan kepada Komnas HAM RI yang isinya meminta Komnas HAM RI untuk mendesak Polda NTT mengusut tuntas kasus pembunuhan Aloysius Laurentius Wadu. Setelah menerima surat KPK2, Komnas HAM menidaklanjuti dengan menyampaikan desakan kepada Polda NTT.

Melalui surat kepada KPK2 Komnas HAM mengatakan, kesimpulan penting Polda NTT itu diambil setelah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan tersangka kasus pembunuhan Laurens Wadu dan menyita sejumlah barang bukti.

“Ada tujuh poin penting dalam surat itu, salah satu poinnya menyatakan bahwa, berdasarkan pemeriksaan terhadap para saksi dan tersangka serta barang bukti yang telah disita, penyidik Polda NTT mendapat petunjuk bahwa telah terjadi pembunuhan berancana yang dilakukan oleh tersangka saudara Antonius Loli Ruing dan saudara Petrus Urbanus P. Ruing terhadap korban Aloysius Laurentius Wadu,” kata Pater Mikhael Pruhe, mengulang penjelasan surat Komnas HAM.

Sebagaimana berita FBC sebelumnya, Tolis dan Bence ditangkap pada Sabtu 2 November 2013 dan resmi menjadi tahanan dengan status tersangka sejak Minggu 3 November 2013. Kisah penangkapan dua saudara sepupu pada sabtu petang itu, bermula dari pengakuan tersangka Marsel Welan, Yohanes Liko Ruing alias Nani dan Arifin Maran dalam sidang di Pengadilan Negeri Lewoleba. menurut mereka, Tolis dan Bence ada di TKP ketika eksekusi Loaurens Wadu terjadi. Anehnya setelah menjalani 120 hari masa tahanan, Tolis dan Bence kembali di lepas Polisi dengan alasan belum cukup bukti.

Pater Mikhael Pruhe, OFM koordinator KPK2, dalam sebuah kesempatan di Lembata (Foto FBC/Yogi Making)

Pater Mikhael Pruhe, OFM koordinator KPK2, dalam sebuah kesempatan di Lembata (Foto FBC/Yogi Making)

Terkait lepasnya dua tahanan ini, Koordinator KPK2 Mikhael Pruhe mengatakan, Polda NTT dalam suratnya kepada Komnas HAM juga menjelaskan alasan tersendatnya penanganan perkara kematian Laurens Wadu.

“Lalu dilanjutkan dalam poin ke empat, dikarenakan keterangan para tersangka lain yaitu, Saudara Marselinus Suban, Yohanes Liko dan Rofinus Ratuloli Maran selalu berubah-ubah sehingga jaksa penuntut umum masih menunggu hasil Kasasi dari tiga tersangka diatas untuk dijadikan dasar dalam merumuskan berkas perkara dengan tersangka Antonius Loli Ruing dan Sdr. Petrus Urbanus P. Ruing,” kata Pruhe.

Sesuai surat yang dia terima, Pastor yang aktif dalam advokasi masalah kemanusiaan ini mengatakan, empat terpidana masing-masing Marselinus Suban Welan, Rofinus Ratuloli Maran, dan Yohanes Liko yang di vonis penjara 20 tahun penjara serta dan Vincen Wadu, dengan hukuman penjara seumur hidup adalah pelaku kelompok kedua yang dilibatkan dalam kasus kematian Laurens Wadu. Sementara, jelas dalam rumusan surat Polda NTT, pelaku utama dalam kasus pembunuhan adalah Tolis dan Bence.

Dalam kontak telepon itu, Pater Mikhael Pruhe, OFM juga mengatakan, setelah mempertimbangkan berbagai hal, dia memilih untuk harus menyampaikan informasi penting ini melalui media massa. Karena menurutnya, indikasi rekayasa dalam kasus ini sudah tercimum sejak awal, sehingga penting bagi publik Lembata tahu bahwa kasus ini belum selesai dan terus dikawal berbagai pihak, agar kasus ini diusut sampai tuntas.

“Bahwa kasus ini adalah persoalan publik maka sekecil apapun informasi, publik perlu tahu. Denga itu kita kawal bersama serta membangkitkan kembali semangat perjuangan bahwa kita belum selesai dengan kasus kemanusiaan yang satu ini,” tegasnya.

Desak Polisi

Dalam kontak telepon itu, Pater Mikhael Pruhe, OFM juga menjelaskan, Kendati Komnas HAM sudah menerima surat Polda sejak akhir tahun 2014, namun baru melanjutkan pemberitahuan ke pihaknya selaku Ormas yang menyampaikan pengaduan. Untuk itulah, informasi ini baru dia buka ke media massa.

Disamping itu, menurut imam katolik asal Mulandoro, Kecamatan Wulandoni itu kasus Laurens Wadu adalah masalah kemanusiaan yang menyita perhatian publik lembata, karenanya walau terlambat, namun dia memilih untuk sebaiknya informasi itu di buka agar publik tahu, kalau kasus ini belum selesai.

Informasi yang disampaikan KPK2 ini, direktur Lembaga Bantuan Hukum Lembata Nusantara (LBH Lontar) Juprians Lamabelawa saat di konfirmasi di Lewoleba, Rabu (20/5/2015) ikut mendesak polisi untuk segera menangkap dan menahan Tolis dan Bence. Tindakan hukum itu layak diambil guna menghindari hal-hal negatif lain sebagai dampak ikutanya.

“Yah, kalau Polda NTT sudah berkesimpulan demikian, maka LBH Lontar mendesak supaya Polisi segera tangkap dan tahan Tolis dan Bence. Kasus ini harus di buka kembali dan jangan biarkan siapapun yang di duga terlibat membunuh Lorens Wadu berkeliaran,” tegas Jupri.

Sementara itu, Koordinator Aliansi Keadilan dan Kebenaran Anti Kekerasan (Aldiras) Kor Sakeng melalui kontak telepon dari Jakarta beberapa saat setelah FBC mengkorfimasi Juprians Lamabela mengatakan, alasan belum di P21nya berkas perkara Tolis dan Bence oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak masuk akal. Pasalnya penanganan kasus ini di duga syarat rekasaya. Disamping itu para terpidana masing-masing Marsel Welan, Yohanes Liko Ruing, Arifin Ratuloli Maran dan Vincen Wadu, disiksa polisi ketika menghadapi pemeriksaan di hadapan penyidik Polres Lembata.

Terlibat atau tidaknya empat terpidana itu dalam kasus pembunuhan Laurentius Wadu, tidak berarti kasus ini didiamkan dan tidak lagi dilanjutkan pembuktianya, sebab sebagaimana pengakuan Marsel Welan, Yohanes Liko Ruing, Arifin Ratuloli Maran, tidak hanya Tolis dan Bence, namun ada lima nama lain yang disebut empat terpidana itu dihadapan Hakim Pengadilan Negeri Lewoleba. Dengan kesimpulan penyidik Polda NTT itu, Kor Sakeng juga mendesak Polisi untuk segera menangkap dan kembali menahan Bence dan Tolis untuk selanjutnya di proses hingga ke persidangan.

“Sebagai Ormas yang sejak awal sudah terlibat mengadvokasi kasus ini, saya berterimakasi kepada Polda NTT atas kesimpulan pemeriksaan. Dan karena itu, Polres Lembata wajib menindaklanjuti hasil pemeriksaan Polda NTT dengan segera menangkap dan menahan Tolis dan Bence,” pungkas Sakeng. (Yogi Making)

Validasi Data Penting untuk Tentukan Kelompok Sasaran Bantuan

Next Story »

Pelajar SMAN IX Rana Mese Tewas Gantung Diri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *