Penyaluran Raskin di Sikka, Banyak yang Tidak Tepat Sasaran

MAUMERE, FBC – Sebagian besar penyaluran beras untuk rakyat miskin (Raskin) di kabupaten Sikka tidak tepat sasaran. Hal ini disebabkan banyak kebijakan dari kepala desa yang tidak betul misalnya, raskin dibagi rata bagi semua warga desa. Kepala desa beralasan, kalau banyak kegiatan di desa yang tidak terlaksana sebab masyarakat tidak mau terlibat dalam kegiatan di desa.

Fadli Achmad, Kepala Seksi Pelayanan Publik Badan Urusan Logistik ( Bulog ) Sub Divisi Regional Maumere. (Foto / FBC/ Ebed de Rosary)

Fadli Achmad, Kepala Seksi Pelayanan Publik Badan Urusan Logistik ( Bulog ) Sub Divisi Regional Maumere. (Foto / FBC/ Ebed de Rosary)

Fadli Achmad, Kepala Seksi Pelayanan Publik Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional Maumere mengatakan hal itu kepada FBC yang menemuinya, Senin (27/04/2015). Dikatakan Fadli, seharusnya camat ikut kontrol biar tahu apakah raskin tersebut tepat sasaran atau tidak. Paling tepat camat yang mengawasi sebab sebut Fadli, camat merupakan atasan langsung dari kepala desa dan bisa mengambil tindakan bila melihat adanya penyimpangan dalam penyaluran raskin ke masyarakat.

“Kalau ada pejabat di atasnya yang kontrol, tentunya kepala desa dan aparatnya tidak berani melakukan penyimpangan dalam penyalurannya,“ ujarnya.

Menurut Fadli yang baru setahun bertugas di Maumere ini, hingga kuartal ketiga di bulan April 2015 sudah 59 persen raskin yang didistribusikan atau 1.778. ton 850 kilogram. Jumlah ini sebutnya, sudah melebihi kuota yang didistribusikan per bulannya. Setiap bulan bulog harus mendistribusikan raskin sebanyak 332 ton 550 kilogram bagi 22.170 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar 160 desa dalam kabupaten Sikka.

Setelah mengambil data penerima raskin di Bagian Ekonomi Sekretaris Daerah (Setda) kabupaten Sikka, kepala desa melakukan penyetoran dana ke bank yang ditunjuk dan mendatangi gudang bulog membawa bukti penyetoran dana di bank dan data penerima. Harga beras yang harus dibayarkan di bulog sebesar 1.600 rupiah per kilogramnya dimana setiap kepala keluarga mendapatkan jatah raskin sejumlah 15 kilogram.

Kantor Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional Maumere di jalan Sudirman Maumere. (Foto : FBC / Ebed de Rosary)

Kantor Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional Maumere di jalan Sudirman Maumere. (Foto : FBC / Ebed de Rosary)

“ Kami yang mengantar dan mengawalnya sampai ke tempat tujuan di desa. Tidak ada pengeluaran dana untuk transportasi. Saat sampai di desa pun ada penandatanganan berita acara penyerahan barang,“ sebutnya.

Fadli menuturkan, banyak masyarakat yang dimintai uang lebih oleh kepala desa, tapi itu mungkin dana untuk transportasi dari tempat pendistribusian di desa hingga ke rumah penduduk. Tapi jika masyarakat yang datang sendiri ke tempat pembagian raskin, maka tegas Fadli seharusnya kepala desa tidak boleh melakukan pungutan dana lagi.

Saat ditanyai FBC, kendala apa yang dialami Bulog saat pendistribusian, Fadli mengatakan bahwa cuaca dan medan yang sulit dilewati truck, apalagi saat hujan.Selain itu pendistribusian ke pulau-pulau juga sering terhambat saat musim angin dan hujan dimana tidak ada kapal yang mengantarnya.

Menjawab pertanyaan FBC mengenai desa yang penerima raskinnya paling rendah, Fadli menyebutkan desa Koting C yang hanya 6 KK disusul desa Koting D dengan 8 KK. Yang paling banyak penerima raskinnya beber Fadli yakni desa Reroroja 558 KK berikutnya desa Paga 519 KK serta desa Egon 502 KK.

Beras yang didistribusikan ke desa beber Fadli, jumlahnya sesuai kuota sehingga saat ada komplain beras berkurang merupakan resiko aparat desa sebab saat penimbangan mereka memakai timbangan yang tidak ditera. Bahkan ada yang memakai alat takar rantang atau wadah lainnya. Bila jumlahnya berkurang, tegas Fadli, Bulog tidak mungkin menambahnya meski sering diminta kepala desa dengan alasan beras susut di mobil.

“ Raskin ini kan untuk kesejahteraan masyarakat miskin jadi pranata desa harus menjalankan dengan lebih bijak dan menjaga agar diberikan kepada orang yang tepat dan jangan disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau golongan,” pintanya.

Terkait operasi pasar Fadli menambahkan, tahun 2015 ini Bulog Maumere baru sekali melakukannya di bulan Februari dimana terjual 125 ton beras. Sementara untuk gula pasir tutur Fadli, Bulog hanya menjual murah 11 ribu rupiah per kilogram.

Penjualan gula pasir lanjutnya, tergantung harga gula di pasaran. Kalau harganya tinggi maka banyak yang membeli di Bulog. Stock beras dan gula tetap ada untuk 3 bulan ke depan sebut Fadli, dan jika sudah mau habis Bulog minta stock lagi. ( ebd )

183 TKBM Pelabuhan Laurens Say, Tidak Terdaftar di BPJS Kesehatan

Next Story »

Untuk Sekolah Anak-anak Jangan Patah Semangat

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *