Penguasa Jangan Alergi Kritik

Oleh : Sumardi

Dalam demokrasi, kehadiran oposisi adalah keniscayaan. Mengabaikan eksistensinya sama halnya dengan menolak keberadaan demokrasi itu sendiri.

Sumardi, Ketua DPD PKS Manggarai Barat

Sumardi, Ketua DPD PKS Manggarai Barat

Jika ada kekuasaan yang memerintah, maka sah pula kehadiran kekuatan oposisi untuk mengoreksi kebijakan yang tidak pro rakyat.

Di Amerika, Inggris, Australia dan beberapa negara penganut demokrasi lainya, kehadiran kekuatan oposisi telah menjadi pranata demokrasi yang penting, yang membuat demokrasinya semakin matang dan bermartabat.

Sebaik apa pun demokrasi dibangun selalu ada potensi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), dan bisa bertindak kesewenang-wenangan. Pada titik inilah urgensi hadirnya kekuatan oposisi sebagai kekuatan penyeimbang untuk mengawasi jalannya pemerintahan.

Tidak ada yang perlu khawatir dengan kehadirannya dan bahkan mengharamkanya jika suatu negera menisbatkan dirinya sebagai negara penganut demokrasi.

Kehadiran kekuatan penyeimbang dalam demokrasi bukanlah dipahami sebagai kekuatan yang merong-rong kekuasaan. Keberadaan kekuatan oposisi haruslah dipahami sebagai kekuatan penyeimbang yang mengawas dan mengontrol kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

Kehadiran oposisi dalam pemerintahan setidaknya akan berdampak positif sehingga melahirkan kebijakan-kebijakan yang pro rakyat. Distribusi kekuasaan yang digagas John Lock dengan trias politika nya, mengharuskan kehadiran kekuatan penyeimbang dalam menjalankan kekuasaan.

Penguasa tidak mesti alergi kritik. Penguasa semestinya apresiasi atas kritikan yang konstruktif. Kritikan pasti ada yang sangat pedas, yang kadang membuat telinga penguasa ikut panas. Tapi tidak kemudian penguasa, orang-orang di sekitrnya dan tim sukses-nya kebakaran jenggot, dengan melakukan langkah-langkah ofensif menyerang lawan sembari berkelit diri.

Pada titik inilah, penguasa mesti berevaluasi diri, membenahi semua kekurangan yang ada dengan tidak melempar tanggung jawab kepada orang lain.

Diantara kelemahan rezim orde baru adalah ketika rezim represif itu meniadakan kekuatan oposisi, ketika ada yang kritis dengan kebijakanya maka seenaknya ia libas.

Yang kita khawatirkan adalah kekuasaan yang enggan untuk diawasi dan dikontrol. Kita tidak bisa bayangkan jika suatu daerah yang menganut sistem demokrasi enggan untuk dikoreksi dan dievaluasi.

Flores (Harus) Bangkit

Next Story »

Azizah, Harga Diri dan Perjumpaan Potensi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *