Pendidikan di Flores, Cara Misionaris

Oleh: Kanis Lina Bana

Potret pendidikan kita ibarat cermin retak. Wajahnya compang-campng penuh borok luka. Jangankan urusan kurikulum yang ruwet, berbelit-belit , pengadaan fasilitas serba minim dan tidak adil, juga orientas arah pendidikan yang selalu suram. Akibatnya output pendidikan kita tanpa spesifikasi, tidak mampu berkompetisi dalam meraih lapangan pekerjaan. Yang ada cuma sekadar atribut dengan sejumlah gelar panjang yang dibanggakan, bukan kualifikasi dan kapabiltas diri. Akibatnya, yang tampak ke hadapan kita kualifikasi jati diri antara yang bertitel dengan non titel beda-beda tipis. Sistem pendidikan kita tak ubahnya mencetak manusia penganggur berdasi. Mekanisme sistem pendidikan kita selalu dalam dogma ini; semuanya bergantung pada bandul politik pejabatnya. Mau dibawah ke mana suka-sukanya pejabat.

 Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Setiap kali pengantian Menteri Pendidikan, anak bangsa ini mulai cemas dan was-was. Guru-guru, orang tua murid dan anak didik adalah komponen manusia yang paling kentara merasakan langsung pahit getirnya arah kebijakan pendidikan kita ini. Apakah wajah pendidikan kita harus begini terus? Kemanakah derap arah pendidikan kita sebenarnya? Mendesakkah restrukturisasi sistem pendidikan kita? Waow…..Meminjam Ebiet G Ade, semuanya menggeleng, semuanya terdiam. Semuanya menjawab tak mengerti. Yang ada dan kita rasakan kini, morat-marit, kembang kempis, oleng tak ada arah yang jelas. Semuanya tergantung Jakarta sana.
Roh Misionaris

Misionaris asing yang pernah bermisi di Indonesia umumnya dan Flores khusunya pernah meletakkan sistem peradaban pendidikan yang memadai. Setiap anak yang memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata didorong agar mengenyam pendidikan sesuai kemampuannya. Artinya pada tingkat formal pendidikan di semua jenjang bertujuan mengasah kemampuan dasar itu sehingga pada akhirnya berhasil menjadi individu yang berkapasitas. Karena itu di setiap daerah misinya selalu menyiapkan dua lembaga berbeda, formal dan non formal.

Sistem pendidikan dasar dan menengah binaan misionaris itu pada hakikatnya membina akhlak anak, mendresur anak terpikir kritis, logis, analitis dan afirmatif, menemukan bakat, minat dan kadar intelektualitasnya. Pada tataran ini isi otak, alur logika setiap anak dicermati, diseleksi secara baik dan ketat. Jika sudah berhasil mengidentifikasi kemampuan intelektualitas masing-masing anak maka tugas berikutnya adalah merekomendasi anak itu ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sesuai kemampuan yang ada itu.

Sedangkan anak yang isi otaknya pas pas saja, tetapi memiliki keterampilan lain yang unggul maka orientasi pendampingannya fokus pada keterampilan tersebut. Misalnya, seorang peserta didik memilki bakat pada bidang bangunan maka anak tersebut diarahkan masuk lembaga kursus pertukangan-bengkel kayu dan bangunan.

Orientasinya jelas jadi pekerja bangunan yang terampil dan bertanggung jawab. Tidaklah berlebihan jika manusia-manusia Flores yang pernah merasakan jamahan tangan misionaris asing pasti unggul dan berkapasitas. Mampu bersaing di level manapun. Pokoknya siap tempur dengan kapasitas yang tidak diragukan lagi.

Sekadar contoh. tukang bangunan di Flores yang paling tenar dulu adalah alumnus kursus Ambaks didikan misi. Di bidang lain, alm. Frans Seda, alm. WZ Yohanes, Ben Mboi, alm. Damian N Toda, Ignas Kleden, Yan Riberu dan beberapa orang lainnya adalah sebagian generasi manusia NTT yang pernah merasakan sentuhan pendidikan misi para misionaris itu. Maka tidak heran mereka-mereka itu jadi individu yang disegani di semua level kehidupan sosial. Pikiran dan gagasannya jadi refensi bagi kebijakan publik. Gagasan mereka cemerlang. Idenya segar ditunjang spiritualitas kepribadian yang utuh. Memiliki kapasitas diri dan intelektual yang handal. Tak ada lagi keraguan pada mereka.

Namun kisah kejayaan metode pendidikan ala misionaris itu hilang pergi bersama pamitnya mereka dari negeri kita ini. Yang tertinggal hanya lembaga-lembaga pendidikan khusus jadi imam atau rohaniawan. Yang lainnya tak berbekas lagi.. Andaikan roh itu tetap berhembus dalam sistem pendidikan kita niscaya kita adalah manusia unggul, beradab dan bermartbat. Manusia-manusia yang berbudi pekerti luhur. Manusia yang memiliki kadar intelektual memadai. Manusia militan yang tidak gampang tergiring dalam lembah naif seperti kolusi, korupsi dan nepotisme yang menggurita di mana-mana di republik ini. Kita tidak repot urus kurikulum yang selalu melahirkan persoalan di atas persoalan.

Dosa Kebijakan

Beberapa waktu lalu dunia pendidikan kita ditampar persoalan pergantian kurikulum baru, kurikulum 13 atau K 13. Penerapan K 13 ini merupakan pergantian dari kurikulum berbasis kompetensi (KTSP) yang berlaku sebelumnya.

Meski K 13 merupakan produk hukum sebelum Anis Baswedan menakodai Menteri Pendidikan RI, namun mau tidak mau, suka atau tidak suka produk hukum tersebut harus dilaksanakan. Persoalan muncul di sekolah-sekolah. Membias ke mana-mana karena sumber daya manusia pelaku dan penerima K 13 itu sendiri belum siap. Kesulitan bukan saja pada tataran implemnetasinya, tetapi mulai dari level pemahaman kurikulum itu sendiri masih jadi soal. Masih asing. K 13 tidak lebih dari produk asing dan aneh. Seperti indah rupa dari langit.

Meski untuk menerapkan K 13 didahului pelatihan dan pendidikan bagi sejumlah guru dan pejabat penting di daerah, persoalan tetap saja mengekor. Format penilaian dan evaluasinya tumpang tindih diperparah lagi dengan pemahaman yang masih serampangan dan terpotong. Konsentrasi dalam tataran implementasinya terbela antara metode pengajaran dengan format penilaiannya. Jadinya tidak fokus.

Demikian pada anak didik itu sendiri. Terjadi gep yang lebar antara peserta didik di Jakarta dengan daerah-daerah. Apalagi di wilayah Indonesia Timur yang selalu tersingkir dari segala bentuk intervensinya. Anak didik di Jawa sekembalinya dari sekolah formal akan diperkaya lagi melalui kursus dan pelatihan atau privat khusus. Sedangkan peserta didik di Indonesia Timur sekembalinya dari sekolah akan berhadapan dengan pekerjaan lain; bantu orang tua, cari kayu api, jaga adik-adik, masak dan urus ternak. Kesenjangan inilah yang menyebabkan penerapan K 13 belum menyeluruh dan tepat sasar.

Memang, bila mencermati muatan yang terkandung dalam K 13, sebenarnya tidaklah lebih istimewa bagi lembaga peninggalan misi dulu. Bagi yang pernah mengenyam pendidikan seminari sudah biasa dengan metode pendidikan K 13 itu. Sudah dari dulu sistem pendidikan di lembaga pendidikan calon imam menerapkan metode itu. Sudah jadi tradisi dan wajib bagi anak didik untuk mampu menemukan, merumuskan dan mengekspresiakan gagasannya.

Jadi bagi lembaga seminari, K 13 hanyalah atribut dan legalitas formal sebuah kurikulum. Sedangkan penerapannya sudah berlaku sejak lembaga itu didirikan Jadi, mengasah kemampuan intelektual, kepribadian utuh dan manusia berkualitas di lembaga seminari bukanlah hal baru. Inti proses pendidikan di sana selalu mengarah pada manusia yang beriman, bertakwa dan berintelektualitas.

Terlepas dari sejumlah soal, kita memberi aplaus kepada Mendiknas, Anis Baswedan. Sosok yang syarat pengalaman di lembaga pendidikan ini, cerdas membaca gelora kegelisahan para pendidik dan peserta didik. Ia memutuskan menundah penerapan K 13 dan hanya berlaku bagi sekolah unggul dan contoh saja. Sekolah lain kembali ke laptop alias KTSP.

Diberlakukannya kembali ke Kurikulum KTSP produk tahun 2006 di sekolah-sekolah pasca penundaan K 13 bukanlah final. Bukan pula karena K 13 dinilai gagal. Sesungguhnya jadi masa jedah sambil mempersiapkan seluruh perangkat dan instrumennya sehingga ketika K 13 diberlakukan lagi tidak menjadi shok bagi guru-guru dan anak didik.

Manusia Transhuman

Secara normatif hakikat semua bentuk pendidikan di lembaga formal termuat dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal 3 menyebutkan tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendek kata, dalam bahasa yang lebih sederhana tujuan pendidikan adalah membentuk insan manusia yang memiliki bobot dan cita diri komprehensif dan berguna. Citra manusia yang cerdas secara emosional, sosial, intelektual dan kinestetis. Manusia yang beriman, bertakwa, memiliki spiritualitas keadaban, berbudi pekerti luhur dan spesifikasi pengetahuan dan keterampilan. Opsi tersebut sudah diperjuangkan sejak awal kemerdekaan bangsa kita.

Karena itu, meski penerapan K 13 masih tarik ulur, tetapi tetap menjadi salah satu perangkat menuju sasaran hakikat pendidikan itu sendiri. Formulasi formulasi baru sistem pendidikan ala K 13 berorientasi pada titik sasar membentuk jati diri manusia yang transhuman sebagaimana dimaksudkan Teolog Postreligius, Robert T Tyler.

Namun sejarah selalu berkata lain. Dunia pendidikan kita masih berkutat dengan kurkulum “kutu loncat’ sehingga terkesan ambivalen. Berubah-ubah seturut salera perut pejabat. Semestinya cita-cita besar itu berjalan berkesinambungan, terukur dan tepat sasar. Jangan jadikan sistem pendidikan kita sebatas program-program yang menteren dan membingungkan.

Memanusiakan manusia adalah cita-cita agung kita bersama. Bukankah demikian Pa Anis Baswedan? Jangan bikin yang aneh-aneh Pa Menteri. Lurus saja seperti cita-cita faunding father bangsa ini. Belajar juga dari lembaga bikinan misionaris itu. Mudah-mudahan.

Dengarkan Pihak Lain!

Next Story »

UN, “Jujur” atau “Jor-Joran” ?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *