Suster Cypriana, CIJ:

“Meraih Mimpi, Mengabdi pada Panti”

“Panggilan untuk menjadi seorang pengasuh bukan sebuah keputusan yang mudah bagi setiap pribadi. Kadang orang berpikir pekerjaan demikian sangat sukar dan membosankan, apalagi mengurus anak-anak di panti asuhan. Padahal, kebaktian tersebut merupakan karier yang mulia bagi umat manusia bila ditilik dari lubuk hati yang terdalam.”

ITULAH ungkapan hati dari Pimpinan Panti Asuhan Naungan Kasih, Ende, Suster Cypriana, CIJ kepada saya, saat berkunjung ke panti asuhan yang beralamat di Jalan Eltari, Ende. Beliau memiliki pengalaman sendiri di panti tersebut baik suka maupun duka.

Selama dipercaya sebagai pemimpin dari Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ) pada tahun 2011, ia benar-benar merasakan baktinya kepada anak-anak panti asuhan. Impian besar untuk mengalami langsung suka duka anak-anak lantaran menyerahkan diri sepenuhnya untuk melayani pun terwujud sejak itu. Dengan cara demikian, menurutnya, makna kehidupan adalah sebagai pelayan terhadap sesama manusia. Bagaimana Suster Cypriana berbela rasa kepada sesama? Berikut petikan wawancara dengannya, beberapa waktu lalu:

Apa yang mendorong Anda mengabdi di panti asuhan ini?

Awalnya saya merasa terpanggil dan secara pribadi saya merasa sangat prihatin terhadap kehidupan anak-anak lebih khusus anak-anak yatim piatu dan anak-anak yang ditinggalkan kedua orang tua mereka. Hal ini, bermula saya rasakan saat saya menjadi guru di Lembata. Saya sangat prihatin dengan mereka dan saya mempunyai rasa sendiri dan impian besar saya untuk mengasuh mereka. Motivasi lain, ketika saya berkunjung ke beberapa panti di tanah air, anak-anak itu selalu datang dan memeluk saya. Mereka mengira saya adalah orang tuanya. Mulai saat itu, secara spontan saya menangis bila bertemu anak-anak yang tidak memiliki orang tua. Kadang saya berefleksi, bagaimana kalau diri saya pada posisi mereka. Saya sangat sedih dengan kondisi mereka.

Bagaimana pengalaman Anda selama memimpin Panti Asuhan Naungan Kasih?

Banyak yang saya alami di sini sejak tahun 2011. Suka dan duka itu sudah menjadi hal yang biasa bagi saya. Awalnya, saya menyesuaikan diri dengan anak-anak dari bayi usia dua minggu hingga anak-anak usia dewasa. Perjalanan penyesuaian itu cukup lama, karena harus menyesuaikan dengan stabilitas emosional kita sebagai orang dewasa. Apalagi bertemu dengan anak-anak yang bukan dari keluarga sendiri. Memang secara manusiawi memiliki ego itu, tetapi saya optimistis bertekad menjalani impian saya. Puji Tuhan, karena mempunyai niat dari lubuk hati, saya terus menahan diri untuk memelihara, mendidik, dan mengawasi mereka sampai saat ini.

Apakah Anda mengalami kesulitan? Bagaimana mengatasinya?

Kesulitan itu sepertinya menjadi sesuatu yang tak terhindarkan di panti asuhan ini. Khususnya bagi 56 orang anak panti. Berbagai tantangan harus saya terima dan saya jalani. Kami pernah alami hal yang sangat pahit. Pernah kami tidak memiliki makanan kurang lebih selama seminggu. Kami hanya pikirkan makanan untuk anak-anak khusus bayi dan usia balita. Saya usaha minta bantuan dari saudara-saudara keturunan Tionghoa untuk membantu susu dan makanan balita. Puji Tuhan, mereka bantu kami itu. Untuk kami para pengasuhnya hanya rebus ubi dan pisang dari hasil kebun kami.

Suster Cypriana dan anak-anak panti asuhan yang dirawatnya. (Foto: FBC/Ian Bala)

Suster Cypriana dan anak-anak panti asuhan yang dirawatnya. (Foto: FBC/Ian Bala)

Nah, itu tantangan yang kami alami, dan saya merasa bahagia melalui tantangan itu. Belum lagi, ada ibu-ibu datang ke panti dan meminta makanan dari kami. Saat itu, kami benar-benar kesulitan. Makanan sisa sedikit, lalu saya mulai bingung. Mana pikirkan anak-anak di panti, mana lagi saya pikir ibu-ibu yang minta bantuan dari kami. Kami beri mereka (ibu-ibu) ubi dan pisang. Kami hanya berdoa, semoga kami mendapatkan bantuan dari orang. Do’a kamipun terkabul, selang beberapa hari kemudian banyak orang yang datang mengantar makanan ke panti. Kami merasa bersyukur, belas kasih Tuhan sangat besar untuk kami. Sering anak-anak menangis karena lapar. Saya kadang menangis mengalami kondisi seperti ini. Anak-anak biasa panggi saya “mama kami lapar”. Saat itu air mata saya jatuh. Saya benar-benar merasakan itu. Kesulitan lain, misalnya pakaian sekolah. Kadang anak-anak pergi sekolah tidak mengenakan sepatu. Ya, itu yang kami alami disini. Kami pengasuh biasanya kurang tidur karena kami harus menjaga mereka siang dan malam. Masing-masing kamar dilengkapi dengan tempat tidur dan kasur. Setiap kamar ada pengasuh untuk menjaga dan mengawasi pada malam hari. Ya, kadang kami tidak tidur dan menjaga mereka.

Kegiatan apa saja yang dilakukan di Panti Asuhan Naungan Kasih?

Ada banyak kegiatan keterampilan yang kami ajarkan kepada anak-anak. Misalnya, untuk anak-anak usia di atas tujuh tahun, kami ajarkan untuk memasak, mencuci, menyapu dan sebagainya. Kegiatan lain misalnya mengajar anak untuk berdoa, menulis, membaca, menyanyi. Kami mempunyai kebun, dan anak-anak kita ajarkan ke kebun. Latih mereka untuk menanam dan membersihkan kebun. Kalau anak-anak tingkat SD, SMP dan SMA biasanya setelah pulang sekolah mereka membantu kami menjaga bayi dan balita. Mereka sudah anggap biasa seperti adik-adik mereka. Kasih sayang mereka terhadap anak-anak sangat luar biasa. Kami juga biasa ajak mereka untuk rekreasi di pantai dan jalan-jalan ke tempat wisata rohani, ke gua Maria dan tempat-tempat rekreasi lainnya.

Dari manakah biaya pendidikan anak-anak ini?

Memang benar biaya pendidikan anak semuanya kami biayai. Semua pembiayaan tentu saya selaku pimpinan panti yang pikirkan baik tingkat SD, SMP, SMA maupun di Perguruan Tinggi. Selain kami yang usahakan, ada juga donatur, dan keluarga anak yang membantunya. Kecuali untuk anak-anak yatim piatu itu murni kami usahakan. Sebagian anak tingkat SD, SMP dan SMA ada yang mendapatkan bea siswa dari dana BOS. Sebagian yang lain juga kami biayai dan saya berupaya untuk lobi ke orang-orang yang peduli dengan anak-anak ini dan mereka mambantui. Kami bersyukur dengan berbagai kalangan donatur yang sudah membantu kami dalam pembiayaan pendidikan anak. Mereka (donatur) sangat aktif. Yang agak sulit pembiayaan dalam panti misalnya makanan dan pakaian anak. Kadang orang-orang muda seperti OMK datang membawa pakaian bekas untuk anak-anak. Ya, kami bersyukur itu.

Untuk menjaga kesehatan anak, bagaimana caranya?

Untuk kesehatan anak, kami tetap berusaha menjaga agar anak tetap sehat. Selain mendatangkan dokter dan tim kesehatan dari rumah sakit, cara lainnya adalah kami lebih memperhatikan tentang nutrisi anak lebih khusus untuk bayi dan anak usia di bawah lima tahun. Setiap bulan, kami mengundang dokter dan bidan untuk memeriksa kesehatan anak. Para dokter dan bidan biasanya memeriksa secara gratis tanpa dipungut biaya. Mereka juga mengetahui keadaan dan kondisi kami di panti dan mereka ikhlas melayani kesehatan anak. Obatan-obatan biasa diberikan secara gratis. Pada umumnya, anak-anak di sini sehat-sehat. Mereka hanya mengalami sakit akibat perubahan cuaca seperti batuk, pilek, dan flu. Tapi itu kami bisa atasi dengan obat-obatan yang ada.

Apakah Anda menginginkan mengabdi di panti selamanya?

Ya, tentu saya menginginkan itu. Saya lebih termotivasi dengan keadaan ini dan saya sangat meyakini jika saya mengabdi di sini selamanya. Saya sama sekali tidak keberatan, justru saya menginginkan demikian bahwa berbicara tentang pelayanan, saya kira saya bisa menjalani dengan kesungguhan. Saya sama sekali tidak memiliki upah, bagi saya upah itu ada di tangan Tuhan. Jika kita melayani sesama manusia dari lubuk hati, percaya upah kita akan besar di surga dan saya lebih meyakini itu. Itu mungkin nanti berurusan dengan Tuhan, tetapi sebagai pelayan manusia saya berpegang teguh untuk tetap melayani dengan apa pun kondisinya. Miskin sekali pun saya percaya bahwa berkah Tuhan Maha Besar. Saya merasa puas ketika anak-anak berhasil di kemudian hari dan itu adalah tekad kami di sini.

Pernahkah keluarga anak mengunjungi dan apa pendapat mereka?

Keluarga pernah mencari anak mereka di sini. Mereka datang menjenguk dan membawa makanan buat kami dan anak-anak. Mereka juga merasa prihatin dengan anak-anak mereka di sini, tetapi mereka merelakan anak mereka dididik, dipelihara di panti. Keluarga anak juga menginginkan setelah anak usia dewasa bisa kembali ke keluarga. Kami di sini juga merelakan itu, jika keluarga meminta anak untuk kembalikan ke tengah-tengah keluarga. Kami di sini sangat profesional dan tugas kami untuk melayani sesama manusia.

Anak-anak penghuni Panti Asuhan 'Naungan Kasih' di Jalan El Tari, Ende. (Foto: FBC/Ian Bala)

Anak-anak penghuni Panti Asuhan ‘Naungan Kasih’ di Jalan El Tari, Ende. (Foto: FBC/Ian Bala)

Apakah ada perhatian dari pemerintah?

Pihak pemerintah pun aktif memperhatikan kami di sini baik makanan maupun tenaga kerja. Ada juga tenaga di sini yang berasal dari dinas sosial. Mereka dibiayai untuk membantu kami. Pemerintah cukup memperhatikan kami dan kami mensyukuri itu. Selain pemerintah juga ada beberapa donatur yang peduli terhadap anak-anak di sini. Ada yang bawa makanan dan pakaian untuk anak-anak. Kami sangat terbuka untuk siapa saja yang peduli dengan anak-anak yatim piatu dan anak-anak yang tidak mampu. Ada juga beberapa para turis yang datang menjenguk kami di sini. Mereka menghibur anak-anak dengan bernyanyi, menari, dan memberikan sumbangan kepada anak-anak. Ya, kami bersyukur ada orang yang masih peduli dengan anak-anak seperti ini.

Adakah pesan untuk anak-anak, masyarakat maupun pemerintah?

Kepada anak-anak di panti, saya berpesan agar tetap tabah dan menjalani dengan suka cita keadaan yang kita hadapi di panti. Yakinilah bahwa anda (anak-anak di panti) akan berhasil di kemudian hari jika menjalani hidup apa adanya. Kepada semua donatur yang telah membantu kami di panti, dari lubuk hati, saya mengucapkan limpahan terima kasih karena sudah membantu dan menghidupi kami dan anak-anak di panti. Tanpa uluran tangan dari para donatur, tentu kami dan anak-anak mengalami kesulitan. Kepada seluruh sesama kerabat dan keluarga yang telah berkunjung dan menghibur kami dan anak-anak, kiranya dapat menyisihkan waktu untuk berkunjung dan menghibur kembali kami dan anak-anak. Kunjungan dan hiburan itu merupakan bagian dari partisipasi sehingga kami dan anak-anak tetap terhibur dan semangat menjalani hidup ini. Bagi sanak saudara yang ingin mengunjungi, kami sangat mengharapkan itu. Gerbang kami selalu terbuka selama 24 jam kepada siapa saja. (*)

Penulis : Ian Bala

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Hidupnya Tak Semanis Gula Aren yang Dijajakan

Next Story »

Bekas Napi yang Berderma Lewat Karya

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *