Mengukur Kompetensi Profesional Guru Lembata

Oleh : Yustinus Mado

Inspirasi tulisan ini dibuat setelah dilakukan Penilaian Kinerja Guru pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Pertama 4 Nubatukan – Lamahora – Lembata oleh kepala sekolah dan beberapa guru senior. Penilaian Kinerja Guru yang dilakukan untuk masa penilaian sumatif bulan April, minggu ketiga sampai dengan bulan Mei, minggu keempat tahun 2015. Hasil Penilaian Kinerja Guru ini sudah sudah dilaporkan ke Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjamin Mutu Kemendikbud RI melalui Online.

Yustinus Mado, Guru Agama di SMPK, St.Theria. Kampung Lamahora-Lembata

Yustinus Mado, Guru Agama di SMPK, St.Theria. Kampung Lamahora-Lembata

Dari hasil Penilaian Kinerja Guru yang ada, pihak sekolah bersama dengan pengawas sekolah binaan, berusaha mendalami dan menemukan capaian secara rata-rata oleh masing-masing guru dalam sebuah pertemuan khusus. Pertemuan yang dibuat ini, tidak dimaksudkan untuk saling mempersalahkan satu dengan yang lain, tapi berusaha memperbaiki atau melengkapi unsur-unsur atau bahan- bahan yang belum dipenuhi.

Upaya ini merupakan salah salah satu memaksimalkan meningkatankan profesionalisme guru dewasa ini. Juga lebih penting dari pada itu adalah sebuah langkah yang bagus untuk menggarisbawahi semangat Permenegpan dan RB No.16/2009, dalam rangka memberi ruang dan mendukung pelaksanaan tugas dan peran guru agar menjadi guru yang professional. Implikasi lanjutannya sangat jelas yaitu berimbas terhadap peningkatan mutu, kreatifitas dan tentu saja kinerja guru.

Menghargai Profesi

Harus diakui bahwa apapun profesi seseorang, termasuk profesi guru tak pernah lolos dari tantangan dan tuntutan. Guru, dengan tugas utama sebagi pendidik, pengajar, pembimbing dan pelatih tak pernah selalu berhadapan pula kesulitan, kerewelan dan ketidakenakan serta kelelahan, ketika berhadapan dengan anak didik.

Di hadapan sang guru, ada sejumlah persoalan menyangkut pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sebanding lurus dengan jumlah anak secara rombongan belajar maupun keseluruhan pada saban hari efektif dalam proses pemelajaran di sekolah. Belum lagi persoalan antar teman guru, masyarakat sekitar dan elemen masyarakat lainnya.

Guru yang menghargai profesi akan memanejemen semua persoalan dalam tuntutan profesi dengan disertai nilai kepribadian yang tepat, stabil, sabar, realis, antusias, sederhana, tahu batas, humor dan seni beri sanksi. Hal ini dikemukakan dengan maksud, jika guru pada waktu lain diminta untuk memperhitungkan semua yang telah dilakukan untuk dihargai profesinya mana kala sudah terlebih dahulu yang menekuni profesinya. Pengakuan yang diberikan menjadikan dia seorang profesional.

Seorang guru dikatakan profesional jika dalam menjalankan tugas atau menunjukan kinerja sesuai keahlian, keterampilan, tanggung jawab, komitmen dan kesetiaan serta berstandar, dengan tidak mengabaikan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial. Dari keempat kompetensi yang ada, kebanyakan guru dinilai memiliki kompetensi profesional masih jauh dari yang memadai.

Jika dihubungkan dengan hakekat sesungguhnya dari pendidikan. Maka menjadi benar juga yang dikatakan P. Claudel yang kemudian dikutip JVS. Tondowidjojo CM dalam bukunya Kunci Sukses Pendidik, memberi rumusan tentang pendidikan yaitu seni mengubah bentuk atau menstransformir apa yang tidak dikenal menjadi dikenal. Salah satu upaya menyederhanakan rumusan ini dalam kenyataan adalah mengembangkan kapasitas profesional dari seorang guru secara kontinyu atau terus menerus dikontrol, diulang, dilengkkapi dan disempurnakan baik oleh guru yang bersangkutan maupun oleh pihak lain.

Mengukur Profesional Seorang Guru

Yang mau ditegaskan sehubungan dengan kompetensi profesional guru tak bisa dilepas pisahkan dari kompetensi paedagogik, kepribadian dan hidup sosial. Kempat kompetensi ini dapat dikatakan keutamaan dari seorang guru untuk dipahami dan dihayati tidak sekedar dalam ranah imajiner.

Menghidupi dan mengukur kompetensi profesional guru pada prinsipnya jika tiga kompetensi lain sudah mendekat memadai. Ada kecemasan, ketika kompetensi profesional guru dipertegas, pada hal tiga kompetensi lain masih jauh dari yang diharapkan. Maka tidak mungkin tidak, pendalaman dalam artian pengukuran atau penilaian lebih lanjutnya, akan mendapat jalan yang terseok-seok.

Tetapi jika ketiga kompetensi lain sudah mendekat memadai, maka kecemasan sudah pasti perlahan dikikis. Paling tidak, ada kemauan untuk mau mendalami dan mengaktualisasinya dalam tugas keseharian, walau tak sekali jadi seperti mebalikan telapak tangan.

Kompetensi profesional guru secara kontinyu atau terus menerus dikontrol, diulang, dilengkapi dan disempurnakan dalam kerja nyata, perlu memperhatikan unsur-unsur penting sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Unsur-unsur pendukung itu antara lain penguasaan materi struktur konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

Dengan indiktor pencapaian atau penyerapannya, pertama, guru melakukan pemetaan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk mata pelajaran yang diampunya, untuk mengidentifikasi materi pembelajaran yang dianggap sulit, melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, dan memperkirakan alokasi waktu yang diperlukan.

Kedua, guru menyertakan informasi yang tepat dan mutakhir di dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Ketiga, guru menyusun materi, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang berisi informasi yang tepat, mutakhir, dan yang membantu peserta didik untuk memahami konsep materi pembelajaran.

Unsur lainnya adalah mengembangkan keprofesian melalui tindakan reflektif dengan indikator pencapaian dan penerapannya, pertama, guru melakukan evaluasi diri secara spesifik, lengkap, dan didukung dengan contoh pengalaman diri sendiri. Kedua, guru memiliki jurnal pembelajaran, catatan masukan dari kolega atau hasil penilaian proses pembelajaran sebagai bukti yang menggambarkan kinerjanya.

Ketiga, guru memanfaatkan bukti gambaran kinerjanya untuk mengembangkan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran selanjutnya dalam program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. Keempat, guru dapat mengaplikasikan pengalaman Pengembangan Keprofesian Berkelanjtan dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian pembelajaran dan tindak lanjutnya.

Kelima, guru melakukan penelitian, mengembangkan karya inovasi, mengikuti kegiatan ilmiah (misalnya seminar, konferensi), dan aktif dalam melaksanakan Pengembangan Keprofesian Berkelanjtan. Keenam, guru dapat memanfaatkan Teknologi Informatika dan Komunikasi dalam berkomunikasi.

Unsur profesionalisme ini jika dinilai atau diukur, maka ukuran yang dipakai dalam bentuk lebih berorientasi praktis, kuantitatif, dan kualitatif. Salah satunya adalah melalui pengembangan diri guru yang dikemas pendidikan dan latihan fungsional dan kegiatan kolektif guru yang disertai dengan publikasi ilmiah. Dengannya diharapkan para guru akan lebih bersemangat untuk meningkatkan kinerja dan profesionalnya.

Optimalisasi dari kompetensi profesionalisme ini pada satu sisi berdampak pada perhitungan angka kredit yang diperoleh masing-masing guru untuk kepentingan kenaikan pangkat dari seorang guru. Tetapi pada sisi lain yang lebih penting dan mendasar adalah guru memiliki semuanya sesuai panggilannya.

Guru didengarkan dan dipercaya. Guru dapat mempeluas, memperdalam dan dapat melakukan pembaharuan. Guru tidak semata-mata mengandalkan inspirasi yang muncul pada saat sedang menjalankan tugasnya. Guru ikut memikirkan masa depan anak. Tak hanya berdelusi, tetapi mendapat pemaknaan dalam kenyataan yang menjadikan seorang guru harus tetap semangat dalam memberikan pengabdian yang total dan tak dipandang sebagai suatu kerja paksa.

Tak kalah pentingnya adalah salah satu upaya pengembangan sekolah. Sekolah hadir untuk mewujudkan mimpi dan kreasi dalam kepentingan pembebasan sehingga derajad motivasi dari setiap komponen pada wiyata mandala dari sebuah satuan pendidikan terpatri indah yaitu adanya suasana penuh cinta dan dedikasi untuk anak sukses belajar dan hidup di masa depan.
Anak sukses, guru juga sukses. Lain halnya anak lamban dalam menggapai sukses, guru mau dibilang apa. Paling tidak, guru juga masih dibilang begitulah kompetensi profesional guru ada dalam tantangan dan tuntutan. Dan jika kalimat terakhir diterima maka jangan cepat menilai sedang merancang adanya mekanisme pembenaran diri secara klasik.

Azizah “Melampaui” Batas

Next Story »

Kebangkitan Flores

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *