Menghadirkan Semangat Guru Lembata Tempo Dulu

Oleh : Yustinus Mado

Rentang waktu perjuangan Rakyat Lembata  1954-1999 sebuah  waktu yang lama dan  ditunggu. Momentum 7  Maret 1954 merupakan jembatan antara masa sebelum dan sesudah yang menentukan nasib rakyat Lembata.

Yustinus Mado, Guru SMP  Kampung Lamahora-Lembata

Yustinus Mado, Guru SMP Kampung Lamahora-Lembata

Anak Lembata, baik  di Lembata maupun di tanah rantau karena bekerja atau studi tak pernah lupa  momentum  ini. Ketika tiba 7 Maret saban tahun, Rakyat Lembata berhenti sejenak untuk mengenang  peristiwa yang terjadi kala itu.  Terselip di dalamnya mengenang pula sederet nama guru yang ada di dalam perjuangan Lembata.

Bahwa  Tahun 1954, almahrum Guru Petrus Gute Betekeneng bersama dengan kawan-kawan dan elemen masyarakat Lembata  lain, bertekad dalam keluhuran, dan minus akal bulus untuk nasib Lembata (  Lomblen ) tercinta yaitu hasrat besar untuk  mau menikmati otonomi.

Hari yang dinanti pun tiba, dengan  dikeluarkannya Undang-Undang  No : 52 Tahun 1999 pada tanggal 12 Oktober 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Lembata, oleh Pemerintah Pusat. Dengan dikeluarkanya regulasi ini, maka seluruh perjuangan rakyat Lembata sebelumnya diendus dan dihubungkan makna-maknanya baik melalui ceritera-ceritera lisan maupun melalui media massa.

Teringat akan peristiwa kelanjutan penyerahan dokumen resmi pembentukan Kabupaten Lembata dan penyambutan Penjabat Bupati Lembata. Rakyat  Lembata datang dari  ke Lewoleba untuk mengapresiasikannya dengan suasana yang istimewa.

Sebuah contoh, masyarakat Kecamatan Atadei  merancang sebuah  sampan besar tanpa palka dan setiap sisi lambungnya dikaitkan dengan tali pada masing pengiring. Para pengiring mempersilahkan utusan Depdagri, DPR RI dan Penjabat Bupati Lembata dan pejabat teras lainnya  masuk ke dalamnya  dari pelabuhan laut Lewoleba menuju halaman kantor bupati lama.  Para pengiring  bergerak  tiga kali maju dan sekali mundur sambil tetap mendayung. Sebuah bentuk penyambutan dan terhormat bermartabat.

Tak hanya itu, syair-syair klasik  berisi tentang  bencana di pulau Lepan Batan, suka duka dalam pelayaran dan menetap di Lembata serta terima kasih/syukur atas terealisasinya hasil perjuangan rakyat Lembata   dilantunkan secara bersahutan dan bersama.

Semua yang hadir diliputi euforia. Apa pasal?   Perubahan menjadi nyata dalam segala bidang kehidupan yang menjadi kewenangan pusat dan daerah terjadi dengan cepat. Momentum baru yang sarat makna ini,   oleh sebagian  rakyat Lembata  berpikir dan merasa cuma  buram-kelam, pahit-getir. Sebagian lagi berpikir dan merasa semata pada senang–gembira, untung-laba. Dan sebagian pasti berpikir dan merasa mengarah berimbang dalam baik dan buruk.

Tak  berlebihan dan tak pula hanya itu saja, tetapi  berusaha mendapat  sederetan jawaban atas tanya.“Bagaimana menghadapi dan menangani perubahan tersebut?” “ Apa yang mau dicapai ?” Dan terakhir,  “Jalan apa yang mau ditempuh?”yang merupakan pertanyaan kritis di balik ketika perumusan regulasinya dan sebuah daerah yang diberi kewenangan untuk mengurus diri sendiri, seperti yang dilansir oleh Noer Fauzi dan R. Yando Zakaria  dalam bagian pengantar  buku Men-siasat-i Otonomi daerah.

Menggandeng  Guru

Berbekalkan ilmu yang diperoleh dari vak umum dan khusus keguruan  serta  “vak” (mata pelajaran) budi pekerti/tata krama untuk mengembangkan moral-etika dalam lembaga pembentukan profesi guru, guru-guru  tempo lalu, bertugas  untuk medidik, mengajar dan melatih generasi bangsa.

Romo Eduard Jebarus, Pr dalam buku Sejarah Persekolahan Katolik di Flores mengedepankan tugas Pendidikan dan pengajaran di masa silam diimplementasikan melalui  bidang pendidikan umum dan khas kebangsaan.  Pada sekolah dasar, ada pendidikan Agama, Bahasa Indonesia ( Percakapan, Membaca, Menulis dan Imalah serta berceritera ),Berhitung,  Pendidikan Jasmani,  Sejarah,  Ilmu Bumi, Ilmu Hayat,  Ilmu Alam,  Ilmu Kesehatan, Menggambar, Menyanyi, Pekerjaan Tangan dan termasuk jam bebas.

Dengan tugas ini,  banyak guru dipandang sebagai sosok yang “tahu banyak dan dipercaya  bisa mengurus” masyarakat luas. Pada hal ilmu tentang tata kelola pemerintahan, politik, hukum dan  urusan lain dalam  mensejahterakan masyarakat umum  minim dipelajari. Belum lagi  diperhadapkan aneka keterbatasan  medan tugas. Walau demikian mereka berusaha memperkecil keterbatasan dan mengoptimalkan sumber daya manusia dengan kemampuan yang ada

Letak kebanggaan yang diposisikan, guru-guru tidak  hanya berorientasi   mentrasfer sain semata, yang berkisar pada papan kalam – batu tulis, papan tulis hitam berkaki tiga, meja bergandeng bangku panjang, kayer-kayer lusuh dan fulpen-tinta bermerek hero. Bahwa seiring perguliran regulasi nasional yang memungkinkan kala itu, banyak guru tampil membawa optimisme dengan  memanfaatkan kesempatan di nasib buruk dan menepis rasa pesimis.

Bersamaan  dengan itu,guru-guru memberi kontribusi segar dalam memajukan  dan mengembangkan  bidang sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama. Guru mulai berkiblat  dalam tatanan kemasyarakatan. Artinya  guru-guru dituntut  pemaknaan nyata untuk option the poor. Maka tak heran, ada  guru yang menjadi pengurus partai dan anggota parlemen/legislatif.

Mengandalkan kemampuan dimiliki, guru-guru tempo lalu berusaha tampil mewujudkan perubahan  di Lembata, selaras  dinamika dari pesan-pesan pendidikan yang berorientasi dan bermuara pada nilai kemanusiaan.  Harus dikatakan,  guru-guru tempo lalu tak mengenal sekolah tinggi, tapi mereka telah menghasilkan generasi Lembata yang sudah,  dan sedang “menikmati” dengan  mengisi perjuangan mereka dan cita-cita kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam penelusuran akan seluruh perjuangan rakyat Lembata, rakyat Lembata harus angkat topi terhadap para perintis yang berhati dan berpikir dengan dan tentang Lembata kemarin, hari ini dan esok.   Penggerak ke arah perubahan yang signifikan,  tak terlepas dari peran  para guru.

Guru Lembata Era Dulu oleh Era Sekarang

Hasil-hasil dicapai sekarang pada setiap line kehidupan,  diakui  membanggakan, tapi tak pernah lolos dari persoalan. Pada hal masa sekarang, begitu banyak kemudahan yang dialami jika dibanding masa lalu.  Persoalan tak pernah terkikis.  Penyebab dari aneka soal  itu beragam, kompleks dan saling kait mengait satu terhadap yang lain.

H. Soedijarto dalam buku Kurikulum Yang Mencerdaskan menggambarkan bahwa kualitas manusia Indonesia pada umumnya baik dari segi kemampuan teknis, kemampuan profesional, kemampuan intelektual, etos kerja, disiplin, moral dan kepribadian sebagai manusia modern masih jauh dari memadai.

Salah satu solusi untuk meminimalisirnya adalah mengintegrasikan  karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial dan peduli lingkungan serta tanggung jawab.

Salah satu lokus menghidupkan karakter-karakter  adalah sekolah. Karakter-karakter ini menjadi semangat guru dan mengintegrasikannya dalam domain sikap, keterampilan dan pegetahuan. Dan tidak mungkin tidak,  proses pendidikan dan pengajaran  yang berlangsung   jam 07.00 – 12.00 di sekolah merupakan  sebuah proses  yang selalu dirindukan anak didik. Alhasil guru era sekarang akan menghasilkan generasi yang  dipercaya “tahu banyak dan bisa mengurus” masyarakat.  Dan suatu masa nanti, kebaikan-kebaikan guru akan  terus diceriterakan.

Pasti kita tetap ingat kata mutiara  yang  ditulis  George Eliot, “ Kalau anda berbuat jahat, kesukaan menghilang dan kepedihan tidak pergi. Kalau anda berbuat baik kepedihan menghilang dan kesukaan meraja.

Mangrove dan Hitam Putih Kehidupan

Next Story »

Sail Komodo 2013, Adakah Pengaruhnya Hari Ini?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *