Memohon Ketentraman Hidup di Rumah Baru

Sebuah ritual Wee Mbaru. foto illustrasi diambil dari kosmastakung.wordpress.com

Sebuah ritual Wee Mbaru. foto illustrasi diambil dari kosmastakung.wordpress.com


We’e Mbaru adalah ritual adat yang wajib ditaati warga Manggarai Raya. Leluhur mesti dimintai berkah agar penghuni selalu sehat, kehidupannya tenteram dan usahanya selalu berhasil. Jangan coba sengaja menghindari bila ingin selalu mendapat keselamatan.

Malam itu, Jum’at (15/5/2015), sekitar pukul 19.30 Wita, Linus Enggot (57) duduk di depan rumah tembok ukuran 49 meter persegi yang baru selesai dikerjakan. Masih kosong, pemiliknya Aventinus Sput Tangur dan Mariana Charles Lalung belum boleh tinggal di bangunan warna kuning gading itu.

Sebutir telur ayam ada di genggaman tangan kanan, Linus Enggot. Tokoh adat dari Kelurahan Peot, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, sengaja mengenakan mengenakan sapu tanda kebesaran. Dia menghadap pintu utama memanjatkan doa, lalu melukai bagian lonjong telur ayam dan itu meletakkannya pada bilah bambu yang ditertancap di tanah.

Lalu dia melangkahkan kakinya memasuki rumah itu memulai ritual puncak patong ayam we’e mbaru.
Suasana sunyi kendati telah hadir arwah seluruh leluhur, naga tanah juga roh rumah serta pemilik material bangunan. Arwah-arwah mereka hadir setelah mendapat undangan berupa sebutir telur yang tertancap di atas tanah depan rumah. Kehadiran para arwah adalah pertanda adanya berkah dan keselamatan bagi bakal penghuni rumah itu.

Sebelum ayam disembelih tetua adat pemimpin ritual itu memanjatkan doa. Dia menyampaikan maksud, atau mendaraskan permohonan, kepada para leluhur agar selalu menjaga, melindungi, menjamin keselamatan serta memberi rejeki melimpah bagi pemilik rumah.

Ritual we’e mbaru memastikan sebuah keluarga boleh tinggal di sebuah rumah atas berkah leluhur yang hadir. Dukungan tak hanya datang dari para leluhur namun juga dari segenap kekuatan langit, bumi dan Tuhan sendiri.

Rumah akan selalu kokoh karena secara simbolik sudah dibalut darah ayam hewan persembahan.
Penghuninya akan selalu selamat, damai tentram. Usahanya pun selalu diberkati sang Ilahi. Sebaliknya malapetaka bakal datang bila restu atau berkah leluhur tidak datang. Bencana
akan datang beragam bentuk silih berganti.

Malam itu banyak tamu datang mengikuti ritual. Seluruh ruangan tamu penuh terisi, demikian pula halaman samping dan bagian belakang rumah. Kecuali di halaman depan, rumah pintu utama. Usai prosesi penyembelihan ayam barulah semua boleh masuk. Suasana hening karena hadirin nampak serius mengikuti jalannya prosesi.

Beda Arti

Menurut Petrus Gong, tokoh adat Nanga Lanang, We’e punya tiga makna berbeda. Pertama, kata ini kerap digunakan dalam komunikasi sehari-hari saat warga bertegur sapa. Hal ini tersembunyi saat seseorang bertutur we’e ga untuk menegaskan aktivitas pulang dari kebun ke rumah.

Penutur biasanya memberi tekanan saat berujar we’e. Maknanya tergambar jelas dalam ungkapan atau goet, misalnya dalam kalimat duat le gula, we’e le mane one mbaru bate kaeng atau tiap orang yang bekerja, di kebun atau di tempat lain, untuk mendapat penghidupan akan kembali pulang saat senja tiba.

Pulang ke rumah untuk menjalani peraduan dan beristirahat lelah di malam hari. Saat tiba dia akan menegaskan lagi dengan ungkapan , Ho’o mbaru..rawuk wa nos eta!

Makna atau arti berikutnya nampak saat orang Manggarai pulang dari rantau. Dia berujar We’e. Ini menyatakan bahwa meski sudah sukses, tanah asal tak akan pernah dia lupakan. Di sanalah tali pusarnya ditanam. Ini tergambar dalam kalimat, we’e kole kete, keor kole beo untuk mengungkapkan bahwa kepulangannya dari rantau karena sadar akan asalnya, kehidupan jejak awal dan leluhurnya.

Sekembali dari rantau dan menjalani ritual we’e beo, maka yang bersangkutan tidak boleh lagi kembali ke perantauannya. Begitulah arti pulang, namun bila sebatas berlibur

Tetapi bila seseorang pulang kampung berlibur, atau untuk alasan lain, ritualnya adalah kapu dan teing hang empo untuk meminta maaf atau memohon berkat leluhur agar dapat berhasil di rantau.

Sosioreligius

We’e pada tataran ketiga berkaitan dengan rumah tinggal. Tempat keluarga berkumpul. Di sinilah ritual itu wajib dijalani dan kebiasaan ini mesti diwariskan, bila diabaikan bakal ada resiko besar.
Ada konsekuensi moral, agar aman seseorang mesti taat segala ritual adat.

Para tetua mengingatkan bahwa makna mendalam we’e ada pada tingkat kedua yakni, we’e kole beo dan ketiga we’e mbaru. Masing-masing berkaitan dengan manusia dan tempat tinggal.

Menurut Paulus Danggur, tokoh adat Lao-Ruteng, we’e mbaru sarat makna sosioreligius sehingga bersifat yang wajib. Seseorang tidak bisa secara sengaja mengabaikannya tanpa alasan jelas. Ada kesadaran mistis untuk menjaga harmonisasi antara penghuni, rumah, leluhur dan kekuatan-kekuatan alam dan wujud tertinggi.

Tak heran, dalam doanya tetua tak hanya menempatkan dukungan keselamatan bagi penghuninya, tetapi sekaligus harapan agar seluruh hidup dan karya bakti selalu diberkati Tuhan.

Masih dalam perspektif sosioreligius, Petrus Gong, tokoh adat Nanga Lanang menambahkan bahwa we’e mbaru punya tiga aspek. Pertama, bagi penghuni rumah, ritual ini bermaksud memohon kepada Yang Maha Esa dan para leluhur untuk memberi kesucian.

Kedua, menjalin hubungan intensif antara rumah, para penghuni dan alam lingkungan sekitarnya. Ketiga, adanya ketergantungan penghuni rumah terhadap rumah dan Allah sumber segala kekuatan.

Taat leluhur
Leonardus Kasman (19), yang ditemui wartawan, Minggu (17/5/2015) menjelaskan sejak sekolah dasar sering mengikuti acara adat mendirikan dan meresmikan rumah.

Pemuda itu sadar bahwa prosesi adat itu adalah warisan leluhur yang abadi. Oleh karenanya, dia selalu taat mengikuti berbagai ritual gali tanah rumah, hese ngandong dan we’e mbaru.

Tiga tahapan ritual ini menjadi satu kesatuan utuh sehingga rumah kokoh, situasi dalam rumah damai dan tentram. Usaha selalu sukses.

“Generasi muda masih percaya pada ritual-ritual yang berkaitan dengan pembangunan rumah baru. Rumah berkaitan dengan hidup dan tempat tinggal. Apalagi sebagai orang Manggarai prosesi ritual itu masih kuat diyakini generasi muda,” katanya.

Penulis: Kanis Lina Bana
Editor: Donny Iswandono

Batok Kelapa, Pundi Uang untuk Wili

Next Story »

Bitek Wua Ta’a, Penghargaan Bagi Tamu

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *