Material Jembatan dari Swiss dan Argentina Tiba di Pelabuhan Soekarno Ende

ENDE, FBC-Kapal Motor ADRI XLIX TNI AD yang diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara dengan muatan material jembatan tiba di Pelabuhan Soekarno Ende pada Jumat (8/5/2015) sekitar pukul 17.00 Wita. Selain material jembatan, Kapal yang dikomandani Mayor Cba Muhibur ini juga mengangkut 18.060 bibit pohon dari Paguyuban Budiasi.

Wakil Komandan (Wadan) Ekspedisi NKRI Koridor Nusa Tenggara Korwil 6 Ende, Mayor Cba Danny Hardiatato kepada wartawan mengungkapkan logistik berupa material jembatan berasal dari  Swiss dan Argentina. Material tersebut digunakan untuk pembangunan dua jembatan di Kabupaten Ende. Sementara bibit pohon untuk ditanamkan dibeberapa tempat di wilayah Kabupaten Ende.

Kapal Motor ADRI XLIX TNI AD yang dikomandani Mayor Cba Muhibur mengangkut material jembatan dan 18.060 bibit pohon dari Paguyuban Budiasi bersandar di Pelabuhan Ende. (Foto : FBC/Ian Bala)

Kapal Motor ADRI XLIX TNI AD yang dikomandani Mayor Cba Muhibur mengangkut material jembatan dan 18.060 bibit pohon dari Paguyuban Budiasi bersandar di Pelabuhan Ende. (Foto : FBC/Ian Bala)

“Kalau slinger berasal dari Swiss dan baja berasal dari Argentina. Kita sudah bekerja sama dengan mereka dan mereka membantu kita material ini. Bibit pohon itu nanti akan kita tanam di beberapa wilayah disini.”ujar Mayor Danny saat memantau KM ADRI di Pelabuhan Soekarno Ende, Jumad (8/5/2015).

Ia menjelaskan terdapat dua lokasi pembangunan jembatan, masing-masing di Dusun Guna, Desa Sanggaroro, Kecamatan Nangapanda dan Dusun Anaranda, Desa Mautenda, Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende. Dua jembatan tersebut sementara dikerjakan oleh masyarakat dan Tim Ekspedisi NKRI.

“Dua jembatan sekarang sedang dikerjakan oleh masyarakat dan tim ekspedisi. Material ini ngangkut untuk jembatan Nangapanda dan Wewaria. Rencana besok pagi baru kita bongkar dan langsung digeser ke lokasinya dengan truk besar dan trailer dari PU.”Kata Mayor Danny.

Ia menjelaskan rencana pengerjaan besok (9/5) dilakukan oleh tim teknis dan dibantu oleh masyarakat dan Tim Ekspedisi. Tim ekspedisi, menurutnya sebagai penggerak partisipasi masyarakat, semetara masyarakat sendiri yang mengerjakan. “Kita bantu mereka material dan mereka yang mengerjakan sendiri dan dibantu oleh Tim Ekspedisi. Kita sebagai penggerak dimana dengan tujuan kita membangkitkan jiwa gotong royong mereka (masyarakat),”kata dia.

Dijelaskan Danny, dalam rancangan awal, tim Ekspedisi NKRI mengajukan delapan buah jembatan yang dibangun namun berdasarkan kriteria diterima dua jembatan. Kriteria jembatan yakni jumlah penduduk diatas 500 jiwa, lebar kawasan sungai serta jalur akses minimal 10 kilometer.

Dari pengajuan tersebut, dua lokasi jembatan lolos kriteria dan saat ini sedang proses pengerjaan. Jembatan Nangapanda yang menghubungkan Desa Sanggaroro menuju Desa Kerirea dan jembatan Wewaria menghubungkan Desa Welamosa menuju Desa Mautenda.

Sementara Ferdinandus H. Ema, salah seorang Tim Ekspedisi dari LSM Indonesiaku mengharapkan semua pihak bersama-sama mendukung untuk membangun jembatan sesuai dengan target waktu yang telah direncanakan. Hambatan-hambatan non teknis seperti pembebasan lahan dan perbedaan pendapat menurutnya tidak terjadi pada pembangunan jembatan tersebut.

“Saya berharap semua pihak bersama-sama mendukung pembangunan ini agar jembatan yang dirampung sesuai dengan target waktu yang telah direncanakan. Hal ini membutuhkan gandengan tangan banyak pihak termasuk Pemerintah,”Kata Ferdinandus, putra dari Ende belum lama ini.(Ian Bala)

Pemerintah dan DPRD Lembata Jangan Abaikan Leluhur

Next Story »

Ego Sektor dan Pelaporan Tidak Transparan, Halangi Tugas Pengawasan Wakil Bupati Lembata

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *