Mangrove dan Hitam Putih Kehidupan

Oleh : Canisius Maran

Floresbangkit.com beberapa hari lalu menurunkan features tentang seorang pria paruh baya asal Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Berkat kegigihannya merawat dan mengembangkan bakau selama belasan tahun. Dialah Viktor Emanuel Rayon (67), atau Baba Akong memperoleh anugerah Kalpataru dengan kategori sebagai Perintis Lingkungan.

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Mungkin sebagian dari kita masih ingat Baba Akong tampil bersama Andy Flores Noya dalam acara Kick Andy. Seperti umumnya orang Flores kalau bicara, demikian semangat Baba Akong menjelaskan dalam Bahasa Indonesia dengan dialek Maumere yang sangat kental.

Luar biasa perjuangan beliau, pada awal-awal menanam bakau bersama istri, suka dan duka silih berganti, hingga mendapat sederet penghargaanseperti Eagle Award, Kick Andy Heroes, dari Bupati Sikka Paulus Moa, dari Gubenur NTT Piet A Tallo. Dan yang paling berkesan tentu anugerah Kalpataru langsung dari Presiden SBY.

Sebuah penghargaan lingkungan dari pemerintah yang sudah berjalan hampir tiga puluh tahun bagi masyarakat, pribadi maupun kelompok, secara swadaya, atas kehendak dan keinginan sendiri, berperan serta menanggulangi masalah lingkungan hidup. Mereka bisa dari kelomppok profesi, yang berdasar profesinya tergerak menangani masalah lingkungan. Kelompok hobi yang mencintai kehidupan alam dan terdorong untuk melestarikannya dan kelompok minat yang berminat berbuat sesuatu bagi pengembangan lingkungan.

Sungguhpun terdiri dari kelompok atau pribadi, namun mereka terikat secara sadar dan swadaya pada cita-cita yang sama, menanggulangi masalah lingkungan hidup dan mengembangkannya menjadi lebih baik bagi kepentingan masyarakat umum. Seperti pada awal, ada yang menampung warga yang tidak mempunyai tempat tinggal, ada yang mengurus sampah, dan ada juga yang tinggal di pinggir pantai membentuk kelompok arisan jamban karena pantai di daerahnya pada waktu itu mendapat julukan sebagai WC terpanjang di dunia.

Tumbuh dan berkembangnya swadaya masyarakat, merupakan hal yang sangat penting. Dengan demikian, minat dan energi mereka bisa dilibatkan seara aktif dalam ikhtiar pengembangan lingkungan hidup. Pada satu sisi lain, masalah lingkungan hidup terlalu luas untuk ditangani pemerintah setempat. Karena itu, perjuangan swadaya masyarakat dalam melestarikan dan mengembangkan lingkungan patut dihargai pemerintah.

Dan perjuangan Baba Akong menanam bakau setahun setelah Tsunami menghancurkan sebagian besar tanah di Flores adalah bagian dari partisipasi masyarakat secara swadaya. Dimulai dari nol karena semua harta benda miliknya hanyut terbawa air. Dengan peralatan sangat sederhana, pria paruh baya ini bersama istri mulai menanam bakau. Dan seperti biasa dalam setiap usaha selalu dimulai dengan kegagalan dan itu selalu terulang namun tidak menyurutkan niatnya.

Hingga empat belas tahun kemudian baru merasakan hasil ketika tiga kali diundang ke Jakarta menerima penghargaan. Sulit dijelaskan bagaimana awalnya seorang Baba Akong memahami fungsi hutan mangrove selain melindungi daratan dari abrasi dan gelombang pasang Tsunami, apalagi mangrove juga berfungsi menyerap karbon. Beliau hanya memandang gelombang air laut pada suatu hari, lalu menghubungkannya dengan peristiwa Tsunami yang sudah berlalu.

Pertanyaan terhadap Baba Akong tentang perawatan Mangrove yang ditanam agar tetap lestari di sepanjang pantai, dibuktikan dengan suatu kebenaran yang tidak bisa dibantah, ketika begitu banyak mahasiswa dan pelajar serta peneliti dalam dan luar negeri berguru kepadanya. Bukankah ini juga sebuah bukti tak terbantahkan bahwa 1 + 1 = 2?

Sebaliknya, jika Baba Akong dianggap “gila”, ada seorang perempuan bernama Jumiati justru lebih “gila”, karena selain menyelamatkan pesisir Sei Nagalawan, Sumatera Utara dengan mangrove, Jumiati juga bisa membuat kerupuk dari pucuk mangrove, yang kemudian menjadi penggerak ekonomi di desa pesisir itu.

Kegigihannya menanam mangrove terlihat ketika perempuan yang selalu berjilbab masih membenamkan tubuhnya ke lumpur pantai, bahkan hingga senja jatuh dan malam pun mengejar, Jumiati bersama istri nelayan lain masih mengisi lubang tersisa dengan bibit mangrove. Tidak heran, namanya tertulis diantara tujuh perempuan peraih penghargaan dari organisasi nirlaba Inggris, Oxfam, sebagai pahlawan pangan perempuan (Female Food Heroes) Indonesia 2013.

Sulit disangkal, perjuangan Baba Akong dan Jumiati melestarikan dan menyelamatkan mangrove sejatinya tanpa fasilitas. Satu-satunya milik Baba Akong yang tersisa setelah Tsunami adalah istri dan anak-anak. Sedangkan Jumiati, hanya punya Rp 3.000,- saat melahirkan putri pertamanya bahkan popok bayinya saja boleh pemberian tetangga.

Sementara pada dataran lain, program rehabilitasi lahan pesisir dengan tanaman bakau (mangrove) di beberapa wilayah tanah air disinyalir bermasalah. Salah satu indikasinya, tingkat keberhasilan hidup tanaman mangrove di lapangan sangat rendah. Padahal, dana yang digulirkan cukup besar. Sinyalemen yang ada, besar kemungkinan dikorupsi atau program ini hanya dilakukan dengan pendekatan proyek. Seperti pasar malam, habis proyek bubar.

Namun seperti telah dikemukakan, masalah lingkungan hidup terlalu luas untuk ditangani oleh pemerintah. Karena itu, partisipasi masyarakat secara swadaya akan dinilai pemerintah dalam bentuk penghargaan lingkungan.Masyarakat juga akan diperkaya dengan kegiatan ekonomi seperti budidaya kepiting atau ikan dan udang di kawasan mangrove sebagai area pemijahan (kembang biak), yang membawa nilai tambah ekonomi.

Apalagi wisata ekologi mangrove kini sudah mulai disukai wisatawan domestik dan asing. Hal ini pun diakui Baba Akong, Karena itu, beliau merasa gusar, jembatan sepanjang 300 meter yang melintasi tempat wisata mangrove yang dibangun beberapa tahun silam terancam roboh karena sebagiannya sudah lapuk.

Artinya pariwisata tidak selalu identik sesuatu yang “wah”, tidak harus lengkap ada tebing terjal, pasir, air laut dan lain-lain supaya boleh gila. Pariwisata bisa berhubungan dengan ekowisata, dimana formasi mangrove yang berjejer menghampar bagai benteng pertahanan panjang menghijau, ditingkah suara pasangan bangau yang bercengkerama di pucuk daun mangrove, akan juga menambah sejuk suasana hati yang selalu galau.

Kembali pada apa yang dilalukan masyarakat biasa, kita dapat mengatakan bahwa suatu hasil luar biasa tidak selalu dari mereka yang berpendidikan tinggi, melalui strategi dan perencanaan yang dibahas dalam ruang rapat mewah, dengan didukung teknologi canggih. Namun selalu bisa muncul dari orang-orang sederhana yang setiap hari bergumul dengan lumpur kehidupan.

Menurut Prof Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, penulis buku Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers, bahwa kehidupan tak bisa hanya dibangun dari bangku sekolah, meski kita memang membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan rahasia alam, berikut ilmu-ilmu baru yang basisnya kognisi. Akan tetapi, tanpa kemampuan nonkognisi, semua sia-sia.

Baba Akong dan Jumiati adalah manusia biasa yang mungkin tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan tinggi dan tertinggi. Namun ada dorongan dari dalam diri seperti Jumiati yang memandang pesisir dan laut sebagai berkah untuk memberantas kemiskinan. Atau Baba Akong ketika suatu hari menyaksikan gulungan gelombang, muncul kekhawatiran jika suatu hari nanti, peristiwa Tsunami terulang lagi. Tindakan Jumiati menempatkan dirinya menjadi produsen kerupuk mangrove yang kemudian dinobatkan Oxfam menjadi pahlawan pangan perempuan. Demikian pula Baba Akong meraih penghargaan Kalpataru sebagai perintis lingkungan berikut anugerah bergengsi lain. Bahkan menjadi “kamus hidup” tentang Mangrove bagi para pelajar, mahasiswa dan peneliti dalam dan luar negeri.

Lebih dari itu, keduanya sudah memberi contoh, paling tidak kepada anak-anaknya, bagaimana mengabaikan rasa malu ketika ditertawakan, meredam amarah ketika dianggap “gila” dan selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong, karena yakin anak-anak pasti belajar dari apa yang diucapkan orang tua, dan dari sikap kepada mereka yang suka meremehkan.

Keduanya telah menunjukkan kepada kita semua tentang betapa pentingnya menjaga kelestarian alam yang selama ini menopang kehidupan kita. Bahwa melalui penalaran berdasar asumsi sangat sederhana, seperti kata Baba Akong, kalau tidak tanam bakau dan terjadi Tsunami dengan gelombang besar lagi, warga kampung bisa mati semua. Gelombang besar yang dia lihat dipantai setelah peristiwa Tsunami tahun 1992 itulah yang memberanikan dirinya menanam bakau hingga ratusan hektar, membawa dirinya ke panggung paling bergengsi di negara ini, sebagai peraih anugerah Kalpataru untuk kategori Perintis Lingkungan.

Sebaliknya, Baba Akong dan Jumiati ioleh kita sebut dua manusia hebat, tetapi masih suka diuji oleh mereka yang mengaku dirinya lebih pandai, yang menyukai sesuatu yang stereotype. Suka melihat dengan kacamata buram dan berbicara dengan lidah yang pahit, mengaku lebih tahu apa yang terjadi dan tidak menyadari seperti apa keteladanan yang selama ini ditunjukkan. Tetapi ada orang lain, seperti Baba Akong dan Jumiati, bagaikan api dalam sekam, bagaikan gunung es, bekerja diam-diam tetapi hasilnya luar biasa.

Sekali lagi, mereka adalah manusia biasa yang meraih hasil perjuangannya dalam adegan yang sama mengharukan seperti ketika mereka baru memulai menanam bakau. Suatu hal yang juga seringkali dialami manusia dalam hidup, dalam kekalutan panjang, seperti malam yang sangat paling pekat sekali pun selalu bermuara pada cahaya fajar.

Sebagaimana juga fajar selalu merupakan akhir dari semua derita dan kesesakkan, dan awal sesuatu yang baru, hidup baru dan harapan baru. Semoga!!!

“Gendang” Berpolitik

Next Story »

Menghadirkan Semangat Guru Lembata Tempo Dulu

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *