Liput Hardiknas di Nubatukan, Dapat Bonus Jalan Rusak

LEWOLEBA, FBC-Pemandangan miris terlihat ketika meliput perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Sabtu 2 Mei 2015 kecamatan Nubatukan, kabupaten Lembata yang berlangsung di desa Bakalerek. Waktu tempuh yang seharusnya 10 menit terpaksa menjadi 30 menit, karena setiap pengguna jalan harus berjibaku di jalan yang rusak parah.

 Perlintasan dengan timbunan batu dan balok kayu akibat patahnya plat gorong-gorong. Orang menumpang harus turun untuk berjalan kaki beberapa meter kedepan, sebelum naik dan kembali melanjutkan perjalanan. (foto FBC/Yogi Making)

Perlintasan dengan timbunan batu dan balok kayu akibat patahnya plat gorong-gorong. Orang menumpang harus turun untuk berjalan kaki beberapa meter kedepan, sebelum naik dan kembali melanjutkan perjalanan. (foto FBC/Yogi Making)

San Taum, warga Lewoleba juga salah satu peserta Hardiknas kepada FBC  mengaku kaget ketika mendapati kondisi jalan yang menghubungkan empat desa di pedalaman kecamatan Nubatukan itu rusak parah. Dia mengatakan, jika kondisi ruas jalan yang terbilang sangat dekat dengan pusat pemeritahan saja terkesan dibiarkan, maka sulit dibayangkan dengan kondisi jalan pada wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.

Demikian juga dengan Tety, warga yang satu ini terpaksa harus beberapa kali menghentikan sepeda motornya untuk menurunkan orang yang dia bonceng. Tety heran, kenapa semua jalan di kabupaten Lembata rusak, padahal di mana-mana selalu terdengar kampanye keberhasilan para politisi.

“Kalau jalan disini yang kita bilang dekat dengan pusat pemerintahan saja begini, apalagi jalan di tempat lain?” kesal San. “Iya, padahal dimana-mana mereka yang mengaku diri elit politik, elit pemerintahan itu selalu omong keberhasilan. Berhasil dari mana? Ukurannya apa?, jalan saja kondisinya begini,” sambung Tety dengan wajah nyinyir.

Obrolan singkat dua pengemudi sepeda motor yang di temui ketika dalam perjalanan pulang menuju kota Lewoleba itu ada benarnya, karena segmen jalan tengah, tidak saja menghubungkan empat desa pedalaman Nubatukan, masing-masing desa Bakalerek, Paobokol, Belobatang dan desa Udak Melomata tetapi merupakan jalan penghubung antara kecamatan Nubatukan dengan kecamatan Wulandoni.

Lumpur dan jalanan licin di perlintasan menuju desa Bakalerek, Kecamatan Nubatukan. (foto : FBC/Yogi Making)

Lumpur dan jalanan licin di perlintasan menuju desa Bakalerek, Kecamatan Nubatukan. (foto : FBC/Yogi Making)

“Jalan disitu masih lebih baik 100 persen. Yang lebih parah lagi kalau lewat dari kampung Uruor (desa Belobatang) menuju Udak. Itu paling parah, ada satu segmen yakni segmen Kerbau Knokit putus total karena tertimbun longsor. Saya tinggal di Udak, jadi kalau pergi pulang lewoleba harus naik oto wulandoni, atau jalan kaki ke Uruor baru naik ojek ke Lewoleba,” kata salah satu guru PNS yang enggan menyebut namanya.

Sang guru itu mengaku, jika ke lewoleba untuk urusan kedinasan dia membutuhkan waktu dua hari, karena harus menginap satu malam di Lewoleba, dan selanjutnya berangkat pulang ke Udak pada hari berikutnya.

Sekedar gambaran, kondisi dengan kerikil lepas, jalanan licin, lubang dan genangan air sepanjang kurang lebih 2 Km, di perparah lagi dengan patahnya plat gorong-gorong. Sykurnya, perlintasan di titik ini sudah di timbuh dengan batu dan potongan balok kayu.

Informasi yang berhasil dihimpun selama meliput Hardiknas di desa Bakalerek menyebutkan, kondisi jalan parah tidak saja terdapat pada jalan yang di lihat floresbsangkit, namun pada titik yang lain yakni jalan menuju desa Udak Melomata putus total.

Desa-desa pedalaman Nubatukan, umumnya merupakan wilayah penghasil komoditi, tentu saja warga yang hendak mengangkut hasil komoditi untuk di jual ke pusat kota kesulitan bahkan terpaksa mengeluarkan biaya tambahan karena harus menyewa tenaga pikul.

Sudah Dianggarkan

Sekertaris Komis II DPRD Lembata, Sius Gokok melalui kontak telepon menjelaskan, tahun angaran 2014 lalu, ruas jalan tengah sudah dianggarkan bahkan sempat di tender, dengan total nilai proyek Rp. 10 miliar, namun karena terindikasi kecurangan sehingga proses tender akhirnya dihentikan.

Pemerintah melalui dinas PU, kata Gokok, kembali mengangarkan pekerjaan peningkatan jalan segmen Simpang Waikomo-Wulandoni di tahun anggaran 2015.

“Pagu anggaran untuk proyek peningkatan ruas jalan segmen simpang Waikomo-Wulandoni semestinya 10 miliar tetapi tahun anggaran 2015 ini kita baru anggarkan 5 miliar. Tahun 2014 segmen jalan ini bermasalah sehingga proses tendernya di hentikan, dananya di kembalikan ke kas daerah, kita baru anggarkan kembali, tetapi proses tendernya mungkin belum di lakukan pemerintah,” jelas politisi partai Demokrat itu.

Sementara itu, kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) kabupaten Lembata, Silvester Wungbele yang dihubungi berulangkali melalui kontak telepon tidak menjawab panggilan floresbangkit.com. (Yogi Making)

Siswa-Siswi Borong Tampilkan Aneka Tarian Meriahkan Hardiknas

Next Story »

Tokoh Petisi 50 Chris Siner Key Timu Tutup Usia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *