Kepsek SMP Negeri Nubatukan Bantah Ada Kebocoran Soal

LEWOLEBA, FBC- Kepala Sekolah  SMP Negeri II Nubatukan, Kabupaten Lembata, Yoseph Amasuba membantah berita bocoran soal UN SMP. Dia mengatakan, pelaksanaan UN di sekolahnya berlangsung aman, tertib dan tidak ada kecurangan.

Pernyataan Kepsek SMP Negeri II Nubatukan itu disampaikan melalui kontak telepon Kamis, (7/5/2015). Dia mengaku, akibat berita yang dirilis FBC, dirinya dipanggil untuk mengklarifikasi langsung Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lembata.

“Tidak ada benar ada permainan curang seperti yang diberitakan. Saya jamin pelaksanaan UN di sekolah saya tertib, tidak ada satupun guru, pengawas atau pihak lain yang berani membocorkan lembar jawaban. Sebagai kepala sekolah saja, saya tidak boleh masuk ke dalam ruang kelas dimana UN sedang berlangsung, jadi bagaimana mungkin bisa ada informasi seperti itu?” Kata Amsuba.

Kepala Sekolah yang mengaku baru enam bulan memimpin SMP Negeri II Nubatukan itu mengatakan, bagaimana mungkin dikatakan guru mata pelajaran yang mengejerkan soal UN, karena guru yang bersangkutan mendapat tugas sebagai pengawas pada sekolah lain. Dia juga mengaku kecewa dengan pemberitaan media massa tanpa mengkonfirmasi dirinya selaku kepala sekolah.

“Guru Matematika di SMP II Nubatukan, menjadi pengawas UN di sekolah lain. Jadi informasi itu tidak benar,” tegasnya lagi.

Sementara itu, pantauan FBC terhadap pelaksanaan UN SMP hari ke empat di Kabupaten Lembata masih berlangsung aman. Secara umum sekolah mengaku tidak ada masalah dengan lembar pertanyaan maupun waktu yang disediakan. Mereka juga mengaku tidak terganggu dengan isu kebocoran lembar jawaban.

Suasana UN hari terakhir di SMP St. Pius x Lewoleba, tampak dua guru sedang mengawas pelaksanaan UN, sementara itu siswa peserta UN terlihat serius mengerjakan soal UN. (foto : FBC/Yogi Making)

Suasana UN hari terakhir di SMP St. Pius x Lewoleba, tampak dua guru sedang mengawas pelaksanaan UN, sementara itu siswa peserta UN terlihat serius mengerjakan soal UN. (foto : FBC/Yogi Making)

“Tingkat kejujuran anak-anak di sini sangat tinggi, mungkin ada soal yang dirasa berat tetapi anak-anak tidak buat hal-hal curang. Mereka juga sangat patuh dengan aturan, selama pelaksaan UN tidak ada murid yang bawa HP, bahkan tas sekalipun kami minta di tinggal di luar ruang kelas. Secara umum tidak ada kendala. Hanya ada satu keluhan kecil di UN Bahasa Inggris tetapi bisa diatasi. Begitu juga dengan waktu, anak-anak bilang waktu yang disediakan untuk satu mata pelajaran pas, bahkan untuk murid yang bermampuan baik, dia selesai dulua,” kata Suster Consepta, CB, S.Pd, kepala Sekolah SMP Katolik St. Pius X Lewoleba.

Suster Consepta yang ditemui diruang kerjanya, Kamis (7/5/2015) mengatakan, tak beda dengan sekolah lain, SMP St. Pius X Lewoleba menomor satukan pendidikan karakter kepada anak didiknya, karena itu perilaku siswa menjadi prioritas pertama bagi sekolah untuk menentukan kelulusan anak didiknya.

“Kalau standar kelulusan yang ditetapkan pemerintah adalah, 5,50 tetapi disini supaya bisa lulus siswa haru mencapai rata-rata nilai 70. Tetapi penilaian terutama adalah perilaku, setelah itu baru kita pertimbangkan nilai UN dan US. Hal positif yang saya lihat disini adalah anak-anak punya gengsi yang tinggi mereka tidak mau tinggal kelas, maka mereka berusaha keras untuk menjadi yang terbaik, dan lulus. Mereka tidak mau mengulang kelas di tahun berikutnya. Semangat belajar yang tinggi itulah hal yang sangat positif bagi anak-anak disini,” ungkap Sr. Consepta dengan senyum sumringah. (Yogi Making)

 

 

Konsolidasi Golkar NTT, Pengangkatan PLT untuk Menjalankan Roda Partai

Next Story »

Pemerintah Targetkan Tahun 2018 Sudah Tercipta 273 Desa Wisata di NTT

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *