Bagian Terakhir dari Dua Tulisan

Jembatan Palmerah dan Rindu yang Purnama

Selat kecil antar Pulau Flores dan Pulau Adonara.

Selat kecil antar Pulau Flores dan Pulau Adonara.

Oleh:  Canisius Maran

Salah satu tujuan Gubernur Frans Lebu Raya mengunjungi Jepang pada pertengahan Oktober 2014 adalah mencari dana untuk pembangunan Jembatan Palmerah yang menghubungkan Flores Timur dan Pulau Adonara. Sebagai anak tanah Adonara, demikian Floresbangkit.com memberitakan, Frans Lebu Raya ingin menorehkan sebuah karya monumental sebelum mengakhiri masa tugasnya selama 15 tahun.5 tahun (2003-2008) sebagai Wakil Gubernur dan 10 tahun sebagai Gubernur NTT (2008-2018).

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Entah suatu kebetulan, namun kunjungan ke Jepang mencari dana pembangunan Jembatan Palmerah, diketahui hanya selang dua minggu setelah DOB Adonara tidak masuk dalam agenda sidang paripurna DPR periode lalu.

Proses DOB Adonara pun menyisakan kenangan karena begitu banyak pejabat dan tokoh masyarakat Flotim hadir di Gedung DPR-RI, menunggu keputusan Sidang Paripurna. Ternyata, Sidang Paripurna terakhir DPR periode 2009-2014 adalah pengesahan RUU Pilkada menjadi UU lewat voting dengan opsi pilkada melalui DPRD. Sebuah keputusan yang kemudian dikenal sebagai drama politik Jumad dini hari, 29 September 2014.

Satu harapan kandas (DOB Adonara), muncul impian baru (Jembatan Palmerah) di tengah sebuah kerinduan besar, rindu yang purnama, yakni keinginan Frans Lebu Raya menorehkan sebuah karya monumental, khususnya bagi masyarakat Adonara, sebelum mengakhiri masa tugasnya sebagai pemimpin tertinggi di NTT.

Bagi masyarakat Adonara yang sudah siap bergenbira ria dan para pejabat Flotim yang duduk menunggu di lantai dasar gedung DPR-RI, tentu merasa kecewa karena DOB Adonara tidak masuk Agenda Paripurna DPR-RI. Namun kekecewaan itu langsung beralih ke sebuah harapan baru, darikunjunganFrans Lebu Raya ke Jepang mencari dana pembangunan jembatan penghubung daratan Flores Timur dan Adonarayang dikonstruksikan sebagai sebuah kawasan ekonomi terintegrasi.

Konon, pembangunan jembatan tersebut untuk memperlancar arus transporasi manusia dan barang, sebagai prasarana pemasangan pipa air dan gas, jaringan utilitas (kabel dan serat optic), pembangkit tenaga listrik pasang surut gelombang laut,bahkan dapat membantu mengurangi terjadinya perang tanding antar suku di Pulau Adonara, juga mengurangi terjadinya kecelakaan perahu motor yang sering menelan korban jiwa akibatganasnya arus Gonsaluh, dan lain sebagainya, bla bla bla bla.

Gagasan tersebut tentu sungguh sangat menggembirakan hati, juga bagi para pencinta seni drama, karena mengingatkan pada monolog antara Estragon dan Vladimirdalam lakon Waiting for Godot, karya besar Samuel Beckett.Magnum Opus milik seniman besar Irlandia ini, sekalipun sangat eksistensialis dalam karakterisasinya, sebenarnya bercerita tentang sebuah harapan.Boleh jadi mirip dengan dongeng jembatan penghubung seperti dijanjikan Gubernur Frans Lebu Raya kepada masyarakat Adonara dan Flores Timur Daratan, yang hingga kini masih terus menunggu, seperti Vladimir dan Estragon yang terus menunggu datangnya harapan.

Hasil dari kenyataan hidup semacam ini, harus diakui bahwa perjuangan berat melawan waktu termasuk menciptakan permainan apa saja untuk melawan waktu.Seperti Vladimir dan Estragon yang selalu bersama, demikian masyarakat Flores Timur Daratan dan Adonara tak ingin berpisah, meski tanpa sebuah jembatan penghubung.

Padahal, dalam hati, mereka merasa lebih bahagia jika berpisah, dengan atau tanpa jembatan karena transportasi dan komunikasi sampai kini belum menimbulkan masalah yang berarti.Salah satu alasan utama kenapa mereka meneruskan hubungan adalah bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain untuk membunuh waktu. Sebuah refleksi, sekaligus deskripsi atas larinya harapan.

Kembali pada niatan membangun jembatan, kenyataan hampir semua pembangunan jembatan penghubung pulau di negara ini selalu berawal filosofi yang dikembangkan berdasar kajian-kajian pihak yang berkompeten.Seperti ketika Prof. BJ Habibie berniat menghubungkan Batam-Rempang-Galang (Barelang), yang diibaratkan Benelux (Belgia-Netherlands-Luxemburg).Juga Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) dan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang menghubungkan Merak (Banten)-Bakauheni (Lampung).

Saya kebetulan mengikuti semua presentasi ini di BPPT dan LIPI ketika masih di Majalah Teknologi.Karenanya memahami saja ketika Presiden Joko Widodo memutuskan untuk tidak melanjutkan megaproyek Jembatan Selat Sunda (JSS) karena tidak seirama dengan konsep pembangunan maritim. Lagipula, menurut presiden, JSS tidak cukup menguntungkan bila hanya ada berupa jalan bebas hambatan yang menghubungkan Sumatera dan Jawa.

Namun, kita mungkin perlu mengetahui bahwa gagasan dasar menghubungkan Jawa-Sumatera ini pada awalnya karena arus lalu lintas kapal feri yang membawa manusia dan kendaraan di Selat Sunda terus meningkat setiap tahun, terutama pada Hari Raya Idulfitri, akibat jalur leher botol (bottle neck) di Selatan Sumatera.

Karena itu, BPPT dan Pemda Lampung melakukan studi kemungkinan penghubung lalu lintas Jawa-Sumatera non feri.Namun Presiden Soehartosaat itu memiliki wawasan lebih strategis menambahkan pada proyek tersebut dengan istilah penghubung dari Jawa ke Bali.Sesuai perkembangan industri pariwisata Bali yang terus mengalami peningkatan. Karena itu, proyek konstruksi raksasa yang menghubungkan Sumatera-Jawa-Bali diberi nama oleh Presiden Soeharto: Trinusa Bima Sakti.

Maka mulai tahun 1986 dilakukan studi pendahuluan oleh BPPT dan Pemda Lampung bersama forum Iptek Jepang, menyusul studi kelayakan berikut pengumpulan data sekunder hingga tahun 2009.Studi ini memang memerlukan waktu lama mengingat proyek raksasa ini memerlukan kecermatan tinggi agar kelak dapat menjamin keamanan dan keselamatan masyarakat.

Sebagai perbandingan, Jepang yang begitu canggih teknologinya memerlukan waktu 40 tahun (sejak 1946) untuk membangun Terowongan SEIKAN yang menghubungkan Pulau Hokaido dengan Pulau Honshu sepanjang 53 kilometer. Waktu 20 tahun untuk survai dan penelitian, 7 tahun persiapan teknis dan 16 tahun konstruksi.

Namun Presiden SBY lebih prioritaskan pembangunan jalan tol di Sumatera untuk mengintegrasikan perekonomian.Hingga Presiden Joko Widodo mengatakan secara resmi tidak melanjutkan proyek konstruksi raksasa ini,karena tidak seirama konsep pembangunan maritim bahkan menurut presiden, JSS tidak cukup menguntungkan bila hanya berupa jalan bebas hambatan yang menghubungkan Sumatera dan Jawa.

Menurut presiden, kalau kita kaya raya, boleh saja setiap pulau disambung dengan jembatan, tetapi negara mana pun yang wilayahnya lebih didominasi laut, akan memaksimalkan jalur air sebagai jalur distribusi logistik melalui pembangunan dan pengembangan pelayaran yang akan diikuti pembangunan dermaga.

Artinya, keinginan Gubernur NTT Frans Lebu Raya membangun Jembatan Palmerah dengan menggandeng pemerintah Jepang kiranya masih memerlukan penjelasan lebih lanjut.Apalagi gagasan ini tidak melibatkan BPPT dan LIPI, sebagai badan yang berkompeten dan berwewenang menentukan jenis dan proses alih teknologi.

Jika keinginan Gubernur Frans Lebu Raya membangun kawasan ekonomi terintegrasi antara Pulau Adonara dan Flotim Daratan, pertanyaan kita mau dibawa kemana Pulau Solor jika Flores Timur itu juga sebuah kabupaten kepulauan?Dan yang paling utama apakah di dalam Pulau Adonara sendiri sudah terintegrasi? Apakah orang Tanah Merah, Tobilota, Wailebe dan Botun sering ke Pasar Waiwerang, jika Postoh dan Kota Rehna selalu ada di pelupuk matanya?

Yang lain dari itu, daripada membanggun Jembatan Palmerah, mengapa tidak membangun jembatan yang menghubungkan Sumbawa dan Flores agar menarik para peserta Festival Tambora jika nantinya akan diadakan setiap tahun, untuk melihat-lihat Komodo dan keindahan alam Flores lainnya.

Artinya, baik gagasan DOB Adonara maupun Jembatan Palmerah memiliki kemiripan satu sama lain, ketika gagasan itu tampil sebagai permainan untuk melewati waktu, mirip adegan-adegan dalam Waiting for Godot, hanya saja, dimana Godot itu disembunyikan?

Jadi, berapa purnama lagi harus kutunggu hadirmu di sini, membawa rindu kita yang purnama, di ujung Tanah Merah ini.Anganmu telah membawa aku terbang jauh melayang, melebihi tingginya Ile Mandiri yang menjulang kekar menatap Ile Boleng, di sana, di ujung Nuha Tadon Adonara,dibaliksayup-sayup Ile Labalekang.

Musim terus berganti, hari pun mulai senja dan jalan pun kian menurun dan terjal.Namun kau masih seperti ilusi di bait puisimu, indah tanpa rupa bagai rembulan dibalut awan kelabu!!! (habis)

Festival Tambora dan Angin Pariwisata Flores

Next Story »

Toleransi Antaragama: Belajarlah dari NTT

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *