Gregorius Garu

Hidupnya Tak Semanis Gula Aren yang Dijajakan

Hampir selama 40 tahun terakhir, Gregorius Garu (70) setia menjajakan gula aren keliling dari rumah ke rumah, kantor ke kantor. Lelaki renta yang pekerjaan utamanya sebagai petani ini tekun menjalani pekerjaan sampingan sebagai pedagang keliling, meski kadang merugi karena dagangannya tidak laku. Bagaimana kisahnya?

SIANG itu, udara di atas Kota Labuan Bajo terasa menyengat. Sesosok lelaki tua, ber sandal jepit bergegas menuju sebuah kantor dinas yang ada di lingkup Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. Sambil memikul dua buah wadah kantong plastik berisi gula aren, kaki lelaki beruban tersebut menapaki anak tangga kantor megah itu. Memakai topi songket khas Manggarai, pria tua itu tampak tidak peduli terhadap puluhan pagawai yang tengah berbaris rapi di halaman kantor.

Pria tua itu bernama Gregorius Garu (70). Pria tua asal Kampung Loha, Kecamatan Macang Pacar Kabupaten Manggarai Barat itu adalah seorang pedagang gula aren yang sudah puluhan tahun bergelut dengan pekerjaannya sebagai penjual keliling, yang telah ia jalani selama hampir 40 tahun lamanya.

“Saya menjalani bisnis ini sejak masih muda. Sudah sekitar empat puluh tahun. Tapi, pekerjaan ini hanya pekerjaan sampingan saja. Saya sebenarnya seorang petani,”ujar Bapak Goris, demikian ia biasa disapa, pekan lalu di Labuan Bajo.

Gregorius Garu sedang menjajakan barang dagangannya dari rumah ke rumah. (Foto: FBC/Kornelius)

Gula aren dalam kemasan yang dijajakan Gregorius Garu dari rumah ke rumah. (Foto: FBC/Kornelius)

Bapak Goris berkisah, banyak pejabat di lingkup pemerintah Manggarai Barat mengenal sosok dirinya sebagai penjual gula aren. Pasalnya, setiap musim produksi gula aren, Bapak Goris selalu membawanya ke kota untuk dijual kepada para pelanggan. Sebagian besar pelanggan atau pembeli adalah kalangan kelas menengah alias para pegawai negeri sipil. Bapak Goris sendiri bukanlah pembuat atau produsen gula aren. Gula aren biasa diproduksi oleh orang lain di kampungnya. Namun untuk urusan jual menjual, para pembuat gula aren percayakan kepada Bapak Goris. Maklum, Bapak Goris dipercaya warga bukan hanya karena kejujurannya tetapi jiwa kewirausahaan dia dibandingkan dengan sesama warga kampung lainnya.

Dalam urusan jual menjual Bapak Goris mengaku tidak memiliki jurus khusus untuk menarik para pembeli atau pelanggan. Namun, ia mengaku berjualan di pasar kurang efektif dan efisien karena menghabiskan banyak waktu untuk menunggu pembeli datang. Padahal, jika barang dagangannya ia jajakan dari rumah ke rumah penduduk atau ke kantor-kantor pemerintahan maka barang dagangannya bakal cepat laku terjual sehingga ia segera kembali ke kampung untuk mengambilnya lagi.

“Saya tidak mau berjualan di pasar karena terlalu lama menunggu pembeli. Saya tidak punya waktu untuk menunggu berlama-lama. Saya lebih memilih berjualan dari rumah ke rumah atau ke kantor pemerintah. Barang saya lebih cepat laku dan yang paling penting, saya bisa bertemu dan berkenalan dengan semua orang dari mana saja,”katanya bangga.

Bapak Goris mengambil gula aren di kampung dengan harga Rp 2.500 per batang, sampai di Labuan Bajo ia jual dengan harga Rp.10.000/batang. Ia untung Rp. 7.500. Dari kampung rata-rata ia membawa sebanyak 250 batang gula aren yang sudah dikemas dengan daun padan atau daun pisang. Meskipun keuntungan yang diperoleh tergolong kecil karena sebagian keuntungan dipergunakan untuk membayar trasportasi, namun bapak Goris tetap bangga dan setia dengan profesinya sebagai penjual aren.

Bapak Goris mengisahkan, bahwa naluri bisnisnya sudah ditempa sejak masih usia muda. Pada usia 20-an tahun ia pernah berdagang babi dan sopi (sejenis minuman keras) ke sejumlah pasar tradisional di Manggarai. Bagi Bapak Goris, pekerjaan apapun  akan ia jalani asalkan pekerjaan itu halal dan dapat mendatangkan keuntungan bagi keluarga.

Tidak laku

Sebagai pedagang keliling, Bapak Goris mengaku bukan tanpa tantangan. Tantangan terberat adalah di kala dagangannya tidak laku terjual atau ditolak para pembeli. Tapi yang paling membanggakan hati dia adalah ketika barang dagangannya laku terjual dan lebih dari itu setiap orang yang ia temui mau berteman dengannya. Ia bersyukur karena melalui berdagang dari rumah ke rumah ia dapat bertemu dan berkenalan dengan banyak orang dan dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, dan golongan yang berbeda-beda. “Saya bangga karena bisa bertemu dengan para pejabat dan bersahabat dengan banyak orang dari berbagai daerah,”katanya.

Sementara jika dihitung-hitung keuntungan yang diperoleh sesungguhnya tidak seberapa. Apalagi bila dibandingkan dengan standar upah harian kerja, tentu itu sangat jauh berbeda dan tidak setara dengan pengorbanan yang dialaminya. Namun, dibalik itu nilai sosial dan kemanusiaanlah yang mendorong Bapak Goris tetap eksis menjalankan profesinya sebagai penjual gula aren.

Gregorius Garu sedang menjajakan barang dagangannya dari rumah ke rumah. (Foto: FBC/Kornelius)

Gregorius Garu sedang menjajakan barang dagangannya dari rumah ke rumah. (Foto: FBC/Kornelius)

Meskipun demikian, ia mengaku profesi sebagai penjual gula aren tidak menghambat profesi tradisional dia sebagai seorang petani. Bila musim hujan tiba, Bapak Goris tidak turun ke kota. Ia lebih memilih tinggal di kampung untuk mengerjakan kebun, merawat tanamannya seperti kopi, cengkeh dan coklat yang ia tanam semasa mudanya dulu. Ia masih mempunyai belasan hektar lahan di kampung yang sebagian besar sudah dikelola oleh anak-anaknya yang sudah berumahtangga.

“Anak-anak sudah berumah tangga semua, jadi saya sudah tidak ada tanggungjawab lagi. Saya ingin bebas dan menikmati hari tua saya dengan melayani sesama,’ketus Bapak Goris yang mengaku sebagai “guru” Agama Katolik di kampungnya.

Itulah sekilas roda kehidupan Bapak Goris yang ia masih jalani hingga sekarang. Kini ia bersama istri tercinta tinggal di sebuah rumah sederhana di Kampung Loha. Sayang, sang istri sudah sangat rentah sehingga tidak bisa lagi berjalan jauh, bahkan untuk keluar rumah saja sudah nyaris tidak mampu. Namun, di tengah himpitan kehidupan dan dalam menjalani hari-hari tua, Bapak Goris mengaku ia bersama sang istri sering kali bercanda ria mengenang masa muda mereka yang penuh romantika. Mungkin keceriahan hidup yang selalu mereka jalani membuat Bapak Goris masih tampak awet dan energik.

Tidak heran, jika pada suatu waktu, Bapak Goris bercanda pada istri tercintanya agar ia diperbolehkan untuk kawin lagi. Saat itu Bapak Goris hanya bisa tertawa terkekeh-kekeh.”Waktu saya bilang mau kawin lagi, istri saya malah bilang, kalau saya sudah tidak mampu lagi,”kata Bapak Goris sambil tertawa lepas. (*)

Penulis : Kornelius Rahalaka

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Menanam Bakau, Meraih Kalpataru

Next Story »

“Meraih Mimpi, Mengabdi pada Panti”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *