Rangkuk Alu

Geliat Asa Saat Purnama Tiba

Tarian Rangkuk Alu adalah warisan leluhur yang membawa pesan bagi kehidupan manusia. Umumnya tarian ini dipentaskan di Natas, halaman umum di tengah kampung. Sayang informasi asal usul penciptaan karya seni ini masih amat terbatas.

Hari itu, Senin, (4/5/2015) langit di atas Kota Borong nampak bening. Udaranya terasa bersih. Namun awan tipis nampak malu meski memaksa menampakkan diri.

Orang-orang berduyun-duyun datang ke sebuah lapangan sepakbola di Ibukota Kabupaten Manggarai Timur itu. Mereka ingin menyaksikan sebuah pementasan seni pelajar sejumlah sekolah yang digelar untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Barisan siswa/i SMKN I dan SMAN II Borong memasuki arena pentas Rangkuk Alu. (Foto : FBC/Kanis Lina Bana)

Barisan siswa/i SMKN I dan SMAN II Borong memasuki arena
pentas Rangkuk Alu.
(Foto : FBC/Kanis Lina Bana)

Semua nampak antusias, maklum kesempatan berkumpul menyaksikan perhelatan besar jarang sekali ada. Sebagian adalah para pembelanja yang datang dengan membawa belanjaannya. Hari itu bertepatan hari pekan pasar utama di sana.

Kerumunan itu mulai berdesakan saat terdengar bunyi gong dan gendang yang dipukul mengikuti irama. Nampak serombongan pelajar perempuan dari beberapa Sekolah Lanjutan Atas melangkah maju. Dengan gerak meliuk manja, barisan perempuan masuk ke arena pentas.

Para penari itu berdandan dengan pakaian khas daerah Manggarai. Paduan kostum adat kain songke dibalut baju mbero sungguh menawan hati. Indah dipandang mata. Kombinasi gerakkan dengan aura pesona wajah-wajah cantik sungguh memesona.

Mereka bergerak seiring irama tetabuhan. Penonton terpikat saat mereka bergerak dengan melenturkan tubuh menujur arena pentas.

Tak lama kemudian giliran kelompok penari laki-laki. Mereka melangkah sambil menghentakkan kaki. Tubuhnya sedikit menjorong ke depan. Barisan pemuda menyusur masuk ke tengah sambil membentuk dua barisan berhadap-hadapan dengan posisi duduk.

Lalu tangan mereka meraih batang-batang bambu yang disediakan, membenturkan dua batang bambu yang mereka pegang. Iramanya dua kali membentur batang bambu yang melintang di tanah, lalu satu kali dibenturkan antar batang bambu yang dipegang bersamaan batang bambu diangkat.

Rombongan penari wanita menghentikan gerakannya. Mereka menyaksikan aksi para penari laki-laki. Dengan hitungan satu dua, kaki-kaki lincah gadis cantik ini melompat diantara celah benturan batang bambu. Pada hituang pertama kaki digerakkan diantara batang bambu yang dibenturkan pada bambu yang menjadi alasnya. Pada hitungan kedua penari mulai melompat dengan gerakkan diantara kedua bambu. Begitu seterusnya sampai pada pasangan batang bambu terakhir.

Ketika melompat pada celah bambu yang dibenturkan itu butuh perhatian serius agar kaki tidak terjepit. Lompatan kaki lincah mengikuti irama benturan batang bambu sungguh tontonan menarik.

Penari perempuan  menari bebas dengan formasi tertentu menuju adegan rangkuk alu sambil mengamati sesaksa agar adegan rangkuk alu bisa dimainkan secara baik. (Foto : FBC/Kanis Lina Bana)

Penari perempuan menari bebas dengan formasi tertentu
menuju adegan rangkuk alu sambil mengamati sesaksa agar adegan rangkuk
alu bisa dimainkan secara baik. (Foto : FBC/Kanis Lina Bana)

Jika sudah tiba di ujung batas barisan penabuh batang bambu wanita cantik ini kembali meliukkan gerakkan-gerakkan indah teratur. Seterusnya kembali ke titik star awal lalu melompat dan terus melompat. Irama benturan bambu dan gerak lincah para penari menjadi harmonisasi tarian rangkuk alu.

Ketangkasan

Adegan melompat-lompat di sela-sela batang-batang bambu itu sekilas nampak mudah, namun sesungguhnya tidak demikian. Bila tak cermat kaki bisa terjepit. Memainkan tarian Rangkuk Alu butuh nyali dan disposisi batin yang baik. Irama benturan menjembatani disposisi batin antar pemuda yang membenturkan bambu dengan wanita yang akan melompat. Ada saling percaya bahwa tidak ada pihak yang dikorbankan. Tidak ada kecurangan. Semua baik adanya. Asal lincah bisa menghitung iramanya. Gesit mengantur lompatannya.

Zakarias Ingga (70), tokoh adat Tenda-Riwu, memastikan tarian Rangkuk Alu sudah lama dimainkan secara luas di seluruh Manggarai Raya. Namun asal-usul pencipta tarian itu sulit dipastikan. Kekuatan kreatifitas dan keindahan yang melatari penciptaannya membuat tarian ini disukai masyarakat dalam kurun waktu tertentu. Kemudian popularitasnya surut hingga sekelompok guru sekolah berusaha mempopulerkannya kembali.

Saat ditemui di Pasar Borong, tetua Ruteng-Cancar, Melkior Dados (76), menambahkan bahwa kelangkaan informasi juga dialami warisan budaya lain. “Hampir semua warisan leluhur tak banyak yang mencatatnya kalaupun ada para misionaris Baratlah yang memulainya,” ujar dia.

Catatan mereka baru sebatas identifikasi dan klasifikasi untuk kepentingan penelitian dan lainnya. Salah satu yang masuk dalam pencatatan itu adalah Rangkuk Alu. Sayang hingga kini tarian yang dimainkan penuh dinamika dan penghayatan itu tetap belum jelas asal-usulnya. Banyak orang suka karena ragamnya bervariasi dan tingkat kesulitan yang sungguh menantang.

Willi Nurdin, tokoh masyarakat Lamba Leda, berpendapat bahwa pencipta yang belum dikenal itu menyelipkan pesan syarat makna dalam karya seninya. Pertama, soal nyali dan kepiawaian yang tak semua bisa memenuhinya. Seni bergandengan dengan ketangkasan, nyali dan kecermatan agar bisa mementaskan tarian secara harmoni. Jika salah melompat kaki bisa terjepit. Saat berhadapan dengan bambu, penari harus selalu berhati-hati sebelum melompat.

Kedua, keindahan dan disposisi batin. Sebagai karya seni, Rangkuk Alu mengungkapkan pesan-pesan moral bagi komunitasnya. Bila tak mau jatuh terpelanting, atau jadi korban, penari mesti punya kenyamanan batin.

“Iramanya unik. Berbeda dengan tarian khas Manggarai umumnya. Namun pesannya sangat kuat dibaliknya. Ada irama yang menuntut ketangkasan dan nyali untuk bermain rangkuk alu dengan benar,” katanya.

Penumbuk Padi

Bibiana Monika Bumi, S.Pd (37) pencinta dan pelaku tarian budaya Manggarai bertutur kepada wartawan di Borong bahwa menjelaskan para peneliti masih sulit menjawab pertanyaan kapan tarian ini mulai diperkenalkan.

Sedikit informasi yang ada serta tuturan lisan beberapa tokoh adat menyebutkan bahwa tarian ini membahasakan suasana gembira, damai penuh persaudaraan. Ada rasa saling percaya antara lelaki yang membenturkan bambu dengan wanita yang melompat diantara celah bambu yang dibenturkan.

Bibiana yang pernah meneliti tarian ini, serta mengamati goet atau ungkapan-ungkapan adat, mendapati banyak simbolisme metafora pada tiap gerakan. Di dalamnya tertanam ketenangan batin untuk menghayati tiap gerakan dan kemampuan membaca irama. Rangkuk Alu lebih dari seni bermain namun perpaduan gerak irama batang bambu. Pelaku harus bisa mengelola diri agar bisa lolos dari jebakan jepitan.

Tarian ini dipentaskan ketika purnama tiba. Usai bekerja di ladang di musim panen, petani pulang dan menyimpan padi di lumbung. Usai makan malam, untuk mengisi sepi dan menanti kantuk datang mereka menari Rangkuk Alu. Mereka umumnya adalah anak-anak muda yang berkumpul di natas atau ruang terbuka tengah kampung.

“Anak muda yang sedang mencari perhatian dari seorang pemudi bisa menunjukkan kemampuan berkreasi di hadapan sang kekasih idamannya melalui tarian ini. Demikian sebaliknya dari kekasih wanita. Rangkuk Alu jadi medium perjumpaan cinta muda-mudi yang hendak mencari pendamping hidup yang tepat,” ujar anak tetua adat Lao Ruteng itu.

Nama dan sarana tarian itu sendiri berarti kabar kepada warga kampung bahwa padi panenan dari ladang sudah boleh ditumbuk atau diolah menjadi beras. Alu berarti alat penumbuk padi bila ditumbuk akan menimbulkan irama.

Biasanya lesung tumbuk padi dilakukan enam orang gadis. Mereka mengeliling lesung dengan alu di tangan. Mereka silih berganti menghujamkan alu pada lubang lesung yang sudah dimasukan padi.

” Tarian ini juga mempresentasikan syukuran ketika panen usai. Juga mengingat hasil panen boleh diolah,” katanya.

Penulis: Kanis Lina Bana
Editor: Donny Iswandono

Menebar Pewartaan, Mengajarkan Disiplin dan Kejujuran

Next Story »

Batok Kelapa, Pundi Uang untuk Wili

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *