Bagian Terakhir dari Dua Tulisan

Flores (Harus) Bangkit

Oleh : Robert Bala

Kekayaan budaya (bahasa, agama, adaat istiadat) merupakan sebuah kekuatan yang masih terpendam. Lebih lagi kekuatan yang ada tidak saja berupa sumber daya alam yang pengambilannya bisa berhingga oleh keterbatasan tetapi terutama sumber daya yang menjadi kekuatan.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Bagaimana mewujudkan semuanya agar Flores yang selama ini ‘tertidur’ (tidak mengatakan mati) dapat bangkit?

Penataan Sistem

Sejak era reformasi, pemantapan sistem telah menjadi agenda penting. Pemekaran wilayah misalnya dilaksanakan dengan tujuan ‘sangat mulia’ untuk menyejahterakan rakyat serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam kenyataannya, ia sekedar jalan agar munculnya pemimpin lokal dengan tendensi sangat besar untuk lebih menyejahterakan diri dan keluaga. Di sana ia mengerucutkan semua birokrasi agar dapat melayani kepentinganya dan bukan kepentingan rakyat.

Kevakuman ini telah mendorong kepada penataan sistem berorganisasi. Dalam sistem ini, masyarakat harus menjadi pemeran. Ia tidak tinggal diam tetapi aktif dalam organisasi untuk dapat mengontrol pemerintah.

Hal ini sangat penting. Di Flores, organisasi yang lebih profesional masih jauh dari harapan. Ada kecendrungan untuk sekedar menjadikan organisasi untuk ‘kumpul-kumpul’ bak arisan. Bisa saja disengajakan oleh yang berkuasa agar dengan pola demikian masyarakat tetap jauh dari informasi yang menjadikannya sebagai subjek dari perkembangan.

Pembangunan sistem yang kuat tentu butuh proses. Sebagaimana organisasi Budi Utomo, ia mulai dengan sangat kecil. Awalnya ia hanyalah organisasi mahasiswa kedokteran (STOVIA). Itupun dengan bidang kiprah hanya pada ekonomi, sosial, dan budaya, yang juga untuk golongan bependidikan di Jawa, Dr. Sutomo sebagai pendiri mulai melihat bahwa hal itu harus ditata. Mulai dari kepempinan yang awalnya lebih berasal dari kaum priyai, kemudian perlahan meluas.

Dalam waktu relatif singkat yakni 5 bulan, kekuatan organisasi itu telah menyebar hingga ke Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan ponorogo. Sebuah sambutan positif lahir dari sebuah sistem berorganisasi yang rapi tetapi sekaligus terbuka terhadap pembaharuan.

Pengalaman berorganisasi dalam ‘jatuh bangun’ yang bahkan juga dialami Budi Utomo oleh kesadaran bahwa ia dijauhkan karena lebih dikuasai oleh kaum priyai terutama oleh desakan agar lebih proaktif dalam bidang politik, menunjukkan bahwa sebuah organisasi itu terlahir dan menjadi matang dalam proses.

Yang tak kalah penting, organisasi itu lahir dari dalam. Ada sebuah kesadaran. Ia tidak dibuat-buat. Kenyataan ini menjadi sebuah masukan bahwa banyak kali sistem berorganisasi lebih bersifat ‘pemaksaan’. Sistem akhirnya tidak menjadi kuat karena ia tidak didasarkan pada sebuah nilai tetapi lebih menjadi alat untuk mencapai kepentingan terselubung.

Dalam perspektif ini, Flores hanya bisa bangkit kalau dimotori oleh nilai-nilai lokal yang sudah dimiliki. Ada aneka kebajikan yang merupakan akumulasi kebijaksanaan kaum leluhur dan dipertahankan sebagai nilai. Nilai gotong royong, rasa takut akan akibat dari sebuah perbuatan jahat, nasihat-nasihat, merupakan nilai yang sudah dimiliki.

Sebuah contoh. Pada sebuah desa di Lembata, Atawolo, kebijaksanaan leluhur telah merangkai semua suku dalam sebuah frase. Hal itu hanya menunjukkan bahwa persatuan adalah sebuah nilai, dalamnya semua orang puya tempat khusus. Sistem seperti itulah yang perlu dihidupkan dengan menggali kebajikan lokal (local wisdom) yang sudah dihidupi.

Ragam Pendidikan

Hal penting lainnya yang menjadi pilar demi kebangkitan Flores adalah pendidikan. Saatnya kini, apabila Flores ingin lebih bangkit lagi maka ruang pendidikan ini perlu diberi ruang.

Tetapi pendidikan yang dimaksud tidak bisa diartikan sekedar pemertaan pendidikan. Semua wilayah diberi sarana pendidikan dengan tujuan agar semuanya dapat berkembang. Idealisme itu baik adanya. Tetapi ia belum menjamin adanya kemajuan ketika semua orang memiliki kemampuan dan keahlian yang sama dalam lingkup yang sama.

Untuk itu pendidikan haus lebih spesifik dengan berbasis pada kemapuan riil. Maksudnya setiap orang haus diberi ruang untuk mengembangkan diri sesuai potensinya. Yang terjadi, pendidikan di Flores masih sangat ‘seragam’. Meski suda hada perubahan tetapi arah pendidikan lanjut masih tertuju kepada pendidikan guru atau bidang sosial lainnya. Sementara bidang lain yang menghadirkan sebuah tawaran lebih baik nyaris digubris.

Kenyataan ini mestinya membuka mata pemerintah daerah di Flores untuk memberi ruang maksimal terutama kepada siswa potensial. Mesti ada terobosan untuk mengorbitkan mereka oleh kesadaran bahwa mereka adalah aset daerah yang kedepan dapat memberikan kontribusi yang penting.

Pendidikan seperti itu harus disertai dengan semangat kewirausahaan. Artinya, setiap orang yang disiapkan dalam pendidikan, harus memiliki komitmen bahwa ia tidak disiapkan untuk jadi pegawai negeri.Sebaliknya, pendidikan yang diberikan harus jadi pijakan untuk dapat mengembangkan sesuatu secara kreatif bagi daerahnya.

Hal ini diharapkan mendorong kaum muda untuk melihat daerahnya sebagai potensi yang harus dikelola oleh orang yang dididik oleh daerah. Yang belajar bidang ekonomi, mestinya memberikan keuntungan oleh koneksivitas yang tercipta sehingga keunggulan daerah dapat terjual. Sementara itu bidang teknologi harus beroritentasi untuk mengembangkan potensi lokal.

Semua bidang pendidikan di atas tentu akan berfaedah ketika ditempatkan dalam keterkaitan dengan bidang lainnya. Komunikasi harusnya menjadi bingkai besar yang ada di baliknya. Apa yang diketahui dan diajarkan harus dapat dikomunikasikan dengan baik sehingga bermanfaat selain bagi diri sendiri juga bagi orang lain. Kenyataan menunjukkan, banyak orang pintar tetapi hanya bagi dirinya sendiri. Ia tidak mampu mengomunikasikan dan membelajarkan orang lain.

Kesadaran ini semakin memberi ruang kepada media komunikasi. Dengan HP, komunikasi itu menjadi mudah. Memang tidak semuanya bisa menjadi ruang sandaran (oleh terlampaunya berita), tetapi secara selektif, kabar daerah bisa dikomunikasikan secara baik melalui media online. Dalam arti ini, tentu tidak berlebihan ketika Flores Bangkit bisa ditempatkan sebagai media pendukung untuk kebangkitan Flores. Melaluinya, aneka bidang pendidikan diharapkan mendapatkan perhatian maksimal dan dapat menjadi awal dari sebuah kebangkitan riil. (Habis)

Kebangkitan Flores

Next Story »

Penguasa Jangan Alergi Kritik

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *