Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Festival Tambora dan Angin Pariwisata Flores

Para Peserta Sedang Berlomba Bersama Perahu Mereka di Tengah Laut

Oleh :  Canisius Maran

Peringatan 200 tahun letusan dahsyat Gunung Tambora yang puncaknya diselenggarakan di Kabupaten Dompu, telah menyita perhatian kita, memberi kesan bahwa pemerintah provinsi NTB, khususnya Kabupaten Dompu berhasil menciptakan sebuah konsep promosi dan strategi kampanye sangat kuat.

Bagaimana pihak penyelenggara membalikan suasana 200 tahun lalu ke dalam sebuah peristiwa pariwisata bahkan membuka daerah-daerah baru yang selama ini tidak dikenal.Lebih dari itu, peringatan 200 tahun letusan Gunung Tambora dikemas dengan menarik dalam paduan antara aktivitas olahraga dan peristiwa pariwisata (sport tourism).

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Dari pemberitaan di berbagai media, kita mendapat gambaran bahwa gagasan untuk memperingatiperistiwa 200 tahun meletusnya Gunung Tambora, tepatnya pada 10 – 11 April 1815, datang dari anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas penggemar motor trail di Kota Dompu.

Sebagaimana penggemar motor trail, mereka pun menyukai lokasi lintas alam yang penuh tantangan, tejal dan berliku, tanjakan, berkelok dan bebatuan. Seperti mengambil lokasi di lereng Gunung Tambora dengan ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut, menjadi arena ketangkasan mengendarai motol trail.

Dan dari mereka inilah, gagasan memperingati 200 tahun meletusnya Gunung Tambora dimulai.Seperti kita saksikan, ada banyak kegiatan olahraga dilombakan dalam tajuk Tambora Menyapa Dunia.Misalnya,Trans Sumbawa 200, Ultramarathon 320 kilometer, Tambora Trail Run, Tambora Bike, lari lintas alam. dan beberapa kegiatan olahraga lain.

Padahal, letusan Tambora 200 tahun lalu, telah menimbulkan kepanikan, merenggut sekitar 117.000 jiwa, menghancurkan kebudayaan danmeruntuhkan tiga kerajaan di Sumbawa, memicu Tsunami di pesisir Selatan Indonesia dan mengagetkan Gubernur Thomas Stamford Rafles yang saat itu sedang berkuasa di Jawa.

Debu vulkanik Tambora, menyembur hingga lapisan stratosfer, menciptakan kegelapan sepanjang tahun 1815, yang kemudian disebut tahun tanpa musim panas di Eropa.Cerita tentang kegagalan Napoleon Bonaparte menyerang Inggris (Waterloo) karena semua prajuritnya kedinginan merupakan bukti bahwa satu-satunya yang ada dalam pikiran manusia saat itu adalah kematian.

Tetapi Tambora, selain menghancurkan kebudayaan, ternyata menghasilkan kebudayaan baru antara lain sastra.Puisi Darkness (Kegelapan) yang ditulis Lord Byron, seorang penyair Inggris abad 19 melukiskan hari-hari gelap di Eropa sepanjang tahun 1815.

Seperti yang dia tulis :Matahari yang cerah itu padam, dan bintang-bintang menggelap di angkasa abadi. Tanpa cahaya, tanpa jalan, dan bumi yang beku, membuta dan menghitam dalam langit tak berbulan.Pagi datang dan pergi—dan datang lagi, tanpa membawa hari.(The bright sun was extinguished, and the stars did wander darkling in the eternal space. Rayless, and pathless, and the icy earth swung blind and blackening in the moonless air. Morn came and went—and came, and brought no day).

Itulah Tambora di masa lalu, yang karena letusan dahsyatnya telah mengubah tanah Sumbawa menjadi lahan subur penghasil beras.Bahkan Kapet Bima pun sudah berhasil memberi kehidupan bagi para petani.Juga pemandangan indah dan jejak kerajaan kuno, serta kekayaan alam lingkungan seperti vegetasi Pulau Moyo.

Pada puncak acara 200 tahun letusan Tambora di Kabupaten Dompu, 11 April 2015, Presiden Joko Widodo telah meresmikan Taman Nasional Tambora seluas 74.645 hektar.Namun yang menarik, presiden meminta agar Festival Tambora dapat diselenggarakan setiap tahun dengan biaya dari Kementerian Pariwisata.

Pertanyaan kita, jika penyelenggaraan berbagai kegiatan olahraga dalam rangka peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora merupakan pintu masuk untuk pengembangan pariwisata berbasis olahraga atau wisata olahraga (sport tourism) di Sumbawa dan jika Festival Tambora akan diselenggarakan setiap tahun, manfaat apa yang bisa ditarik bagi pengembangan pariwisata di Flores?

Pertanyaan kita tentu berhubungan erat dengan kegiatan Sail Komodo 2013 setelah Komodo dinyatakan sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia. Kita juga banyak membaca bahwa pemerintah provinsi NTT bertekad memasukan pariwisata sebagai program unggulan, melengkapi program lain yang selama ini dibanggakan.

Saya teringat, sebuah seminar yang diselenggarakan pada 10 Desember 2008 di Bali oleh harian Pos Kupang bertajuk “50 Tahun Sunda Kecil Berlalu”. Seminar itu dihadiri tiga gubernur Bali-NTB-NTT, dan sejumlah praktisi mencapai kata akhir agar pariwisata dapat menjadi simpul pembangunan terpadu kawasan Sunda Kecil (Nusa Tenggara).Bahkan Gubernur Frans Lebu Raya mengatakan, Bali sebagai ibu yang melahirkan kembaran NTB dan NTT harus prihatin kalau kondisi kedua “anaknya” merana.

Sejak Nusa Tenggara terbelah menjadi Bali-NTB-NTT, ekonomi Bali berkembang pesat, bahkan mulai menimbulkan masalah lingkungan karena ledakan industri pariwisatanya tak terbendung.Kini, setelah pemerintah pusat memberi perhatian kepada Festival Tambora, sudah tentu kegiatan pariwisata di NTB akan berkembang pesat ke depan. Pertanyaan kita, bagaimana membangun infrastruktur dan akses pendorong pariwisata ke Flores, setelah peringatan 200 tahun letusan Gunung Tambora.

Ketika pemerintah Indonesia berniat mengembangkan perekonomian di Kepulauan Barelang (Batam-Rempang-Galang), Prof. Habibie ketika itu Menristek memperkenalkan “Teori Balon“ untuk membangun jembatan yang bisa menghubungkan ketiga pulau tersebut. Konsep ini pun dipresentasikan di hadapan Menteri Senior Lee Kuan Yew, dimana perekonomian Singapura dan sekitarnya diibaratkan suatu “sistem balon” yang dihubungkan satu sama lain dengan katup.

Alasan penggunaan katub yakni apabila salah satu balon terus menerus memuai, suatu saat tekanannya akan melebihi titik kritis sehingga pecah. Untuk mencegah agar balon pertama tidak pecah, balon ke-2 mengambil tekanan berlebihan melalui katup dan dapat membesar tanpa mengempeskan balon pertama. Balon ke-2 yang mengambil tekanan berlebihan dari balon pertama juga akan terus membesar sampai tekanan kritis sehingga dapat dialirkan ke balon ke-3. Demikian pula balon ke-3, ke-4 dan seterusnya.

Balon-balon itu, menurut Habibie merupakan perekonomian suatu kawasan, akan mampu berkembang hingga tekanan kritisnya tanpa pecah atau dikempeskan balon lain. Besar balon-balon itu tidak perlu semuanya sama karena besar maksimum perekonomian setiap daerah akan tergantung pada batas-batas sumber daya alam dan SDM yang tersedia.

Dan jika peristiwa 200 tahun meletusnya Gunung Tambora akan diadakan setiap tahun dalam acara Festival Tambora, sudah tentu ekonomi pariwisata Sumbawa akan berkembang pesat dan ini perlu dialirkan ke Flores dan seterusnya ke Adonara, Lembata hingga Alor, sebagaimana konsep Teori Balon.

Mengambil moment peringatan 200 tahun letusan Gunung Tambora, kita tentu berharap semua bupati Flores, mau menyiasati tekanan ekonomi pariwisata berlebih dari Sumbawa melalui ajang pariwisata yang digarap secara bersama. Lebih dari itu, bagaimana menjadikan pariwisata sebagai “payung bersama” untuk kepentingan bersama dan lebih dari itu membuka daerah-daerah wisata baru yang selama ini terisolasi.

Barangkali perlu juga dipertimbangkan pemikiran Gubernur NTB Zainul Majdi yang disampaikan pada waktu seminar di Bali, agar kebijakan tata ruang nasional Jawa-Bali perlu ditinjau kembali menjadi Bali-NTB-NTT, seperti awal Sunda Kecil. Sehingga ke depan, ekonomi berbasis pariwisata di setiap pulau, khususnya di NTB dan NTT dapat berkembang, sesuai daya dukung dan kemampuan SDMnya.

Apalagi, event Festival Tambora akan diselenggarakan setiap tahun, bukan tidak mungkin angin pariwisata dari Sumbawa akan berhembus semakin kencang ke Flores. Karena bagi para petualang alam, hawa sejuk pegunungan dan desiran ombak pantai selalu menjadi spot wisata yang unik.

Dan lokasi alam seperti di Sumbawa, tentu tidak jauh berbeda dengan di Flores, baik struktur alam yang pas dengan olahraga trail, seperti di Kelimutu atau Lembata, juga aneka seni budaya Flores dari Manggarai Barat hingga Ile Ape dan Waijarang, yang telah diakui para penulis travelIndonesia.

Sebuah tantangan bagi penyelenggara event pariwisata di Flores, untuk membangun sebuah tema yang kuat, dengan dukungan konsep promosi yang benar-benar bold and single minded, berikut dukungan moril dari para kepala daerah, sangat boleh jadi akansama menariknya atau bahkan melebihigebyarFestival Tambora. (bersambung)

Politik yang Bobrok, Andil Kekisruan Ekologi

Next Story »

Jembatan Palmerah dan Rindu yang Purnama

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *