Empat Siswa Tuna Grahita Ikuti Ujian Ahkir

Dua siswa tuna grahita sedang sedang mengikuti ujian akhir di SLB. Ujian tersebut didampingi dua guru pengawas yang juga guru SLB. (Foto : FBC/Ian Bala)

Dua siswa tuna grahita sedang sedang mengikuti ujian akhir di SLB. Ujian tersebut didampingi dua guru pengawas yang juga guru SLB. (Foto : FBC/Ian Bala)

ENDE, FBC-Empat siswa tuna grahita pada Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Ende, mengikuti ujian akhir. Empat siswa tersebut masing-masing, Yuli Brolin Bangu, Muhammad Rifaid, Katarina Babo dan Salbina Taso.

Keempat siswa dibagi dalam dua ruangan dengan spesifikasi tipe tuna grahita ringan dan tipe sedang. Tuna grahita ringan atas nama Katarina Babo dan Salbina Taso pada ruang 1 dan tipe grahita sedang atas nama Yuli Brolin Bangu dan Muhammad Rifaid pada ruang 2. Mereka diawasi empat guru pengawas, masing-masing terdiri dua pengawas.

Emiliana Bewu, pengawas 1 pada ruang tipe grahita ringan kepada FBC, (5/5/2015) di SLB Ipi, mengatakan terdapat 40 nomor soal ujian yang diberikan kepada siswa. Soal tersebut berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat karena untuk memudahkan siswa menyelesaikan.

Kepala SLB, Arkadius Enda, S.Pd saat ditemukan FBC di ruang kerjanya (Foto : FBC/Ian Bala)

Kepala SLB, Arkadius Enda, S.Pd saat ditemukan FBC di ruang kerjanya (Foto : FBC/Ian Bala)

Ia menjelaskan dua siswa grahita ringan menyelesaikan soal tepat waktu khusus pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mereka mengerjakan sendiri tanpa bantuan dari guru.

“Kemarin mata pelajaran Bahasa Indonesia, mereka menyelesaikan tepat waktu. Siswa tidak minta bantuan dari guru. Siswa menyelesaikan soal sendiri,”ujar Emiliana yang juga guru SLB.

Ia mengatakan siswa tidak mengalami kesulitan baik pada soal maupun lembaran jawaban. Pengawas hanya memberikan petunjuk teknis sebelum mengerjakan soal. “Kami hanya berikan petunjuk bagi mereka lalu mereka kerja sendiri. Tidak ada kesulitan lain yang dihadapi mereka,”katanya.

Sementara untuk ruang 2 tipe grahita sedang, bersebelahan dengan ruangan 1 tipe grahita ringan. Pada ruang 2 juga diawasi dua guru pengawas yang juga berasal dari sekolah tersebut. Dua guru pengawas yakni pengawas 1, Maria Letisia dan pengawas 2, Wahyudi Ibrahim.

Maria Letisia kepada FBC menjelaskan pengawasan untuk tipe grahita sedang, berbeda dengan tipe grahira ringan. Para siswa mengerjakan siswa dengan sistem tanya jawab sebab siswa tidak mampu membaca sendiri.

Maria mengungkapkan, sistem tanya jawab yang dilakukan adalah para siswa tidak langsung menentukan absen (a,b dan c) tetapi siswa menjawab pertanyaan lalu menyesuaikan dengan absen.

“Disini sistem tanya jawab. Kami membaca soal dan siswa menjawab. Siswa tidak bisa menentukan absennya, tetapi menjawab pertanyaan kemudian disesuaikan dengan absen,”kata Maria.

Yuliu Brolin Bangu, salah seorang siswa tuna grahita sedang mendengar pertanyaan dari pengawas. Ia tidak mampu membaca. (Foto : FBC/Ian Bala)

Yuliu Brolin Bangu, salah seorang siswa tuna grahita sedang mendengar pertanyaan dari pengawas. Ia tidak mampu membaca. (Foto : FBC/Ian Bala)

Maria menjelaskan semua soal dalam bentuk pilihan ganda. Tidak ada soal esai, karena siswa juga sulit untuk menulis. Kemajuan siswa tuna grahita, menurutnya, diukur dari kemampuan berpikir siswa bukan pemahaman.

“Diuji kemampuan bukan pemahaman. Soal ini berisi tentang pengalaman hidup setiap hari yang berbentuk sebuah cerita. Siswa bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,”Katanya.

Ujian Sekolah Bukan UN

Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB), Arkadius Ende,S.Pd, diruang kerjanya (5/5) menjelaskan siswa tuna grahita tingkat SMP mengikuti ujian sekolah bukan ujian nasional. Hal ini diberikan otonomi sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi NTT kepada pihak sekolah untuk mengelola sendiri.

Ia menjelaskan soal yang diberikan kepada siswa tuna grahita tersebut disusun oleh pihak sekolah berdasarkan situasi dan kondisi siswa yang dialami. Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah daerah Kabupaten Ende hanya sekedar mengetahuinya.

“Kami disini bukan UN tetapi US. Ini diberi otonomi kepada kami oleh Pemerintah Propinsi. Dinas di Kabupaten tidak diberikan kewenangan mengurus US tetapi mereka hanya mengetahui,”jelas Kepsek Arkadius.

Ia mengatakan sejak tahun 1986 semua berkaitan dengan ujian akhir, berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi. Pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk menangani ujian akhir sebab regulasi sudah mengatur demikian.

Berkaitan dengan ijazah keempat siswa tuna grahita tersebut, ia menjelaskan tetap menggunakan ijazah Ujian Sekolah atau US. Sementara ijazah Ujian Nasional untuk periode ini hanya berlaku kepada siswa tuna tingkat SD yang akan mengikuit UN pada akan datang.

“Ijazah tetap ijazah ujian sekolah. Untuk SD nanti akan diadakan UN dan ijazah disesuaikan,”Pungkasnya.(Ian Bala)

Tekan Pengeluaran Masyarakat, Camat Pulau Ende Konsisten Berlakukan Kawasan Tanpa Rokok

Next Story »

Kecurangan Warnai UN SMP di Lembata

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *