Dugaan Korupsi Dana Gereja, Jaksa Masih Tunggu Pemeriksaan BPK

LEWOLEBA, FBC-Berkas perkara kasus dugaan korupsi dana pembangunan gereja Santa Maria Baneaux Lewoleba, hampir rampung. Pihak Kejaksaan Negeri Lembata masih menanti hasil audit BPK untuk menetukan besar kerugian negara.
Demikian penjelasan Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejaksaan Negeri Lembata I Nengah Ardika di Kantor Kejaksaan Negeri Lembata, Rabu (6/5/2015). Dia mengatakan, terhadap kasus ini pihak Kejaksaan berhasil menyita uang senilai Rp. 51. 580.000 dari tiga orang tersangka.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Lembata, I Nengah Ardika. (Foto : FBC/Yogi Making)

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Lembata, I Nengah Ardika. (Foto : FBC/Yogi Making)

Kasus ini melibatkan tiga orang tersangka masing-masing ketua pantia pembangunan Gereja Pius Namang, Bendahara Panitia Agus Bala Duan dan Mantan PNS di kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lembata, Petrus Muga Ladjar.

Masing-masing tersangka diganjar dengan pasal premir pasal 2 UU Nomor 31 tahun 1999, jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diatur atau dirubah dengan UU 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan pasal Subsider pasal 3 UU tahun 1999 jo pasal 18 UU tahun 1999 di tambah UU 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Jadi kasus dugaan korupsi dana pembangunan gereja sudah masuk dalam tahap penyidikan dimana sekarang pemberkasan sudah hampir rampung. Kasus ini kita harap segera kita limpahkan ke Pengadilan Tipikor di Kupang setelah menerima hasil audit dari Bada Pemeriksa Keuangan,” ujar Nengah.

Selain itu Nengah juga mengatakan, tahun 2014 kejaksaan negeri lembata berhasil menyelamatkan uang negara sebesar Rp. 139.164.000 yang di dapat dari, penyitaan dana pembangunan gereja sebesar Rp. 51.580.000, pembayaran denda dari mantan Kepala Dinas Perhubungan Yani Husein dalam kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa sebesar Rp. 50 juta dan pengembalian uang negara yang di terima dari Hendrikus Pati tersangka proyek pengadaan BBM untuk PLTD Kabupaten Lembata sebesar Rp. 37.584.000.

Terhadap kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa, Dinas Perhubungan Kabupaten Lembata dan kasus dugaan korupsi proyek pengadaan BBM untuk PLTD Kabupaten Lembata para tersangkanya sudah di putus bersalah dan kini sudah mendekam dalam tahanan.

Selain itu, Nengah juga mengaku sedang membidik beberapa kasus dugaan korupsi lainnya, diantaranya kasus Pabrik Es dan Proyek pembangunan ruas jalan Belame-Boto. Selain itu Pihaknya juga sedang menyelidiki kasus dugaan korupsi di proyek pembangunan jaringan air bersih wei lain, kedang.

“Kalau untuk jaringan air di kedang, sejak Januari 2015 saya datang kesana sudah dua kali. Pengerjaan terus berjalan, memang air menjadi kebutuhan masyrakat desa disana. Hanya yang menjadi masalah sekarang, kita sulit sekali mendapat dokumen. Jadi untuk beberapa kasus yang sedang kami bidik itu sedang kami kumpul keterangan dan datanya. Jadi kelihatan kami tenang-tenang saja, tetapi sebenarnya kami sedang kerja, ini sudah menjadi komitemen kejaksaan negeri lembata untuk perbaikan dan perubahan lembata,” tanda Nengah diakhir keterangannya. (Yogi Making)

Jaksa P21 Kasus Dugaan Pemalsuan Dokumen

Next Story »

Promosikan Wisata, Kapolda NTT Bersama Tim Bersepeda Keliling Flores

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *