Dengarkan Pihak Lain!

Oleh : Charles Beraf

Audi alteram partem, dengarkan pihak lain! Ungkapan Latin ini sudah amat dikenal dalam dunia hukum, terutama ketika sebuah keputusan mesti diambil di hadapan suatu persoalan yang sulit dan sangat beresiko.

Charles Beraf , Sekretaris International Students’ Association (ISA), University of the Philippines Los Banos, Filipina

Charles Beraf , Sekretaris International Students’ Association (ISA), University of the Philippines Los Banos, Filipina

Seorang hakim misalnya, dengan otoritasnya sekalipun, tak bisa serta merta menjatuhkan vonis atas sebuah perkara tanpa terlebih dahulu mendengarkan pihak lain dan mempertimbangkan mana yang pas, yang harus diambil dan mana yang tidak atau kurang pas yang harus diabaikan.

Tanpa mendengarkan pihak lain, seseorang bisa dengan mudah terjebak dalam klaim yang salah atau juga terperangkap dalam apa yang disebut sebagai cathaconic error, yaitu mengadili sesuatu dengan kategori-kategori yang asing dan salah-serupa menerapkan sistem permainan sepak bola pada sebuah pertandingan bola voli.

Sebaliknya, dengan mendengarkan pihak lain, seseorang sesungguhnya tertolong, diberi kemungkinan-kemungkinan baru, insights dalam mengambil keputusan secara tepat dan bijak.

Itu berarti audi alteram partem bukan sekedar perkara tahapan dalam sebuah pengambilan keputusan, tapi lebih dari itu sebagai suatu disposisi moral. Moralitas berkenaan dengan hal baik atau buruk, bukan benar atau salah. Yang bermoral selalu berarti baik dan begitu pula sebaliknya, yang tidak bermoral selalu berarti buruk. Yang bermoral selalu memiliki preferensi pada kemanusiaan dan sebaliknya yang tidak bermoral selalu berafiliasi dengan kengerian, kebiadaban.

Seorang pengambil keputusan yang berperan dengan dasar disposisi moral, dalam arti audi alteram partem, tidak akan mengandalkan ‘ego’ atau kepentingannya ketika mengambil keputusan, tetapi selalu mempertimbangkan kemanusiaan, peran serta yang lain dan kepentingan yang jauh lebih umum. Apalagi dalam soal yang menyangkut kepentingan banyak orang (umum), seorang yang demikian selalu imun terhadap kepentingan subjektifnya dan berusaha sedapat mungkin mengakomodir semua pihak agar turut mengambil bagian, terlibat dalam kepentingan umum itu.

Dalam makna yang lebih luas, audi alteram partem tidak hanya ada dalam konteks relasi vertikal, antara seorang pimpinan atau pengambil kebijakan dengan mereka yang dipimpinnya atau tidak juga hanya dalam hubungan dengan mereka yang berada dekat di seputar lingkaran kekuasaan.

Audi alteram partem juga berkenaan dengan relasi horizontal antarsesama, yakni kesediaan untuk saling mendengarkan, bersikap toleran satu terhadap yang lain, agar cita-cita atau harapan bersama bisa diwujudkan.

Dalam konteks politik, audi alteram partem mewujud misalnya dalam kesediaan seorang pejabat publik untuk mendengarkan rupa-rupa aspirasi dari masyarakat sebelum ia memutuskan atau mengambil sikapnya terhadap masyarakat. Ia, oleh kesediaan mendengar, memampukannya untuk lebih peka, termasuk terhadap kemungkinan ‘aspirasi sumbang’ yang dibawa-bawa oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sering aspirasi sumbang dikemas dalam aneka generalisasi politis seolah olah itu datang dari masyarakat umumnya, meski itu cuma dari segelintir orang yang berkepentingan.

Orang bisa saja mengatakan, misalnya, membentuk Provinsi Flores adalah aspirasi seluruh masyarakat Flores, meski bisa jadi masih ada pro kontra di kalangan masyarakat Flores. Terhadap itu, kalau pemimpin tidak cukup punya kesediaan untuk mendengar, tak ada audi alteram partem, dia gampang terjebak dan mengambil keputusan secara sepihak dan serampangan.

Hal audi alteram partem memang bukan baru di NTT. Dalam banyak kebudayaan di NTT, hal ini cukup sering dipraktekkan, baik dalam arti vertikal maupun dalam arti horizontal. Di beberapa komunitas Lamaholot, audi alteram partem dikorporasikan dalam event adat Tutu Ué atau Tutu Huak ketika misalnya ada konflik antarwarga.

Tutu Ué berarti semua pihak berbicara dan saling mendengar tentang perasaan dan pikiran tanpa harus merasa diri paling benar, lalu mempersalahkan pihak lain. Semua pihak punya hitam dan putih. Penyelesaian akhir juga tidak untuk memisahkan hitam dari putih persoalan, tetapi untuk menyadarkan semua pihak bahwa mereka tetap punya kedua warna ini.

Oleh karena itu demi relasi ke depan kedua pihak harus selalu menyadari hal ini untuk selalu siap saling memaafkan dan mengampuni. Tutu Huak (urut) juga punya nuansa yang sama. Saling berbicara, saling mendengarkan dan buka hati untuk mengurut keseleo tulang-tulang relasi, supaya bisa kembali menemukan hubungan yang sebenarnya, yang harus saling dijaga oleh setiap anggota komunitas kehidupan.

Di Manggarai ada juga hal semacam itu yang dikenal dengan nama Lonto Leok (duduk bersama, bicara dan saling mendengarkan). Di Sikka, ada Kula Babong dan di Nagekeo, ada Mutu Mumu Meza Lema. Banyak even semacam itu yang menunjukkan bahwa kesalingan untuk berbicara dan mendengarkan satu sama lain menjadi hal yang amat penting untuk membangun harmoni sosial di antara masyarakat.

Amat disayangkan, kalau nilai – nilai kultural semacam itu tidak sungguh diwujud-tampakkan dalam dimensi hidup yang lain di NTT. Kesalingan membuka diri, mendengarkan satu sama lain, memungkinkan kita belajar untuk bijak dalam memutuskan apa yang tepat untuk dikatakan dan dilakukan. Audi alteram partem!

Bulan Maria, Bulan Bencana?

Next Story »

Pendidikan di Flores, Cara Misionaris

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *