Puncak Golo Curu

Berziarah Dahulu, Berwisata Kemudian

Hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Ruteng ibukota Kabupaten Manggarai, tersualah sebuah bukit kecil nan memesona. Dari bukit ini kita bisa menatap wajah kota Ruteng dari ketinggian, selain tentu saja berziarah saat bulan Maria tiba. Seperti apa?

ADALAH Golo Curu bukit kecil nan indah yang lokasi persisnya ada di wilayah Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten  Manggarai. Sebelum tiba di puncak bukit, kita akan menemui 14  relief pemberhentian kisah sengsara Yesus, atau dikenal sebagai jalan salib. Relief yang terukir di dinding berbahan semen itu terlihat menawan, mendekati karakter nyata dalam kisah Yesus disalibkan di Bukit Golgotha.

Menurut sejarah lisan yang beredar di masyarakat setempat, konon pada zaman sebelum masuknya alat transportasi modern, untuk bepergian masyarakat Manggarai menggunakan kereta yang ditarik  kuda dan kerbau. Di Bukit Golo Curu inilah yang menjadi lokasi penjemputan penumpang dari wilayah Utara Manggarai seperti dari Kecamatan Reo, Cibal, ataupun kecamatan lainya yang hendak ke kota Ruteng. Dari sejarah singkat itulah bukit kecil ini lantas dinamakan Golo Curu, Golo artinya bukit dan curu adalah menjemput.

Sejauh mata memandang, Kota Ruteng akan tampak utuh dari Puncak Golo Curu. (Foto: FBC/Hironimus Dale)

Sejauh mata memandang, Kota Ruteng akan tampak utuh dari Puncak Golo Curu. (Foto: FBC/Hironimus Dale)

Dari tahun ke tahun Golo Curu sudah menjadi magnet bagi masyarakat Manggarai. Selain dijadikan lahan pertanian dan perkebunan warga, bukit ini juga sebagai tempat pemakaman umum bagi warga Kelurahan Karot. Selain itu, di bawah lereng bukit juga tampak kompleks makam Pahlawan Manggarai Raya, dan pemakaman warga Tionghoa yang sudah menjadi warga Manggarai.

Untuk mengenang dan mempercantik bukit penuh sejarah itu, pihak gereja Katholik membangun Gua Maria di puncak Bukit Golo Curu. Saat ini puncak bukit nan teduh tersebut merupakan salah satu tujuan ziarah di bulan Rosario yang jatuh pada bulan Mei dan Oktober bagi umat Katolik di Manggarai Raya.

Hamparan Sawah

Berada di Bukit Golo Curu, mata kita akan dimanjakan dengan permadani hijau berupa hamparan ratusan hektar persawahan Watu Alo. Saat menjelang panen permadani alami itu akan berubah menjadi kekuningan, makin mempercantik ornament alam di bawahnya, yakni wajah kota Ruteng. Di saat malam hari, lampu-lampu di kota Ruteng akan berpendar, layaknya kunang-kunang yang menari di kegelapan malam.

Ketika mencapai puncak Bukit Golo Curu  rasa capek setelah mendaki lereng bukit, langsung sirna terbayar lunas karena hawa sejuk dan desau angin akan membekap tubuh kita. Sejauh mata memandang, kita akan disuguhi lambaian dedaunan yang diayun angin perlahan-lahan. “Berada di puncak Golo Curu rasa penat selama seminggu sungguh terbayar lunas pada hari ini, “kata Maksi Garus, seorang umat Paroki St Mikael Kumba yang sedang melakukan ziarah bersama umat lainya di Gua Bunda Maria.

Setiap hari selalu ada pengunjung yang bertandang ke puncak Golo Curu. Apalagi  dengan tidak adanya biaya retribusi makin menambah minat wisatawan lokal untuk terus  berekreasi, menghilangkan rasa penat dari kesibukan kerja sehari-hari.

Memandang ratusan hektar sawah yang sedang menguning sungguh menentramkan pikiran yang sedang galau. Apalagi saat kita melangkah sekitar 20 meter ke sisi Selatan bukit kita akan terhibur kembali dengan indahanya ribuan bangunan kota Ruteng dan Taman Makam Pahlawan, serta makam Tionghoa yang berada persis di lereng Golo Curu.

Setelah menikmati keindahan alam satu hingga dua jam, bagi  pengunjung yang beragama  Katholik bisa meringankan langkah ke arah Timur bukit untuk berdoa ataupun ziarah di Gua Maria. Sungguh, kita akan berada dalam situasi teduh, sejuk, dan tenang dalam berdoa sehingga jiwa ini betul-betul dapat bersatu untuk berkomunikasi bersama Tuhan. “Hari ini saya merasa segar, bugar, dan merasakan ketenangan dalam berdoa. Barangkali tempat dan suasananya memang mendukung,”katanya.

Sampai saat ini Puncak Golo Curu merupakan salah destinasi wisata yang ditawarkan Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Manggarai kepada wisatwan domestik dan mancanegara. “Bukan hanya para umat Katholik yang mengunjungi Puncak Golo Curu untuk berziarah pada bulan Mei, tetapi pada bulan Juni hingga Agustus para turis asing juga bertandang ke Puncak Golo Curu,”kata Maksi lagi.

Maksi dan Gua Maria yang menjadi latar belakang di Puncak Golo Curu. (Foto: FBC/Hironimus Dale)

Maksi dan Gua Maria yang menjadi latar belakang di Puncak Golo Curu. (Foto: FBC/Hironimus Dale)

Perhatian Pemkab Manggarai, gereja, dan  masyrakat terhadap wisata religius yang satu ini memang cukup besar. Infrastruktur dasar seperti jalan beraspal mulus sudah sampai Puncak Golo Curu, Gua Maria dan lingkungan sudah ditata dengan baik. “Kami senang lingkungan puncak sangat bersih dan tertata dengan baik, tempat sampah dan toilet sudah disediakan sehingga para pengunjung tidak membuang sampah sembarangan di atas puncak,”kata Maksi.

Perhatian masyarakat juga sangat besar terhadap  Golo Curu di mana puncak bukit  merupakan salah satu pusat perhatian reboisasi yang dibuktikan adanya anakan pohon yang sedang tumbuh subur di sekitar puncak.

Meski begitu, masih ada hal yang menjadi keluhan masyarakat yakni perilaku  satu hingga dua pasang anak muda dan mudi yang asyik bercumbu mesra yang membuat risi sebagian pengunjung. Semoga pengelola bisa menegur pasangan muda-mudi ini agar tidak membuat objek wisata Golo Curu tercemar. (*)

Penulis: Hironimus Dale

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Aendere, Air Terjun Bertangga yang Terlupakan

Next Story »

Mencumbu Pasir Putih Pulau Meko

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *