Kobus Mbotu

Bekas Napi yang Berderma Lewat Karya

Menghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Maumere hampir dua tahun lamanya, tidak membuat Kobus Mbutu kehilangan pengharapan. Ia bangkit dan membuktikan pada dirinya sekaligus masyarakat bahwa bekas narapidana (napi) pun bisa berderma melalui karya yang dihasilkannya. Seperti apa?

SOSOKNYA gempal dan tegap. Sorot matanya tajam dengan wajah yang mengguratkan sejuta kisah kehidupan manis dan getir. Ya..lelaki kelahiran Ndungga, Ende, 49 tahun silam ini memang kenyang asam garam kehidupan. Mulai dari menjadi TKI di Malaysia, hingga menjadi sopir taksi yang kemudian menjebloskannya ke hotel prodeo selama dua tahun. Semua peristiwa itu seperti terekam dalam gurat wajahnya. Mbutu masih ingat betul peristiwa naas saat dirinya menabrak seorang siswa di Maumere pada tahun 1988 silam, yang membuat kebebasan hidupnya terenggut.

Di setiap titik kritis kehidupan, di situlah sebenarnya ada peluang, demikian nubuat klasik China. Selama di tahanan itu, Mbutu menghabiskan waktu dengan mengasah keterampilan di bengkel mebel bersama tahanan lainnya. Kala itu, ia memilih bidang mebeler. Impian besarnya, dia ingin membuka usaha mebel di kampung halamannya di Kilometer 10, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende.

Usai menjalani masa tahanan pada tahun 1989, ia pun berusaha mewujudkan mimpinya memiliki bengkel mebel tersebut. Tapi nasib berkata lain, rupanya mimpi tersebut meski tertunda sementara hingga akhirnya dia mengikuti jalan kehidupan dengan menjadi TKI di Malaysia.

Kobus Mbutu (Foto: FBC/Ian Bala)

Kobus Mbutu (Foto: FBC/Ian Bala)

Setelah merantau selama empat tahun di negeri jiran, Mbutu pun menetapkan pilihan untuk kembali ke tanah kelahirannya pada tahun 1999. Kali ini dia sudah mengantongi modal untuk membuka usaha. Dengan modal Rp 200 ribu di tangan, Mbutu mengadu peruntungan dengan membuka bengkel sepeda motor di Ende, bukan bengkel mebel seperti mimpinya ketika menghuni Lapas. Karena pada tahun-tahun tersebut kendaraan bermotor masih jarang keberadaannya di Ende, bengkelnya pun gulung tikar.

Bukan Mbutu namanya kalau menyerah pada nasib. Dia lantas berkreasi dengan membuat pot bunga dan ember berbahan ban bekas. Selain itu, ia juga membuat dulang dan lampu hias berbahan bambu. Usaha ini berjalan cukup lama hingga tahun 2005 lalu.

“Usaha saya ini karena berkat dari penjara. Saya tekun belajar selama 22 bulan di Lapas Maumere. Yang paling penting adalah kemauan dan niat dari hati untuk membuat sesuatu,”ujarnya.

Hasil karyanya itu kemudian dipasarkan di wilayah Kabupaten Ende. Dulang dan lampu hias dari bambu itu digandrungi para konsumen, sebab pada masa itu belum banyak pesaing yang membuat barang sejenis. Pendapatan yang ia peroleh saat itu cukup untuk kebutuhan hidup keluarganya. Setengah dari pendapatannya dia sisihkan ke koperasi untuk kebutuhan jangka panjang.

Tahun 2006, ayah dua anak ini, menjadi pengrajin bambu unggulan di Kabupaten Ende. Selain dulang dan lampu hias, ia mulai rajin membuat seruling dari bambu bulu. Buah tangannya itu dijual di sekolah-sekolah. Selain itu juga dibagi gratis di beberapa sekolah seperti SDK Ndetu Mbawa, yang merupakan sekolah dia saat SD.

“Saya memberikan hasil itu kepada anak-anak, karena sebagai media belajar untuk mereka. Saya tidak merasa rugi sedikit pun. Ini mungkin giliran saya, belum giliran mereka,”ujar Kobus.

Satu-Satunya

Setelah sukses menjadi pengrajin berbasis bambu, Mbutu mencoba menjadi pengarajin dengan media baru, yakni besi dan baja. Salah satu impiannya adalah membuat gong dan gendang. Setiap hari dia membuat dua alat musik tradisional ini.

Menurut informasi yang beredar, Mbutu adalah pembuat gong dan gendang satu-satunya di Kabupaten Ende. Sebelumnya, warga Ende-Lio memesan dua jenis alat musik ini di luar daerah Flores seperti dari Sumba, Bali, dan Yogyakarta.

“Di Kabupaten Ende ini, sayalah satu-satunya pembuata gong dan gendang. Banyak orang meminta saya untuk mengikuti pelatihan, tetapi saya menolak karena saya sudah ada pengalaman waktu di penjara,”katanya seraya menggeleng-gelengkan kepala.

Kobus Mbutu sedang menyelaraskan notasi pada gong hasil karyanya. (Foto: FBC/Ian Bala)

Kobus Mbutu sedang menyelaraskan notasi pada gong hasil karyanya. (Foto: FBC/Ian Bala)

Pengakuan Mbutu itu diamini istrinya, Elmalinda Rupa (35) yang sedang menggendong anak keduanya. Linda, demikian sapa istri Mbutu biasa dipanggil, mengatakan pemerintah sudah berkali-kali mendatangi kediamannya untuk membuat profil usahanya. Ia dan suaminya pun melayani pendataan tersebut.

“Mereka (pemerintah) sudah pernah ke sini untuk data dan kami layani. Hanya untuk ikut pelatihan. Dia (Mbutu) tidak pernah ladeni itu,”kata Linda.

Kesulitan Baca Not

Mbutu menjelaskan, dalam pembuatan gong kesulitan yang dia alami adalah sulitnya mengatur nada not pada gong, karena prinsip notasi gong adalah diatonik. Untuk menentukan nada yang sesuai (do, re, mi, fa, sol, la, si,) membutuhkan waktu yang sangat lama. Lebih sulit lagi nada fa, la dan si.

Mengatasi kesulitan tersebut, ia menjelaskan perlu kehati-hatian dan konsentrasi penuh dengan mendengarkan not secara terus-menerus. Kesalahan salah satu not saja, dapat memengaruhi bunyi gong secara keseluruhan. “Kalau gendang lebih mudah dibandingkan gong karena harus mengatur nada. Kesalahan satu nada dapat mempengaruhi yang lain. Jadi perlu hati-hati,”jelasnya.

Selama ini, dia mengakui lebih mempelajari tentang bunyi not setiap gong. Mengatur not lebih sulit dibandingkan dengan pembuatan gong. Selain itu, bunyi gong juga dipengaruhi dari ukuran plat yang digunakan.

Plat yang biasa digunakan untuk gong berukuran 1,2 milimeter dan 2 milimeter. Dua ukuran plat ini lebih mudah menentukan not dibandingkan dengan ukuran lain. Sebab, ketebalan dua ukuran plat tersebut sama dengan gong yang biasa digunakan dalam ritual adat Ende-Lio.

“Pilih plat itu harus sesuai karena sangat memengaruhi bunyi not. Dua ukuran plat seperti itu biasa digunakan untuk gong di sini. Kita juga ragu kalau salah menentukan plat,”ujar ayah dua anak itu.

Ia menjelaskan, pembeli biasanya memesan terlebih dahulu sesuai dengan bunyi yang diharapkan. Harganya berbeda sesuai dengan diameter gong dan ukuran plat. Ukuran 1,2 milimeter harganya sebesar Rp 25 juta untuk satu set gong yang berjumlah tujuh buah gong. Sementara untuk bahan dengan plat setebal 2 milimeter, dia jual seharga Rp 30 juta persetnya.

Budaya Bangkit

Meskipun keahlian Mbutu ini bukan berasal dari keturunan orang tuanya, tetapi niatnya untuk membangkitkan kembali budaya lokal sangat besar. Ia menilai budaya lokal saat ini telah digerus oleh budaya dari luar. Menurutnya, budaya Ende-Lio dan Flores secara umum dipengaruhi pesatnya perkembangan teknologi. Masyarakat sudah mengandalkan alat-alat musik modern dan mengabaikan musik lokal. Padahal, musik lokal mempunyai nilai budaya tinggi karena merupakan warisan leluhur.

“Niat saya untuk membangkitkan semangat budaya lokal. Kalau nanti saya mendapatkan rezeki, saya akan mengerjakan gong dan gendang sebanyak-banyaknya dan membagikan secara gratis kepada setiap suku di Flores,”ujarnya optimistis.

Selain itu pula, ia juga berpesan agar masyarakat Ende untuk kembali menghidupkan sanggar-sanggar musik tradisional. Untuk alat musik, lanjutnya, tidak perlu diragukan asal memiliki niat yang sama yakni membangkitkan semangat budaya lokal.

Gong, kendang dan aneka suling bambu hasil karya Kobus Mbutu sangat menunjang kebangkitan seni budaya lokal di Flores. (Foto: FBC/Ian Bala)

Gong, kendang dan aneka suling bambu hasil karya Kobus Mbutu sangat menunjang kebangkitan seni budaya lokal di Flores. (Foto: FBC/Ian Bala)

Pasalnya, niat dan kemauan harus benar-benar muncul dari hati sehingga dapat diwariskan pada generasi berikutnya. Flores memiliki budaya yang berbeda dengan budaya lain, mesti dijaga dan dirawat dengan sungguh-sungguh.“Kita beda dengan lain, maka kita harus rawat itu. Daerah kita kaya akan budaya,”ujarnya.

Dalam setahun, kata Mbutu, tiga set gong hasil karyanya terjual. Selain hasil penjulan itu untuk keperluan rumah tangganya juga untuk membantu membangkitkan semangat budaya lokal. Pasalnya, saat ini masyarakat terlebih kepala suku pada masing-masing daerah sudah mulai memesan gong untuk menghidupkan musik tradisional.

Beberapa suku di Ende-Lio mulai memesan gong dan kendang karena dua alat musik ini sangat penting dalam upacara adat. Kesakralan dalam sebuah acara atau ritual adat salah satunya ditentukan bunyi gong dan gendang.“Gong dan gendang ini sangat penting dalam acara adat. Karena bunyi gong itu menandakan sakralnya sebuah acara adat,”pungkas Mbutu yang mengaku keturunan mosalaki (kepala suku) ini. (*)

Penulis : Ian Bala

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

“Meraih Mimpi, Mengabdi pada Panti”

Next Story »

Menyulap Sawah Jadi Kebun Kakao

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *