Batok Kelapa, Pundi Uang untuk Wili

Wilhemus Ua Hekar, pengrajin batok kelapa, di bengkel kerjanya. (foto FBC/Yogi Making)

Wilhemus Ua Hekar, pengrajin batok kelapa, di bengkel kerjanya. (foto FBC/Yogi Making)

Pemerintah perlu ulurkan bantuan agar usaha kecil tumbuh. Pasar di Lembata terlalu kecil, pengrajin mesti mempromosikan produksinya ke wilayah lain.

Kemajuan teknologi informasi mengubah perilaku dan cara hidup manusia. Tak cuma orang kota yang mesti menyesuaikan diri, orang kecil di Lewoleba, Kabupaten Lembata, pun demikian. Bekal ketrampilan untuk bertahan hidup tak bisa sesederhana dahulu. Agar hidup layak, warga kota kecil kini mesti pandai-pandai menjawab perubahan.

Seorang kuli bangunan bakal menemui kesulitan bila tak sadar perubahan yang terjadi membuat kesejahteraan hidupnya merosot. Upah pekerja musiman kian tertinggal biaya hidup yang membumbung terus.

Wilhelmus Ua Hekur menghadapi kesulitan seperti itu hingga beberapa tahun silam. Hidupnya bergantung pada upah hasil keringatnya bila ada ajakan kerja proyek. Duit tak seberapa besar itu kerap terlambat datang akibat system panjar yang dianut.

“Saat itu berburu uang dengan cara halal rasanya sulit sekali,” ujar pria yang berubah nasib setelah beralih profesi sebagai pengrajin batok kelapa.

Kepada FBC, pemilik bengkel kerja yang beralamat di Wangatoa Timur, Kelurahan Selandoro ini mengatakan bahwa dengan bekal ijasah SMP amat sulit baginya mendapatkan pekerjaan dengan gaji cukup.

Dalam situasi bingung, tiba-tiba muncul ide melakukan sesuatu. Sampah batok kelapa yang dia pungut dari samping rumahnya dia ubah menjadi sebuah cerek dengan alat sederhana. Tak disangka, produk perdananya itu mengubah jalan hidupnya.

“Saya sekedar buat, maksudnya untuk pakai di rumah,” tambah pria yang saat itu telah berumah tangga.

Suatu kesempatan sang istri mesti bertandang ke kantor Unit Pelaksana Tekhnis Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (UPTD PPO), Kecamatan Nubatukan. Pimpinan instansi itu Elisabeth Pute Batafor mengabarkan bahwa pemerintah provinsi bermaksud menggelar sebuah pameran kerajinan di Kupang. Kabupaten Lembata bakal ikut serta. Sang istri bertanya lebih jauh apakah hasil kerajinan tempurung kelapa bisa diikutsertakan.

Tempurung kelapa, sampah yang berhasil disulap menjadi barang seni bernilai ekonomis.  (Foto FBC/Yogi Making)

Tempurung kelapa, sampah yang berhasil disulap menjadi barang seni bernilai ekonomis. (Foto FBC/Yogi Making)

“Ibu Elis jawab bisa, tetapi coba bawah kasi lihat dulu,” kenang Wili menirukan jawaban itu.

Promosi sang istri membuahkan kesempatan bagi Wili memamerkan produk kerajinannya di Kupang. Sebenarnya, kesempatan itu sudah membuat hatinya senang, namun Elis ingin agar usaha itu terus berkembang.

Beberapa waktu setelahnya, Wili kembali mendapat kesempatan. Kali ini adalah ikut serta dalam sebuah pelatihan kerajinan dari batok kelapa di Lewoleba.

Berbekal ilmu tambahan dan naluri seni dalam diri ayah dari Roslin dan Rosna itu kian bulat untuk beralih profesi dari kuli bangunan menjadi pengrajin batok kelapa. Gayung bersambut. Pemerintah memberi bekal beberapa peralatan modern sepeti mesin amplas dan bor, juga modal kerja dasar sebesar Rp. 5 juta. Semua bantuan itu, Wili dapat secara cuma-cuma.

Limbah

Ditemui di bengkel kerjanya, Selasa (12/5/2015) suami dari Anastasya Uri Atu itu mengatakan bahwa sebelumnya warga menganggap batok kelapa sebagai sampah. Manfaatnya cuma sebatas , penganti kayu bakar.

Bakat seni, kemampuan, tekad serta dukungan keluarga jadi landasan Wili beralih profesi. Dia pun menghabiskan hari-harinya dengan pergulatan mengubah bahan bernilai rendah itu jadi piranti berdayajual karena memberi manfaat praktis dan punya nilai artistik. Tangan terampilnya terus bekerja menghasilkan karya-karya kreatif.

Suatu kali, kepada FBC, Wili membanggakan karya-karyanya yang tertata rapi di bengkel kerja miliknya. Pada sebuah etalase kaca di ruang utama berjajaran barang-barang terbuat dari batok kelapa. Contoh produk itu nampak halus berkat sentuhan tangan-tangan terampil yang terlatih.

Ragam karya seni batok kepala ciptaan Wilhelmus Ua Hekar di pajang dalam etalase. (Foto FBC/Yogi Making)

Ragam karya seni batok kepala ciptaan Wilhelmus Ua Hekar di pajang dalam etalase. (Foto FBC/Yogi Making)

“Dulu hanya saya manfaatkan sebagai arang seterika, kala seterika listrik belum banyak,”ujar pria bertubuh atletis itu seraya berjalan di sela-sela barang-barang yang telah di bayar oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Lembata.

Dia tersipu malu lalu merendah saat FBC coba memuji kualitas ciptaannya. Menurut dia, pekerjaan itu sekedar meneruskan bakat, soal kehebatan sepenuhnya milik Tuhan yang pemberi hidup.
Aneka kerajinan batok kelapa karyanya berupa cerek, sloki, miniatur motor motor besar, lampu hias, celengan dan masih banyak yang lain. Harga ditetapkan mengikuti tingkat kesulitan pembuatannya. Miniatur motor besar dia jual dengan harga Rp. 200.000 per buah, sementara satu paket cerek dan 3 buah gelas dihargai Rp. 75.000.

“Dari Senin sampai Sabtu, saya kerja di bengkel. Nanti hari Minggu, saya bawa semua karya saya ini untuk saya pasarkan. Bisanya saya datangi pembeli dari rumah ke rumah,” ujar dia.

Mimpi

Hasil penjualan bervariasi. Sebagian keuntungan dia simpan untuk menambah modal kerja.
Pria asal Kecamatan Atadei itu bermimpi kelak dapat memperluas bengkel kerjanya dan menambah beberapa peralatan kerjanya. Tekadnya adalah terus mengembangkan usaha yang masih berskala kecil itu.

“Saya sudah berjanji dalam diri bahwa saya harus hidupi keluarga dengan usaha ini,” ujar dia.

Oleh karenanya, Wili sadar arti penting promosi dan pengembangan pasar. Cuma konsistensi terus menerus yang bakal mengantar dia mampu menambah tenaga kerja dan membeli peralatan yang lebih baik. Kemajuan usaha sejenis di Pulau Jawa membuatnya iri dan menimbulkan pertanyaan dalam benaknya kenapa dia belum mampu menghadirkan di kampung halamannya.

Sayang upaya keras itu tak seiring dengan minat orang-orang muda di sana. Beberapa diantaranya sempat dia ajak bekerja di bengkelnya. Sayang semua lebih memilih keluar dan menjadi penganggur. Dia bisa maklum lantaran peluang meraih untung dari usaha ini masih sempit. Orang-orang muda itu tak punya tekad untuk mencari dan mengembangkan pasar keluar wilayahnya.

“Soal kualitas, saya yakin kalau produk saya tidak kalah dengan produk tempurung kelapa di daerah lain. Tetapi, saya harus akui, kalau kita masih kalah di promosi. Semoga pemerintah bisa bantu saya untuk promosi, karena saya punya mimpi, usaha saya ini bisa maju seperti usaha lain di Jawa. Iya…kenapa mereka bisa lalu saya tidak?” sergah dia.

Penulis: Yogi Making
Editor: Donny Iswandono

Geliat Asa Saat Purnama Tiba

Next Story »

Memohon Ketentraman Hidup di Rumah Baru

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *