Azizah, Harga Diri dan Perjumpaan Potensi

Oleh : Kanis Lina Bana
Azizah gadis bau kencur asal Kabupaten Sikka-Mauamere, Flores, NTT telah menggemparkan dunia panggung dangdut Indonesia. Konteks Dangdut Indonesia (KDI) yang ditayangkan CMNTV telah menghantar gadis belia siswi kelas II SMK St Yohanes Paulus XXIII ini menyihir banyak mata dan simpati.

 Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Pemirsa setia Azizah di chanel CMNTV, ketika acara itu berlangsung tak bakalan geser ke chanel lain. Mata pemirsa terus meloloti layar TV ketika Azizah tampil. Apa pun warna lagu dangdut yang dilantunkan Azizah selalu menghibur. Modulasi dan cengkokkan suara bait-bait lagu mempertegas karakter warna suaranya.

Aura gadis remaja yang memiliki bakat luar biasa itu terpancar jelas. Tak pelak dukungan shot mesage service (SMS) menempatkan Azizah selalu bertengger pada titik aman ketika konteks itu berlangsung. Meski sesekali poling sms nya bergeser posisi, tetapi Azizah selalu lolos ke babak berikutnya. Komentar-komentar dari tim juri pun menegasikan bakat alamiah Azizah.

Senyum khas buah hati Sadarudin Daeng Sira dan Mariona ini menambah kecantikan gadis kota kecil di kabupaten daratan Flores ini. Azizah seakan mempresentasekan matahari dari Timur yang terus bersinar memancarkan cahaya sunset kuning emas kemerahan di pagi menjelang.

Itu sebabnya aliran dukungan buat Azizah ibarat tsunami yang terus meluap-melahap. Mulai dari anak kecil merelakan celengannya, ibu-ibu pedagang kaki lima, masyarakat biasa hingga pejabat teras di daerah Sikka khususnya dan Flores-NTT umumnya dan sesama saudara yang berada di luar tanah asalnya ramai-ramai dukung Azizah. Azizah merebos ke alam sadar orang Flores, meletup karakteristik keadaban dan persaudaraan kita.

Pertanyaan substansial yang mencungkil kesadaran kita, “apakah bentuk dukungan yang luar biasa bagi Azizah hanyalah gincu pemanis bibir?”

Sepintas pertanyaan ini terasa konyol dan buat-buat. Tetapi yang mau ditegaskan di kolom bermartabat ini adalah, bentuk dukungan yang amat luar biasa dari elemen masyarakat buat Azizah adalah potret kekitaan dan kekinian yang menjadi warna khas kebersamaan kita NTT umumnya.

Dukungan yang diberikan adalah bagian dari aplikasi persaudaraan imaniah. Persaudaraan dan kerukunan yang sudah lama merekat erat di lubuk hati kita. Apalagi Azizah menjadi tenar tidak saja menegasikan bakat alamiahnya yang dimiliki tetapi sekaligus mateor yang melesatkan harga diri di tengah jagat percaturan kehidupan ini ketika orang luar menganggap NTT dengan sebelah mata seperti melirik sekilas info di RCTI.

Menyaksikan Azizah tampil di layar kaca tergambar dengan jelas peradaban ketimuran kita. Norma sopan-sapun dalam berpakaian jaga terawat. Balutan kosmetik pas-pas saja. Sikron dengan seluruh aura tubuh dan pesona wajahnya. Penampilan Azizah sungguh memperlihatkan kapasitas kemampuan dan integritas diri ketimuran kita.

Azizah mewakili pahatan sejarah kita orang NTT yang mampu bersaing di level apa saja. Azizah mematahkan label miring yang sering dialamatkan kepada kita orang NTT. Kalau kita menegok sejenak, kita orang NTT sering mendapat plesetan yang kurang elok dari orang luar. NTT nasib tidak tentu, nanti Tuhan tolong. Tentang NTT selalu ada macam-macam label miring.

Harga Diri

Yang mewaris bagi kita tentang aliran dukungan bagi Azizah bukan hanya sebatas meloloskan Aizah dalam ajang konteks dangdut Indonesia itu, tetapi mencungkil kesadaran tentang kita untuk tahu diri dan membanggakan kapasitas diri itu. Bangga akan kemampuan kita, bangga akan tali persaudaraan yang selalu rapi jali. Bangga akan kemampuan bahwa kita manusia-manusia NTT juga mampu berbicara banyak di level yang lebih tinggi. Azizah menjadi contoh anak remaja berbakat. Berlian di bidang tarik suara.

Selama ini, sadar atau tidak kita kurang memiliki peradaban sejarah tentang diri dan alam NTT. Kita kurang percaya diri karena terjebak dengan label-label miring yang sering dialamatkan kepada kita. Padahal rahim bunda NTT mengandung banyak potensi bahkan menjadi sesak karena kelewatan banyak. Sebut saja potensi wisata, budaya, warisan tradisi yang mengakar, kekayaan laut, dan potensi sumber daya alam lainnya serta kemampuan intelektual yang cerdas dan cemerlang.

Membanggakan diri kita sebagai orang NTT bukan sebentuk snobbish tetapi kesadaran etik moral agar kita mampu berkompetensi di bidang apa saja sesuai kapasitas dan kemampuan yang kita miliki. Rasa bangga dan percaya diri menjadi taruhan membentengi jati diri yang oleh orang luar kerap kali mencap kita dengan stigma miring itu.

Di titik inilah menjadi ruang bagi kita unjuk taring bahwa NTT memang hebat. Gudang manusia berkhwalitas. Tempat bersemainya putera-puteri berkarakter. Inilah NTT. Tanah tumpah darah kita. Kita harus bangga dengan NTT. Wilayah kita ini adalah benjana tanah nan indah. Karena itu tidaklah berlebihan bila Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya bilang; NTT adalah Nusa Tanah Terjanji.

Gubernur Lebu Raya menyesal dengan nada miris nan menor tentang NTT. NTT dinilai tidak punya apa-apa. Padahal itu salah besar. Dosa yang seolah-olah terberikan. Dan kita bila terjebak dengan penilaian negatif dari luar itu, maka kita menjadi kurang percaya diri dan ‘pelit’ mengatakan yang sebenarnya secara jujur dan tulus. Kita jadi minder. Kita tidak percaya diri. Kita kalah sebelum bertanding. Kita hanya disesaki aliran energi negatif. Azizah menjadi salah satu contoh mematahkan apriori orang bahwa NTT tidak memiliki bakat berdangdut.

Tantangan Bagi Dinas PPO

Azizah hanyalah setitik harapan yang kita miliki yang sudah kelihatan. Terlalu banyak Azizah-Azizah kecil yang masih terpendam di sudut-sudut kampung. Di remang-remang desa. Di bawah atap seng berkarat, di bagku belajar yang sudah reot berfufuk. Mereka-mereka itu memiliki potensi-potensi tertentu yang luar biasa. Sayangnya potensi itu masih sebatas emas terkubur lumpur. Salah siapa? Untuk sementara kita katakan dosa bersama. Dosa kebijakan yang kurang memperhatikan wahana olah rasa dan bakat alamiah yang dimiliki anak-anak kita.

Saya jadi ingat kegiatan cerdas-cermat, lomba-lomba tingkat sekolah dasar ketika Hari Ulang Tahun Pendidikan Nasional atau HUT Kemerdekaan RI. Pada moment itu ada lomba-lomba olah rasa intelektual dan ketajaman kepribadian.

Namun kini warisan beradab itu kurang mendapat porsi yang layak lagi. Anehnya, dulu dana terbatas kegiatan-kegiatan yang bernunasa pendidikan selalu diadakan, kini uang banyak (berdasarkan APBD setiap tahun) kegiatan-kegiatan produktif meransang bakat dan kemampuan anak kurang mendapat tempat. Ada apa sebenarnya?

Saya yakin, Azizah bisa tampil di ajang konteks bergengsi sekarang ini adalah kemauannya sendiri dengan biaya yang terbata-bata-serba kurang. Maka gerakkan spontanitas yang digalakkan di Maumere sebenarnya sebentuk cambuk agar Dinas PPO Propinsi NTT membuka mata. Memberikan sejumpat kasih dan perhatian. Lebih jauh dari itu Dinas PPO memikirkan ajang pencarian bakat bagi anak NTT melalui wahana yang tepat, agenda program, terrencana dan terukur.

Memang, kita akui , lalulintas informasi tentang ajang pencari bakat bagi kita di NTT selalu kandas. Akselerasi terhadap suatu ajang konteks selalu telat didengar. Kalau pun kita peroleh informasi itu
pada waktunya selalu kandas dana operasionalnya. Itu tantangan sekaligus peluangnya bagi pemilik kebijakan di tingkat pemerintahan. Berilah hak anak kepada anak-anak kita, pemilik masa depan.

Cukup sudah urus yang seremoni-seremoni. Acara-acara besar gengsi-gengsian menghabiskan banyak uang. Jangan hanya sibuk omong Propinsi Flores yang tidak pernah jadi-jadi itu. Jangan hanya sibuk urus Pilkada yang selalu subur dengan aroma korupsi, kolusi dan nepotisme. Uruslah manusia-manusianya. Ini penting!

Dan bagi Azizah teruslah berkibar. Ibarat naik berdera gapailah puncak tiangnya dan bertenggerlah di atas sana. Kami ada di belakangmu. Kami selalu mendukungmu. Kami bangga akan kemampuanmu. Kau mutiara dari Sikka, bejana indah dari NTT. harumkanlah nama NTT. Semoga jalanmu mulus Azizah.

Penguasa Jangan Alergi Kritik

Next Story »

Uang

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *