13 Warga Patisomba Keracunan Ikan Buntal, Seorang Anak Meninggal Dunia

MAUMERE, FBC - Keracunan ikan Buntal di kabupaten Sikka kembali terjadi. Kali ini keracunan ikan tersebut dialami 13 warga rukun tetangga (RT) 040 rukun warga ( RW ) 010 Patisomba kelurahan Wuring kecamatan Alok Barat kabupaten Sikka.Keracunan terjadi Selasa (19/05/2015) malam sekitar pukul 19.30 wita setelah mengkonsumsi ikan buntal yang sudah dimasak.

Bernandus Balu (65) salah seorag korban keracunan yang ditemui FBC, Rabu (20 /05/2015 ) di ruang ICU ( intensive care unit ) atau ruang Matahari RSUD TC Hillers Maumere menyebutkan, ikan tersebut ditemukan mati tergelatak di pinggir pantai. Oleh sang cucu Nikolaus Nggala (9) ikan buntal tersebut dibawa ke rumah dan diberikan kepada orang tuanya untuk dimasak.

Laurensius Regi, camat Alok Barat kabupaten Sikka. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Laurensius Regi, camat Alok Barat kabupaten Sikka. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

“ Ikan yang sudah dimasak juga dibagikan kepada tetangga sekitarnya Selang beberapa lama setelah memakannya kami merasakan badan mulai lemas, kepala pusing dan mulai muntah – muntah,” ujarnya.

Kerabat dan tetangga sekitar tambah Bernadus mencoba memberikan pertolongan dengan memberikan air kelapa muda dan susu untuk diminum. Namun upaya pertolongan tersebut sambungnya tidak memberikan hasil sehingga para korban dilarikan ke rumah sakit sekitar pukul 20.00 wita. Tiba di unit gawat darurat (UGD) RSUD TC Hillers Maumere, para korban langsung dtangani intenssif oleh dua dokter jaga, dr. Adit Budiarso dan dr. Ivan Banuraja.

Masih Kritis

Dokter Adit yang ditemui wartawan Selasa (19/05/2015) di ruang UGD menyebutkan, sekitar pukul 20.30 wita kelima korban keracunan tiba di ruang UGD dan langsung mendapat penanganan medis. Seorang korban yakni Nikolaus Nggala (9) meninggal selang beberapa saat tiba di rumah sakit meski sudah dilakukan upaya medis untuk menyelematkannya. Sementara itu 4 korban lainnya sebut Adit yakni Bernadus Balu (65) Veronika Fenge (35) Dirly (8) dan Oktovia Yanti (10) kondisinya masih kritis meski sudah mengalami penanganan.

Ditambahkan dokter Ivan selang beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 01.40 wita, delapan orang warga Patisomba kembali dilarikan ke ruang UGD RSUD T.C. Hillers. Delapan warga tersebut ungkap dokter Ivan, juga mengalami keracunan usai mengkonsumsi ikan beracun yang sama. Ke delapan warga Patisomba tersebut beber dokter Ivan yakni Sopianti (7), Yuliana (23), Liliyanti (11), Kelemens Tuwa ( 70 ), Maria Bunda ( 22 ), Maria Dolorosa (34), Polikarpus (14) dan Maria Ardiani Soni (46). Dengan bertambahnya delapan orang tersebut lanjut dokter Ivan, menyebabkan jumlah pasien keracunan ikan menjadi tiga belas orang.

” Tiga korban lainnya dalam kondisi kritis dan sisanya dalam proses observasi dan pemulihan kondisinya usai mengalami keracunan “ ungkap Ivan.

Menghimbau Masyarakat

Camat Alok Barat, Laurensius Regi yang ditemui FBC di kamar jenasah RSUD TC Hillers, Rabu (20/05/2015) mengatakan, informasi yang diperoleh dari keluarga korban menyebutkan para korban mengkonsumis ikan Bowa (Buntal) yang didapat Nikolaus sore itu di pantai Patisomba.

Ikan jenis ini kata Laurensius, bila dikelola dengan baik tidak menimbulkan keracunan. Korban yang mengalami keracunan malamnya langsung dibawa ke RS dan nahas dialami Nikolaus yang meninggal sebelum mendapat penanganan di rumah sakit.

“ Satu oarng meninggal dunia sementara seorang lainnya saat ini sedang kritis dan masih dirawat di ruang ICU. Para korban rata – rata masih keluarga dan bertetangga rumah “ sebutnya.

Nikolaus Nggala yang meninggal dunia ungkap Laurensius, beuusia 9 tahun kelas dan duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Di rumahnya korban hanya tinggal bersama tante dan neneknya. Mereka semua sambung Laurensius dirawat di RS sehingga di rumah duka tidak ada korban. Lurensius berharap agar ikan seperti ini lebih baik dibuang dan jangan dikonsumi masyarakat.

“ Nanti di rumah duka juga kami akan sampaikan ke masyarakat. Makan ikan ini sama saja kita berjudi dengan maut. Masa ikan melimpah kita harus konsumsi ikan jenis ini, “ tuturnya.

Pemerintah kabupaten Sikka sebut Laurensius sudah menyiapkan peti jenasah bagi korban dan sesudah penguburan pemerintah akan juga memberikan bantuan bagi keluarga yang terkena musibah ini. Semua pasien memilik kartu BPJS Kesehatan sehingga terbebas dari semua biaya perawatan di rumah sakit.Dari 13 orang yang mengalami keracunan demikian Laurensius, 8 orang sudah membaik dan dipulangkan sementara 5 orang masih dirawat intensif di rumah sakit.

Sosialisasi Lewat Poster

Seringnya kejadian ini harusnya membuat pemerintah kabupaten Sikka dalam hal ini dinas Kesehatan harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar jangan mengkonsumsi ikan jenis ini atau ikan lainnya yang mengandung racun. Menurut dokter Asep Purnama, dokter spesialis penyakit dalam saat berbincang dengan FBC di depan ruang ICU RSUD TC Hillers Maumere,Rabu (20/05/2015 ) selain himbauan lewat media massa, sosilisasi di masyarakat juga dilakukan lewat menyebarkan poster atau stiker berganbar jenis ikan beracun yang harus dilarang untuk dikonsumsi.

Dari data yang dihimpun dan diberitakan FBC, kejadian keracunan ikan Buntal sudah beberapa kali dialami warga masyarakat kabupaten Sikka. 3 orang warga desa Kolidetung kecamatan Lela, Minggu (07/09/2014), dilarikan ke RS. Sta.Elisabeth Lela setelah mengkonsumsi ikan Buntal. Stevanus Nasri (20 tahun) siswa kelas 2 SMAN Nita meninggal dunia sebelum mendapat perawatan di ruang UGD sementara Novensius Damianus (39) dan Yohanes Registo (15 tahun) bisa diselamatkan setelah mendapat perawatan intensif..

Dokter Asep Purnama

Dokter Asep Purnama

Dalam tahun yang sama, Senin (13/10/2014) kembaki 17 warga Palue dari desa Kesokoja dan Tuanggeo juga mengalami keracunan ikan yang sama namun nyawanya bisa tertolong setelah dibawa berobat ke puskesmas Tuanggeo dan dirawat intensif di RSUD TC Hillers. Tahun sebelumnya juga tepatnya Minggu (22/9/2013): Fabianus (28), warga Desa Reroroja, Magepanda, tewas gara-gara mengkonsumsi ikan buntal.

Dokter Asep Purnama yang ditemui FBC di RSUD TC Hillers, Jumad ( 22/05/15 ) menyebutkan, hingga Jumad ( 22/05/2015 ) satu orang korban yakni Veronika Fenge ( 35 ) yang ditanganinya di ruangan ICU kondisinya sudah membaik dan direncanakan untuk di pindahkan ke ruang perawatan biasa sementara 3 korban lainnya kondisinya sudah membaik sejak kemarin Kamis ( 21/05/2015 ) dan dipindahkan ke ruangan Flamboyan. Ketiga korban tersebut yakni Bernadus Balu ( 65 ),Oktavia Yanti ( 11 ) dan Dirly ( 8 ) sementara 8 korban lainnya sejak Rabu ( 20/05/2015 ) dan Kamis pagi ( 21/05/2015 ) sudah diperbolehkan kembali ke rumah karena sudah pulih.(Ebed de Rosary)

Meretas Flores Jadi Daerah Tujuan Ekowisata

Next Story »

Beras Sintetis Belum Masuk NTT

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *