Yuliana, Bukan Perempuan Biasa

Ibarat sapu lidi, disatukan dalam sebuah ikatan membuatnya bisa dipergunakan untuk menyapu.Toran Jo-sebuah kelompok masyarakat-, pun menganut filosofi sapu lidi ini. Pekerjaan seberat apa pun akan terasa ringan ketika dikerjakan bersama-sama.Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing melebur dalam semangat para perempuan pekerja keras ini.

BAGI masyarakat Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, nama kelompok masyarakat ‘Toran Jo’ sudah tidak asing lagi. Kelompok yang terdiri dari para mantan buruh migran dan keluarga buruh migran ini begitu solid mengorganisasi diri.Selain memiliki usaha simpan pinjam, kelompok ini juga mencari dana untuk kas kelompok dengan melakukan berbagai pekerjaan secara bersama-sama.Salah satu kegiatan yang pernah dilakukan adalah membuat saluran irigasi untuk mengairi sawah di desa tersebut.

Bagi Yuliana Eda Kolin atau yang kerap disapa Jely, ilmu yang didapatkannya selama dua tahun bekerja sebagai penata laksana rumah tangga di Kuala Lumpur, Malaysia, harus diterapkan di tanah kelahirannya. Dirinya merasa iba melihat para perempuan mantan buruh migran banyak yang hidup susah sekembalinya dari tanah rantau.Berangkat dari keinginan ini, saat ada program pendampingan dari sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM), dirinya memberanikan diri mengumpulkan kaum perempuan di desanya dan membentuk sebuah kelompok masyarakat yang dinamai ‘Toran Jo’.

Yuliana Eda Kolin, ketua kelompok Toran Jo Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur.  (Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Yuliana Eda Kolin, ketua kelompok Toran Jo Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur. (Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Berjalan Bersama

Pertemuan dengan kelompok ini merupakan tatap muka kedua bagi saya setelah sebelumnya, dua tahun silam terlibat dalam program evaluasi kelompok dampingan LSM lokal yang didanai sebuah lembaga asing.Pertemuan yang dilangsungkan di rumah Kepala Desa Konga, baru-baru ini,berlangsung tak lama karena sebagai ketua, Jely yang ditemani bendahara kelompok, harus bergegas ke kota Larantuka untuk memaparkan progam yang diusulkan kelompok ini di hadapan sebuah instansi pemerintah yang dimintai bantuan dana.

Nama ‘Toran Jo’, ungkap Jely, diambil dari bahasa Nagi (Larantuka) yang artinya kami saja atau cuma kami. Makna lebih luasnya, ‘Toran Jo’ artinya kami sama-sama, kami satu dalam lingkaran saudara, jangan kan orang lain, kami saja bisa.Nama ini terlintas saat ada program pemberdayaan buruh migran di daerah asalnya, Desa Konga. Ketika itu, ada program pemberdayaan perempuan yang didanai sebuah lembaga asing. Saat dirinya ditawari untuk ikut pelatihan, dirinya langsung menyambar kesempatan itu dengan mengumpulkan para perempuan mantan buruh migran untuk membentuk organisasi.

“Kalau mau maju kami para perempuan harus bersatu dan saling mendukung.Dengan berkelompok, kami akan menjadi kuat dan bisa saling memotivasi satu sama lain untuk meraih mimpi kami,”ujar ibu dari tiga anak ini penuh semangat.

Kelompok yang dibentuk pada 27 September 2009 ini, awalnya beranggotakan 45 orang lebih. Tapi saat ini hanya tersisa 27 orang saja.Dari jumlah tersebut, tercatat 25 orang perempuan sementara dua lainnya laki-laki. Salah satu dari anggota laki-laki adalah suami dari Jely sendiri.Menurutnya, dengan memasukan suaminya di dalam kelompok, dirinya ingin menunjukan kepada masyarakat bahwa dengan berkelompok dan bekerja bersama, semua mimpi bisa dicapai. Anak-anaknya pun kadang diajak ikut kerja di kelompok ini.

Saat disambangi dalam sebuah kegiatan tahun kemarin, terlihat dua perempuan anggota kelompok mengenakan kerudung.Menurut Jely, kelompoknya terbuka bagi siapapun tanpa membedakan jenis kelamin, agama, dan suku bangsa.Bahkan menurutnya, anggota tertua kelompok, Siti Hajah berusia 60 tahun lebih tetapi tetap bersemangat mengikuti kegiatan.Meski berusia di atas setengah abad, Mama Siti –panggilannya- tetap bertahan bergabung di kelompok ini yang didominasi kaum perempuan berumur 30 tahunan.

Bangun Irigasi

Selain bekerja secara berkelompok di sawah milik anggota maupun di sawah petani lainnya di areal persawahan Desa Konga, kelompok ini juga pernah bekerja membangun saluran irigasi dua tahun silam. Saluran irigasi sawah sepanjang 500 meter dengan tinggi 30 sentimeter yang merupakan proyek dari Dinas Pertanian Kabupaten Flores Timur itu dikerjakan ‘Toran Jo’setelah semua kelompok tani di Desa Konga bahkan badan usaha yang ada menolak mengerjakan. Banyak yang menyindir ‘Toran Jo’ dengan mengatakan mereka hanya kerja bakti saja, tak mungkin dapat untung. Tak diduga sebelumnya, dari dana Rp 50 juta untuk mendanai proyek irigasi, mereka dapat menyisihkan sedikit keuntungan untuk kas kelompok.

Para perempuan anggota kelompok Toran Jo sedang mengerjakan saluran irigasi di areal persawahan Desa Konga. (Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Para perempuan anggota kelompok Toran Jo sedang mengerjakan saluran irigasi di areal persawahan Desa Konga. (Foto : FBC/Ebed de Rosary )

“Kami hanya ingin tunjukan, bahwa kami bisa melakukan pekerjaan seberat apa pun secara gotong royong.Kami akan mengerjakannya dengan baik, supaya nama kami bisa harum dan selalu jadi prioritas bila ada tawaran pekerjaan, “ tutur istri dari Daniel Adu ini.

Ketika saya mengecek hasil pekerjaan ‘Toran Jo’, saluran irigasi di pinggir jalan negara Trans Flores yang dikerjakan awal Juni 2014 tersebut sampai saat ini masih bagus kondisinya. Saya menyaksikan sendiri para perempuan anggota kelompok ini tak sungkan mengangkat pasir dan batu, mengaduk campuran semen dan pasir bahkan ikut bekerja sebagai tukang batu.

‘Toran Jo’ dibantu seorang tukang batu yang diberi upah harian. Sementara para anggota ‘Toran Jo’, menurut Jely, awalnya diberi upah setiap hari, tetapi akhirnya dua hari kerja hanya dibayar sekali dan sehari kerja masuk ke kas kelompok.Kekompakan dan hasil kerja yang baik membuat ‘Toran Jo’ mendapat bantuan satu unit hand tractor yang disewakan dan bisa menambah kas kelompok.

‘Toran Jo’ juga, sambung Jely, bekerja kelompok seperti mencabut rumput, menanam, dan memanen padi di areal sawah milik anggota atau petani lain. Untuk anggota, setelah selesai bekerja, anggota tersebut harus memasukan dana Rp 20 ribu ke kas kelompok. Sementara bagi yang bukan anggota, dananya dibagikan ke anggota dan sisanya dimasukkan ke kas kelompok.

Menurut Jely, saat ini kelompok ‘Toran Jo’ sudah mempunyai dana kelompok dan dana tersebut digulirkan kepada anggota melalui pinjaman.Setiap anggota atau pengurus yang mengikuti kegiatan pertemuan atau pelatihan di luar desa, akan diberikan uang makan dan dana transport, bila pihak pengundang tak menyediakannya.

Beras Kemasan

Keberadaan ‘Toran Jo’ yang awalnya merupakan kelompok buruh migran dan kini berkembang menjadi kelompok tani, tak lepas dari sosok Jely sang ketua yang dipercaya memegang tampuk pimpinan sejak awal terbentuk.Perempuan kelahiran Konga, 23 Maret 1975 ini merasa bersyukur sebab selama di tanah rantau, dirinya mendapat majikan yang baik dan merupakan pebisnis sukses sehingga ilmu itu yang dia terapkan dalam memimpin ‘Toran Jo’.

“Majikan selalu mengajarkan saya ilmu menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan bagaimana menjadi seorang pemimpin. Dia punya pengalaman atau kealihan yang selalu dibagikan ke saya. Dia anggap saya sebagai saudara sehingga sampai sekarang saya masih berhubungan dengannya,”ungkapnya.

Sementara itu, Katarina Trin Kedang mengaku dirinya tertarik bergabung secara sukarela ke ‘Toran Jo’ sejak 2011. Alasannya, dia melihat kelompok tersebut selalu giat bekerja dan kompak.Banyak kelompok masyarakat, sebut Trin, yang dibentuk hanya untuk mencari bantuan dan tak lama bubar dengan sendirinya. Bagi Marta Buan, bendahara yang bergabung sejak tahun 2013, dirinya tertarik melihat semangat anggota kelompok ini. Baginya, Siti Hajah, anggota tertua selalu memberinya semangat serta selalu memberikan pikiran dan saran untuk kelompok ini. ‘Toran Jo’,kata Marta, eksis berkat sentuhan tangan Jely selaku pemimpin.

Adapun Gregorius Mulo Witin Kepala Desa Konga menyebutkan, ‘Toran Jo’ merupakan salah satu kelompok terbaik dari enam kelompok yang eksis saat ini di Konga. ‘Toran Jo’ urainya,bergerak di segala bidang dimulai dari pemberdayaan perempuan, buruh migran dan juga kelompok tani. Kalau kelompok lain, hanya muncul saat ada bantuan. Sementara ‘Toran Jo’ selalu melakukan aktivitas dan pertemuan rutin setiap bulannya. Jika ada bantuan dari dinas pertanian, papar Goris, ‘Toran Jo’ selalu menjadi prioritas untuk mendapatkan bantuan.

‘Toran Jo’, tutur Jely, sedang berusaha menjadi kelompok yang terbaik di desa dan masih dalam taraf berkembang.Kelompok perempuan ini sedang berusaha agar hasil pertanian di Konga khususnya padi bisa dipasarkan keluar daerah dalam bentuk kemasan. Bantuan dana untuk membeli beras petani dan alat pengemasan sudah diajukan ke pemerintah.

“Ini untuk membantu petani juga, soalnya kalau lagi panen harga beras sering dijual murah.Kalau bisa pemerintah bantu kami pinjamkan dana untuk modal usaha yang kami kelola agar bisa meningkatkan taraf hidup petani di Konga, “ pungkasnya.(*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Melantunkan Ovos, Meratapi Pesan Yesus

Next Story »

‘Klerus Tak Boleh Terlalu Jauh Mencampuri Devosi’

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *