Veronika dan Kehidupan yang Tetap Layak Dijalani

Lebih dari tiga dasawarsa, hidupnya disangga dua tongkat yang senantiasa menggelantung di kedua ketiaknya. Senyum selalu mengembang di wajahnya, seolah kepedihan tidak pernah singgah dalam hidupnya. ‘Anak panah’ yang menghampirinya diubah menjadi ‘bunga-bunga’ kehidupan.

RUMAH bambu itu lengang. Pintu utama rumah itu senantiasa terbuka. Menembus ke pintu belakang yang menghubungkan rumah dengan halaman belakang yang lebih tepat disebut kebun belakang. Hamparan tanah yang ditumbuhi berbagai tanaman pangan pekarangan. Singkong, bayam, tomat, terong, kemangi. Hasil dari tanaman itu tidak dijual tetapi dikonsumsi sendiri. Tetangga sekitar sangat akrab dengan kondisi yang sederhana itu, terlebih dengan penghuninya yang hanya dua orang.

Keadaan rumah seperti ini memudahkan saya menembus hingga halaman belakang. Maklumlah, saya sudah akrab dengan kedua penghuni rumah ini, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Keduanya bersaudara kandung.

Pemilik rumah bambu itu adalah Veronika Urong Beanor, warga Kampung Posiwatu, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata. Bertahun-tahun sejak 1980, Veronika yang periang itu hidup dengan dua tongkat kayu. Sehari-hari tubuhnya yang masih bugar itu bagai bergelantungan di atas dua tongkat jika ia berjalan melewati pematang batu di halaman rumahnya. Di rumah mungil ini, perempuan berkebutuhan khusus dan telah melampaui usia di atas kepala enam itu berperan sebagai pengendali ekonomi harian keluarga. Dia hanya hidup berdua dengan sandaranya, Dominikus Pesa Beanor yang juga berkebutuhan khusus.

Veronika Urong Beanor, di depan rumahnya di Kampung Posiwatu, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata. (Foto: Koli Baran)

Veronika Urong Beanor, di depan rumahnya di Kampung Posiwatu, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata. (Foto: Koli Baran)

Sejak awal tahun 1960-an, kedua kakak beradik ini telah ditinggal kedua orang tua mereka. Bahkan sejak kecil, Dominikus telah kehilangan pendengaran secara total. Komunikasi yang efektif bisa dilakukan dengan bahasa isyarat. Meski begitu, warga sekitar bisa memahaminya. Konon ceritanya, semasa kecil kedua telinganya sering gatal-gatal. Dominikus biasa mengorek-orek telinganya menggunakan benda keras seperti potongan sapu lidi, dan lainnya. Hal inilah yang perlahan-lahan membuat pendengarannya menurun hingga hilang total.

Walau demikian, Dominikus seorang pekerja keras dan disayangi warga sekampung. Mungkin karena menyadari kekurangan indra pendengarannya, maka Dominikus tidak pernah terlibat masalah dengan orang lain. Jadilah dia disayangi, apalagi selalu bersedia menolong jika ada yang membutuhkan tenaganya.

Lain lagi cerita saudara perempuannya, Veronika. Ia harus rela kehilangan bagian kaki kiri di bawah lutut. Baginya, ini pilihan berat. Dia mengatakan, yang ia perjuangkan adalah panjang umur agar bisa membantu mengurus saudaranya, Dominikus yang sejak kecil telah kehilangan pendengaran. Apalagi keduanya sebatang kara. Maka ia lebih rela kehilanghan sepotong kakinya ketimbang kehilangan nyawanya.

 

Berawal dari Gatal

Dia masih ingat benar, peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1969. Saat itu, di sekitar betis dan mata kaki kiri timbul gatal-gatal. Karena sering digaruk, maka bagian kaki itu menjadi luka. Luka kecil dan karena itu kurang mendapat perhatian. Dalam perjalanan waktu, luka ini semakin parah.

Sejenak ia mengenang masa-masa awal musibah itu datang. Hidup di sisi Selatan Pulau Lembata, saat itu dengan sarana transportasi dan peredaran uang yang minim. Rumah sakit yang tergolong cukup memadai hanya tersedia di Larantuka dan Lewoleba. Veronika dan saudaranya yang saat itu sudah kehilangan pendengaran, akhirnya berupaya menempuh pengobatan tradisional. Berbagai ramuan digunakan untuk mengobati luka di kakinya.

Dikisahkannya, luka yang sering bernanah itu pernah berulang kali sembuh oleh pengobatan tradisional dan meninggalkan bekas kehitam-hitaman di kulit. Lalu beberapa saat kemudian membengkak dan bernanah lagi. Lama kelamahan, bengkak dan nanah menjurus ke permanen.

Selain pengobatan tradisional, sering juga mendapat pengobatan medis di pos pelayanan kesehatan terdekat di Lamalera dan Boto. Kedua pos kesehatan yang dikelola oleh misionaris Katolik. Juga pelayanan kesehatan keliling yang dilakukan oleh Pastor Paroki Lamalera saat itu P. Arnold Dupont, SVD. Namun ceritanya tetap sama. Sembuh dan sakit lagi. Bahkan tingkat keseriusannya semakin bertambah, jika timbul lagi setelah sembuh.

Pilihan Berat

Tahun 1980. Saat itu musim kemarau panjang. Bagi Veronika, inilah puncak penderitaan yang dialaminya. Yang ia bayangkan adalah, Tuhan akan mengakhiri penderitaannya dengan kematian. Ia masih ingat masa itu. Yang ia pikirkan saat itu adalah bagaimana dengan kehidupan saudaranya, Dominikus, bila dia tinggal mati?

Veronika menuturkan, dialah tulang punggung pengendali ekonomi di rumahnya. Saudaranya, Dominikus, merupakan pekerja keras dan punya kebun yang menghasilkan. Namun, kelangsungan dan ketahanan ekonomi keluarga terlebih pangan, justru ada dalam kendali perempuan ini. Inilah pandangan umum di kampung itu, bahwa faktor ketahanan pangan terletak pada perempuan. Hal ini yang menjadi pemikiran serius Veronika ketika menghadapi masa sulit dengan luka di kakinya yang semakin parah, bahkan bernanah, dan berbau.

Hari demi hari dilalui dengan penuh kepasrahan. Baginya, bantuan maupun saran apa pun yang diberikan oleh siapa pun demi meringankan beban deritanya, akan ia lakukan sejauh kemampuannya.

Suatu kali, ia dikunjungi seorang anggota kepolisian yang masih merupakan keluarga jauh. Anggota polisi itu mengatakan, jalan yang baik namun berat adalah amputasi. Saat itu ia bukan membayangkan kehilangan sebagian kaki kirinya. Yang ia pikirkan adalah bagaimana itu bisa dilakukan? Dari mana biaya untuk melakukan amputasi? Dalam hati, ia terus berdoa kiranya Tuhan memberi jalan.

Ia melanjutkan kisahnya. Di luar dugaan, ia dikunjungi seorang keluarga dekatnya yang saat itu bekerja di Misi Lewoleba, yakni Andreas Lanangona. Juga seorang saudara yang lain, seorang mantan biarawati yang saat itu bekerja sebagai perawat di RS Bukit Lewoleba, yakni Elisabeth Diaz Lanangona. Andreas menyarankan untuk menjalani perawatan di RS Bukit Lewoleba karena di sana ada dokter bedah, yakni dr Handoko. Veronika akhirnya dirawat di RS Bukit Lewoleba untuk menjalani operasi. Kepergiannya diiringi doa oleh warga sekampungnya.

Ia mengenang perjalanan itu. Dari kampungnya ke pantai di Lamalera ia harus ditandu karena tidak bisa berjalan. Kurang lebih sehari perjalanan laut dan sampailah ia di Lewoleba. Di RS. Bukit Lewoleba yang dikelola para Suster Carolus Baromeus itulah, Tuhan berpihak padanya. Operasi oleh dokter Handoko saat itu berjalan mulus walau dia harus menerima transfusi darah. Sejak saat itulah, hidupnya selalu bersama dua tongkat penyangga.

Kini, ia menjalani hari-hari hidupnya dengan riang gembira. Siang hari saudaranya Dominikus ke kebun. Veronika mengurus rumah dengan ditopang tongkat penyangga, walau kesulitan melewati pematang-pematang batu antara rumah, dapur, dan lumbung pangan. Tumbuk padi, titi jagung, merawat sayur di pekarangan, memasak dan mencuci. Semuanya ia lakukan dengan riang. Tak terlihat duka diwajahnya. Veronika mengajarkan kepada kita, sepahit apa pun derita hidup yang kita terima, pada

Ketika saya tiba di rumahnya dari arah lumbung pangan miliknya, terdengar senandung lagu daerah menyeruak dari balik pintu lumbung pangan. Dan, ketika saya menyapanya, ia merespon dengan riang disertai derai tawanya yang khas. Bagaikan tak ada yang kurang dari dirinya. Veronika mengajarkan kepada kita, sepahit apa pun derita hidup yang kita terima, pada akhirnya kehidupan masih tetap layak untuk dijalani. (*)

 

Penulis: Melky Koli Baran

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Ingin Menjadikan Ende sebagai Kota Wisata

Next Story »

Menanam Bakau, Meraih Kalpataru

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *