Tolak Penertiban, DPRD Lembata Usir Sat Pol PP dari Taman Kota

Upaya penertiban pedagang pasar Pada di taman kota Lewoleba oleh Sat Pol PP Lembata dihadang Anggota DPRD Lembata. tampak, Ketua DPRD Lembata Ferdinandus Koda (topi hitam) didampingi tiga anggota DPRD berdebat dengan Kasat Pol PP Kanis Making (berhelm) di taman kota Lewoleba. (Foto FBC/Yogi Making)

Upaya penertiban pedagang pasar Pada di taman kota Lewoleba oleh Sat Pol PP Lembata dihadang Anggota DPRD Lembata. tampak, Ketua DPRD Lembata Ferdinandus Koda (topi hitam) didampingi tiga anggota DPRD berdebat dengan Kasat Pol PP Kanis Making (berhelm) di taman kota Lewoleba. (Foto FBC/Yogi Making)

LEWOELEBA, FBC-Kendati telah terbangun kesepakatan antara DPRD dan pemerintah Kabupaten Lembata melalui rapat paripurna Senin (13/4/2015), namun Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lembata ngotot untuk melakukan upaya penertiban pedagang pasar Pada yang berjualan di taman kota Lewoleba.

Selasa (14/4/2015) Ketua DPRD Lembata, Ferdinandus Koda dan tiga anggota DPRD, masing-masing Servasius Suban, Fransiskus Limawai dan Palmasius Gogok, menghadang 70 anggota Sat Pol PP di taman kota Lewoleba.

Sebagai gambaran, pemerintah melalui Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Wathun dan Sekda Petrus Toda Atawolo bersama DPRD Lembata dalam rapat paripurna, Sabtu (12/4/2015) memutuskan, DPRD Kabupaten Lembata segera mengelar rapat kerja bersama Bupati Eliaser Yentji Sunur guna mencari jalan keluar terkait aksi pedagang pasar Pada. Sebelum rapat kerja dilakukan, pemerintah diharapkan untuk tidak melakukan upaya penertiban.

Disaksikan floresbangkit.org, sekitar pukul 06.30 wita, Kasat Pol PP, Kanis Making ketika memimpin 70 anggotanya di taman kota Lewoleba melalui pengeras suara, meminta ratusan pedagang yang berjualan di taman kota Lewaoleba untuk membongkar lapak jualan dan membawa kembali ke pasar Pada. Jika permintaan tidak diindahkan, maka dilakukan upaya paksa. Puluhan anggota Sat Pol PP, yang bersenjatakan pentungan terlihat menggenggam linggis dan peralatan lain berjaga-jaga di sekitar lokasi pasar taman kota.

Aksi Sat Pol PP itu memicu kemarahan Ketua DPRD Lembata dan tiga anggotanya. Empat orang wakil rakyat Lembata yang sejak pagi sudah ikut berjaga bersama ratusan pedagang di taman kota itu seketika berang dan terlihat mendatangi Kasat Pol PP Kanis Making. Mereka mendesak Sat Pol PP untuk tidak melakukan penertiban.

Tak peduli dengan peringatan dan desakan DPRD, Sat Pol PP tetap ngotot untuk melakukan penertiban pedagang. Menjawab desakan DPRD, Kasat Pol PP Kanis Making mengatakan, dirinya tak peduli dengan apapun keputusan yang sudah di tempuh DPRD. Berjualan di taman kota tidak dibenarkan dan Sat Pol PP datang untuk menegakan Perda.

Upaya penertiban pedagang pasar Pada di taman kota Lewoleba oleh Sat Pol PP Lembata dihadang Anggota DPRD Lembata. Tampak, Ferdi Koda sedang berdebat dengan Kasat Sat Pol PP, Kanis Making. (Foto : FBC/Yogi Making)

Upaya penertiban pedagang pasar Pada di taman kota Lewoleba oleh Sat Pol PP Lembata dihadang Anggota DPRD Lembata. Tampak, Ferdi Koda sedang berdebat dengan Kasat Sat Pol PP, Kanis Making. (Foto : FBC/Yogi Making)

Jawaban Kanis Making, memancing emosi ketua DPRD Lembata. Ferdi Berang, karena menilai Sat Pol PP Lembata tidak menghargai institusi DPRD.

“Kau tidak menghargai DPRD, Supaya kau tau, tadi malam itu ada keputusan bahwa tidak ada penggusuran terhadap para pedagang sebelum ada rapat kerja dengan Bupati. Bupati, sudah tiga kali diundang oleh DPRD untuk rapat kerja namun tidak mau hadir. Panggil bupati untuk hadir disini supaya kita bicarakan bersama,” kecam Koda dengan nada tinggi.

Demikian juga dengan tiga anggota DPRD Lembata. Palmasius Gokok, Servasius Suban dan Fransiskus Limawai ikut datang mengingatkan Kasat Pol PP. Mereka juga meminta, agar Bupati dihadirkan ke taman kota untuk bertemu pedagang dan DPRD Lembata.

“Yang punya hak untuk panggil Bupati adalah DPRD, saya datang kesini untuk tegakan Perda,” tangkis Kanis tak kalah seruh. Sikap ngotot Kasat Pol PP, membuat situasi kian panas, ratusan pedagang ikut marah, mereka bahkan terlihat siap melawan jika upaya paksa untuk memulangkan mereka ke tempat jualan semula tetap di lakukan Sat Pol PP. “Kau jangan datang omong Perda disini. Bupati buka pasar TPI itu langgar Perda, kenapa kau tidak tertibkan, kenapa kau tidak larang Bupati,” teriak pedagang dari balik kerumunan massa.

Seperti disakasikan, suasana panas mencekam itu berlangsung kurang lebih 30 menit. Perlawanan sengit pedagang dan anggota DPRD Lembata untuk menolak upaya paksa penggusuran akhirnya membuahkan hasil. Kasat Pol PP Kanis Making, kemudian memilih untuk menarik kembali 70 anggotanya dari taman kota Lewoleba.

Tunggu Bupati

Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Wathun Selasa (14/4/2015) mengaku kecewa terhadap tindakan Sat Pol PP yang ngotot untuk melakukan upaya penggusuran pedagang pasar pada dari taman kota Lewoleba. Dia mengaku, sudah memerintahkan Kasat Pol PP untuk menarik kembali pasukan dari taman kota, upaya penertiban pedagang pasar dari taman kota baru dilakukan setelah ada keputusan Bupati dan DPRD Lembata melalui rapat kerja yang akan di gelar beberapa waktu mendatang.

“Bupati sedang ke Jakarta, soal pasar itu akan ditangani setelah ada keputusan antar Bupati dan DPRD Lembata dalam rapat kerja mendatang. Tadi saya perintahkan Kasat Pol PP untuk tarik pulang pasukan dari taman kota. Saya tidak mau rakyat dibenturkan dengan Pol PP, karena itu saya perintahkan Kasat Kanis Making untuk segera tarik kembali pasukan dari taman kota. Saya bilang, kalau ada apa-apa dengan rakyat, kau yang bertanggungjawab. Saya kecewa, karena soal pasar itu kami sudah bicarakan dengan DPRD Lembata, dan keputusan tunggu bupati datang dari Jakarta, saya juga tidak tau kenapa Sat Pol PP tiba-tiba turun ke taman kota,” kesal Wabub.

Penegasan Wabub Lembata itu disampaikan kepada media ini, usai menghadiri acara Seminar dan Lokakarya, Sosialisasi Instrumen Internasional untuk Perlindungan Buruh Migran, yang dilaksanakan Yayasan Kesehatan Untuk Semua (YKS) di Aula Kopdit Ankara, Lewoleba. (Yogi Making)

Slank Konser di Kupang, Sudah 4.550 Tiket Terjual

Next Story »

Latih 28 Warga Lembata, Migran Care Ciptakan Kader yang Bergerak di Komunitas

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *