Kain Tradisionil

Tenun Ikat Lembata Tergerus Roda Jaman

Dahulu para perempuan dewasa Lamaholot harus mampu menenun atau neket tene. Ketrampilan itu membuktikan seorang perempuan benar-benar mencintai ibunda yang telah melahirkan dan membesarkannya. Tapi kini para tetua kesal karena perempuan muda di sana menghayati tenun secara berbeda

KARENA semua perempuan menenun kain tenun tradisionil pun cukup untuk memenuhi kebutuhan semua ritual tradisionil yang mesti mereka jalani. Namun kondisi sekarang amat berbeda. Cara berpikir warga sudah berbeda. Tak semua perempuan sudi menenun meski mereka tetap cinta ibundanya.

Dua pengrajin tenun ikat asal Ile Ape yang bermukim di Wangatoa, Kelurahan Selandoro, Nubatukan, Kabupaten Lembata mengeluhkan hal itu kepada FBC awal 2015 ini. Terus terang mereka mereka khawatir budaya menenun segera punah. Perempuan-perempuan muda jaman ini lebih memilih pakaian jadi bermerk ketimbang mengenakan sarung sebagai busana keseharian.

Perempuan Ile Ape dengan busana "wate ohin" Gambar diambil dalam sebuah kesempatan pameran budaya di desa Kolontontobo, Kecamatan Ile Ape. (Foto FBC/Yogi Making)

Perempuan Ile Ape dengan busana “wate ohin” Gambar diambil dalam sebuah kesempatan pameran budaya di desa Kolontontobo, Kecamatan Ile Ape. (Foto FBC/Yogi Making)

Saat FBC menelusuri seluk beluk tenun di perkampungan mereka, kekhawatiran dua perempuan paruh baya itu bukan tanpa alasan. Perempuan muda di sana kini memandang menenun adalah pekerjaan melelahkan, kolot dan tak punya nilai ekonomi.

Kain sarung ini hanya dilihat sebagai sebuah warisan budaya yang bisa dikenakan sewaktu-waktu terutama saat upcara-upacara adat tertentu, atau dalam upacara pagelaran budaya. Selebihnya perempuan muda memilih pakain jadi bermerk, dengan berbagai model.

“Kalau dulu, belum tahu tenun belum bisa kawin. Perempuan yang tidak tahu tenun akan dicerca oleh keluarga suami. Sekarang ini, asal bisa pakai celana panjang, bedak sedikit untuk poles muka, kutex tempel di kuku, gincu merah hias bibir, sudah bisa kawin,” tutur Lusia Lepang (56) agak nyinyir.

Lusia sendiri tak tahu pasti mengapa perempaun muda sekarang tak lagi mau belajar menenun, padahal menenun bukan sekedar mempertahan budaya, tetapi lebih dari itu menenun adalah harga diri perempuan lamaholot, dan bentuk bakti dan cinta seorang anak perempuan kepada ibudanya.

“Kalau tidak tahu tenun, kita diejek keluarga suami, dan itu sama saja dengan kita bikin malu mama yang melahirkan kita, saya cinta mama saya, jadi saya tidak mau mama malu, karena itu sejak kecil saya sudah belajar tenun,” ujarnya lagi.

Kecemasan yang sama diutarakan Yustina Jari Niha Making. Wanita paruh baya mengingatkan bahwa sesungguhnya kain tenun tak bisa dilepas dari adat dan budaya lamaholot. Dalam sebuah acara perkawinan, kain tenun dipakai sebagai balasan dari keluarga perempuan kepada keluarga pria saat menerima gading belis dari seorang anak gadis.

“Saya tidak tahu lagi dengan nasib adat ini kedepan, karena sekarang ini kita punya anak gadis tidak mau lagi untuk belajar tenun. Lama-lama kita punya anak tidak di belis pakai gading lagi, karena orang kasih gading kita balas pakai apa? Kain sarung menjadi langkah, tidak ada lagi yang tau tenun,”ujar nenek bercucu dua ini.

Yutina Jari (Kaos putih) dan Lusia Lepang (menenun), dua pengrajin tenun ikat asal Ile Ape yang bermukim di Wangatoa, Kelurahan Selandoro, Lembata. Tampak perempuan yang tak muda lagi ini sedang melakukan proses menenun. (Foto : FBC/Yogi Making)

Yutina Jari (Kaos putih) dan Lusia Lepang (menenun), dua pengrajin tenun ikat asal Ile Ape yang bermukim di Wangatoa, Kelurahan Selandoro, Lembata. Tampak perempuan yang tak muda lagi ini sedang melakukan proses menenun. (Foto : FBC/Yogi Making)

Watek

Secara umum, sebenarnya kain tenun khas orang Lembata dibedakan menjadi dua yakni, kewatek nai rua atau sarung yang terdiri dari dua bagian tenunan yang digabung menjadi satu. Satu lagi Kewatek Nai Telhon yakni sarung jenis lebih panjang karena terdiri dari tiga bagian tenunan.

Sarung di lembata sangat beragam, setiap kecamatan memiliki motif dan jenis yang yang berbeda. Di Ile Ape misalnya, terdapat 6 jenis sarung tenun dengan kegunaan yang berbeda.

Adapun ragam dan dan kegunan sarung tenun Ile Ape adalah, Sarung Tenepa, sarung jenis ini biasanya diperuntukkan bagi perempuan yang berasal dari keturunan bangsawan, atau yang bersuamikan kaum bangsawan. Tenepa domininasi motif berwarna merah dan kuning yang dibuat dari benang pilihan. Biasanya berasal dari benang kapas di padu benang sutra.

Jenis Wate Ohin, sarung jenis ini dalam adat kebiasaan orang Ile Ape, bernilai adat tinggi karena berfungsi sebagai balasan atas gading belis yang diterima dari keluarga pria. Wate Ohin saat ini dihargai Rp. 15 sampai Rp. 20 juta per lembar.

Selain karena bernilai adat tinggi, Wate Ohin waktu pembuatannya pun terbilang lama, kadang-kadang hingga setahun. Tidak semua pengrajin tenun bisa menenun sarung jenis ini, biasanya kain jenis ini dikerjakan hanya pada saat tertentu terutama di waktu-waktu tenang, pengerjaan pun butuh kesabaran dan kejelian yang tinggi.

Proses pewarnaan secara alami untuk wate ohin dilakukan berulang-ulang hingga mencapai warna yang diinginkan. Motif dan warna yang tak sesuai, berpengaruh terhadap kwalitas kain dan biasanya tak bisa dipakai sebagai balasan atas belis seorang perempuan.

Wate Hebak, sarung jenis ini merupakan kain pendamping Wate Ohin. Pembeda kedua jenis tenun ini adalah warna dan motif. Jika wate ohin didominasi oleh motif dan berwarna merah, wate hebak berwana hitam dan putih, motif atau “mowak” (lamaholot-red) wate hebak sekitar 40 Cm dari kedua tepian kain, sementara bagian tengah didominasi warna hitam .

Sarung Kebo Lolon dan Topon. Sarung jenis ini adalah jenis sarung rumahan atau yang biasanya dipakai busana harian kaum perempuan. Dari waktu pengerjaan untuk menjadi sebuah kain utuh yang bisa di pakai, jenis ini terbilang cepat. Untuk meneun kain jenis ini hanya butuh waktu 1 minggu. Kadang kain ini tak butuh motif bergambar tetapi cukup di padu dengan beberapa warna benang. Harga kain jenis ini tidak lebih dari Rp. 100 ribuh, selain itu mudah di dapat karena di jual bebas di pasar.

Nowing adalah busana pria. Proses pembuatan sarung jenis ini terbilang mudah karena merupakan paduan warna benang. Nowing, bagi pria Ile Ape di dominasi warna hitam dengan sedikit perpaduan warna biri, kuninng dan merah, sementara untuk pria Atdei biasanya didominasi warna merah, sementara untuk kecamatan Wulandoni berwarna putih dengan paduan warna hijau dan merah hati ayam.

Mowak
Mowak adalah motif bergambar yang terdapat pada kain tenun orang lamaholot. Biasanya, mowak mengambil bentuk binatang laut atau tanaman tertentu. Perempuan Ile Ape dalam menenun mengenal lima jenis mowak, masing-masing mowak kabu lepaken, mowak ara limanen, mowak belaonen atau belawanen, dan mowak kukun puhununen.

“Lima jenis mowak itu dipadu dalam selambar kain tenunan. Setiap motif memiliki keunikan sendiri-sendiri, tetapi sebagai penenun harus mampu memadu sedemikian rupa supaya terlihat indah. Mowak itu gambaran dari ikan, ada juga bentuk daun dan bunga,” jelas Yustina Jari Nihamaking, penenun yang beralamat di Wangatoa, kelurahan Selandoro, Kabupaten Lembata.

Proses Menenun
Untuk menjadi selembar sarung siap pakai, proses yang memakan waktu hingga berbulan-bulan bahkan untuk jenis kain tertentu bisa memakan waktu 1 tahun.

Kendati dewasa ini, penenun dimudahkan dengan hadirnya beragam jenis warna benang. Namun menenun sejatinya dimulai dari proses pemilihan kapas, pemisahan kapas dari biji, pemintalan kapas menjadi benang (tue lelu), perwarnaan, pembuatan motif (bowa mowak), dan bagian terakhir adalah tane tenane (menenun). Biasanya, benang motif berwarna putih agar mudah dilakukan pewarnaan sesuai keinginan sang pengrajin.

Dalam mewarnai benang, pengrajin tenun ikat tradisional masih menggunakan pewarna tradisional yang didapatkan dari alam. Misalnya dengan menggunakan beberapa jenis tumbuhan, seperti akar mengkudu (untuk warna merah), daun nila (warna hitam), pohon hepang, kunyit (warna kuning).

Penulis: Yogi Making

Editor: Donny Iswandono

Melantunkan Ovos, Meratapi Pesan Yesus

Next Story »

Aendere, Air Terjun Bertangga yang Terlupakan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *