Jejak Katolik di Desa Wure (2-habis)

Tanjung Gonsalu, Saksi Sejarah Pertahanan Wure

Selain Larantuka dan Konga, Wure jauh sebelumnya sudah menjadi sebuah kerajaan kecil yang dipimpin Pousan. Agama Katolik di Wure berkembang pesat dan menyebar hingga ke pelosok Pulau Adonara. Wure hingga saat ini masih tetap menjalankan tradisi devosi warisan Portugis.

SETELAH ada penyerahan tanah oleh Kelake Lamadira Daton Bulu Ama kepada Pousan, bangsa Portugis mulai membangun rumah tinggal beserta rumah ibadah. Penyebaran agama Katolik pun mulai dilakukan hingga ke pelosok Pulau Adonara. Bangsa Portugis juga membangun benteng mengelilingi Desa Wure -sekarang sudah tidak ada lagi- yang dinamakan “ Kota Nawa “.

Berdasarkan penuturan Markus Sakera dan Lambertus Sakera selaku Ketua Lembaga Pemangku Adat Desa Wure kepada saya baru-baru ini, usaha penyebaran agama ini mulai mulai berkembang dengan masuknya para Pastor Dominikan (OP) dari Goa (India) tahun 1556. Kisah ini juga termaktub dalam buku Sejarah Masuknya Agama Katolik di Wure (h.10) yang ditulis oleh Fransiskus Sakera, Dominikus Karwayu, Andreas Sakera dan Markus Sakera.

Pesatnya perkembangan agama Katolik di Wure, mengakibatkan Wure ditetapkan sebagai pusat penyebaran agama Katolik di Pulau Adonara. Sementara untuk Pulau Solor berpusat di Lohayong. Jatuhnya Benteng Lohayong pada 20 April 1613 ke tangan Belanda mengakibatkan bangsa Portugis bersama orang-orang Lohayong lainnya di bawah pimpinan Kapitan Fransisco Fernandez mengungsi ke Larantuka. (Ensiklopedia Populer tentang Gereja, Adolf Heuken SJ: 1983)

“ Pusat agama Katolik pun berpindah ke Larantuka tetapi belum berkembang dengan baik. Kemudian Raja Larantuka Ola Adobala dibaptis sehingga agama Katolik berkembang pesat di tengah masyarakat dengan bantuan raja “ kata Lambert.

Meski demikian, tambah Lambert, agama Katolik di Wure tetap berkembang pesat di bawah kendali Pousan dan dibantu Konfreria. Perayaan atau upacara tradisi tetap dilakukan, dimulai saat Natal hingga Kenaikan Tuhan Yesus (Hari Paskah). Semua ritual yang dilaksanakan selalu diawali dengan mengucapkan kalimat “ Primerum Deo Segunda Alma “ yang artinya, yang pertama-tama untuk Tuhan dan yang kedua untuk leluhur.

Pesatnya perkembangan agama Katolik ini, urai Lambert, menyebabkan Wure ditetapkan menjadi sebuah kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Portugis yang berpusat di Lifao atau Oe Kusi di wilayah Timor Leste sekarang. Lifao saat itu sudah menjadi pusat penyebaran agama Katolik untuk wilayah Pulau Timor dan sekitarnya.

Salib Yesus samping bawah halaman gereja yang diapit meriam peninggalan Portugis. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Salib Yesus samping bawah halaman Gereja Wure yang diapit meriam peninggalan Portugis. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Peperangan

Untuk mendukung tugas penyebaran agama dan mengontrol pelaksanaan segala ritual devosi, Pousan menugaskan Konfreria untuk melaksanakan dan mengawasinya. Konfreria ini dibentuk oleh misionaris Dominikan (OP) sekitar tahun 1564. Selain itu, Pousan juga menjabat sebagai Presidenti Konfreria.

“Selain berkembang pesat di bidang agama, Wure juga memiliki angkatan perang yang kuat yang dilengkapi dengan senjata yang memadai sehingga sangat disegani musuh,”sebut Lambert.

Dalam buku Sejarah Masuknya Agama Katolik di Wure (h. 29) disebutkan, pada saat Wure dipimpin Pousan Gonsalu C Sazero, timbullah peperangan antara Kerajaan Larantuka dan Kerajaan Wure yang dikenal dengan nama Perang Solo-Jawa. Angkatan perang Kerajaan Larantuka disebut angkatan perang Solo sementara angkatan perang Kerajaaan Wure disebut angkatan perang Jawa-Sina Malaka.

Angkatan perang Solo, terdiri dari orang Solor-Lohayong di bawah pimpinan Kapitan Fransisco Fernandez. Dalam perang tersebut, seorang panglima pasukan Solo ditembak mati di Tanjung Batu dekat Desa Bliko oleh pimpinan angkatan perang Wure yang berjaga di Barat bernama Anji Gafu -nama samaran seorang pemberani-.

“Pasukan Wure bergembira merayakan kemenangan tersebut. Tempat Tanjung Batu tersebut diganti namanya menjadi Tanjung Gonzalu sesuai nama Pousan yang memerintah saat itu,” ceritera Lambert.

Para serdadu yang meninggal dari kedua belah pihak lantas dimakamkan di daerah yang diberi nama Kepo Rea. Kepo berarti mati dan Rea berarti banyak.Tempat tersebut tetap ada hingga kini dan penduduk Wure sudah setuju bila nantinya di tempat tersebut dibangun tugu sebagai peringatan tragedi. Perang pun berakhir dengan perdamaian.

Dihidupkan Kembali

Hingga saat ini Wure tetap dikenal sebagai salah satu wilayah yang masih tetap eksis menjalankan ritual warisan Portugis. Meski diterpa berbagai budaya modern, kekompakan masyarakatnya masih tetap terjaga dan tetap bangga dengan budaya devosi peninggalan Portugis ini.

Memang ada beberapa warisan budaya dan ritual yang sempat hilang dan akan coba dihidupkan kembali. Dikemukakan Lambert, istilah Perpetu yang merupakan pemegang kunci kapela sejak hilang beberapa waktu lamanya dan semenjak dirinya menjadi ketua Konfreria, istilah ini dihidupkan kembali.

Selain itu, beber Lambert, sekarang sedang dipikirkan melakukan ritual Kure yang telah lama hilang. Ritual Kure dilaksanakan saat Sabtu Santo pagi dimana Mama Muji dan Konfreria berjalan keliling Armida untuk mengenang Bunda Maria waktu mengunjungi makam Tuhan Yesus.

Lonceng yang berada di bagian kanan depan Gereja Wure yang merupakan pemberian Yayasan Calooste Gulbenkian, Portugal tahun 2007. (Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Lonceng yang berada di bagian kanan depan Gereja Wure yang merupakan pemberian Yayasan Calooste Gulbenkian, Portugal tahun 2007. (Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Menurut Lambert, baru tiga tahun berselang,ada seorang pastor tamu menyelenggarakan misa. Saat dimulainya ritual mencium salib, dia mengambil salib suci (Cruz Pecado) peninggalan Portugis yang ditahtakan di altar dan diletakan di depan gereja.Pastor tersebut mengatakan, ritual dimulai dari situ. Dia (Lambert) memprotesnya dan mengatakan tidak bisa.Memang, Cruz Pecado dibawa ke depan tapi saat upacara baru dibawa, itu baru benar. Bukannya upacara dibuat dan dimulai di depan gereja.

Lambert pun mengatakan kalau pastor tidak bisa, dirinya akan menyuruh petugas yang mengangkat salibnya sehingga akhirnya pastor tersebut pun mengikutinya. Yang kedua jelasnya, penempatan salib suci Cruz Pecado peninggalan Portugis tersebut harusnya ditempatkan di dekat meja altar. Awalnya pastor tidak bersedia melakukan, dan mengatakan bahwa ini meja kurban.

“Saya katakan saya mengerti tapi harus diletakan sejajar. Bila perlu tambah satu meja di sampingnya.Akhirnya pastor tersebut menyetujuinya dan kebiasaan ini tetap dilaksanakan sampai saat ini,”pungkasnya.(*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Ketika Armada Jogo Worela Mendarat di Kantu Jebe

Next Story »

Ketika Situs Warisan Dunia Mulai Diprivatisasi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *