Suku Raja Ama Kelen Klarifikasi Pernyataan Raja Larantuka

JAKARTA, FBC- Pernyataan Raja Larantuka Don Andre Martinus DVG atau biasa disapa Don Tinus dalam Wawancara Floresbangkit, bertajuk “Klerus Tak Boleh Terlalu Jauh Mencampuri Devosi”, 14 April 2015 yang menyebutkan,  tidak tepat Suku Raja Ama Kelen Bl de Rosari sebelum membuka Kapela Tuan Ana menginginkan untuk membuat seremonial adat di Korke lalu persembahannya saja yang dibawa ke Kapela, mendapat klarifikasi dari Suku  Raja Ama Kelen Blanteran de Rosari.

Sebagaimana yang tertulis dalam penryataan yang dikirim ke Redaksi FBC, Kamis,(23/4/2015) , disebutkan Suku Raja Ama Kelen Bl de Rosari bukan baru sebatas ingin tetapi sudah melakukannya dan hal ini bukan sesuatu hal yang aneh di tanah Lamaholot, termasuk di Larantuka.

“Hal ini bukan sesuatu hal yang aneh di tanah Lamaholot, termasuk di Larantuka. Hal yang biasa terjadi, yakni ritual adat mendahului upacara lainnya. Bahkan Don Tinus sendiri biasa melakukan hal ini. Sebagai contoh menjelang Perayaan Ekaristi Syukur Lima Abad Tuan Ma di Larantuka, beliau bersama Pou Suku Lema melaksanakan ritual adat dengan menyembelih binatang kurban. Sebagai kapela dan devosi tradisi, wajar ritual adat dibuat di halaman Kapela Tuan Ana sebagaimana yang diwariskan leluhur yang perlu kita jaga bersama, termasuk Don Tinus , yakni jangan komersilkan ritual adat,” tulis pernyataan itu.

Kapela Tuan Ana Larantuka

Kapela Tuan Ana Larantuka

Dalam pernyataan itu, diklarifikasikan juga pernyataan Don Tinus yang menyebutkan mengenai pusaka suku Raja Ama Kelen. Dalam wawancara Don Tinus yang dimuat di floresbangkit.com tersebut disebutkan,  pusaka mereka (Suku Raja Ama Kelen-Red)  disimpan di rumah suku mereka dan bukan di Kapela.

Don Tinus dalam wawancara floresbangkit menyebutkan, “Rumah suku itu sekarang sudah dijual oleh anak besar mereka dan saya suruh buat bangunan tembok disamping Istana Raja dan Pusaka mereka disimpan disana serta kuncinya dipegang oleh suku mereka. Mereka keliru sebab berdasarkan statute 1947, kedua Kapela itu dinyatakan menjadi milik umat.Pembuktian peti itu milik mereka, itu tidak ada.Pertanyaanya kenapa hal ini muncul setiap hari bae saja. Sebagai abdi setiap saat harus siap mengabdi”.

Terhadap pernyataan itu, Suku Raja Ama Kelen menjelaskan bahwa benda-benda pusaka milik suku Raja Ama Kelen kini tersimpan di kapela Tuan Ana –Larantuka.

“Dapat kami jelaskan, bahwa kami mewarisi cerita leluhur yang dituturkan turun temurun, dan kami meyakini kebenaran cerita itu. Ketika leluhur kami datang dari Keroko Pukan, mereka membawa peti keramat dan sejumlah pusaka yang disebut “OA PRESEJA”. Barang-barang itu disimpan dirumah adat / korke Suku Raja Ama Kelen / Bl de Rosari. Datang Paderi Dominikan dan setelah melihat Peti Keramat itu ia mensakralkannya dan disebut Peti Suci. Kemudian Kapela Tuan Ana dibangun di atas tanah tempat Korke itu, Peti suci disemayamkan dalam Kapela dan Oa Perseja ditempatkan di belakang Kapela,” tegas Suku  Raja Ama Kelen.

Lebih lanjut dikatakan, melalui Senya atau mimpi Bapak Emanuel Nua Blantran de Rosari mendapat petunjuk untuk memindahkan OA PERSEJA dari belakang Kapela Tuan Ana ke Rumah Suku Raja Ama Kelen Bl de Rosari yang berlokasi di samping timur Istana Raja Larantuka.

“Rumah itu berdinding seng beratap rumput ilalang. Pada tahun 1974 terjadilah prosesi pemindahan OA PERSEJA. Peti Suci tetap di Kapela Tuan Ana hingga saat ini. Karena rumah itu sudah tidak layak huni maka keluarga Bapak Fransiskus Kone Bl de Rosari pindah ke Lokea samping Timur kantor kelurahan Lokea sekarang ini. Sebelum meninggalkan rumah itu dibangun sebuah bangunan tembok untuk menyimpan OA PERSEJA. Tidak benar hal itu atas suruhan Don Andre Martinus DVG, dapat dipertanyakan ditahun itu beliau ada dimana, berusia berapa tahun, dan apakan sudah menjalankan fungsi adat dalam masyarakat?”tegas suku Raja Ama Kelen dalam pernyataan itu.

“Kami juga sudah membaca Statute Cofreria Reinha Rosari Larantuka tanggal 25 Juni 1947, khususnya Art.6 : “ Miliknja : jaitu dua kapela di negeri Larantuka, harta pusaka dalam Gereja Renja Rosari, perkakas dan uang yang dikumpulkan dari contributte,derma dsb”.

Dikatakan Suku Raja Ama Kelen, Art.6 ini tidak secara eksplisit menyatakan, bahwa milik confreria termasuk barang-barang yang ada di dalam kapela.

“Namun itu tidak menjadi persoalan Suku Raja Ama Kelen Blantran de Rosari. Yang menjadi penting bagi kami bahwa ada catatan sejarah bahwa Kapela Tuan Ana itu dibangun di atas tanah milik Suku Raja Ama Kelen dan Peti Suci itu adalah warisan leluhur Suku ini,” tulis Suku Raja Ama Kelen.

Dijelaskan pula, sebagai Kapela Tradisi,  Kapela Tuan Ma dan Kapela Tuan Ana ramai dikunjungi ketika ritual-ritual tradisi itu dibuat, utamanya pada masa pra paskah, khususnya pada saat Tri Hari Suci. Kapela Tradisi tidak sama dengan Gereja yang selalu terbuka pintunya setiap hari, walaupun tidak setiap saat.

“Don Tinus sendiri tentu tidak setiap saat berada di Kapela Tuan Ma, pada Tri Hari Suci pun beliau tentu hadir saat menjalankan fungsi adat atau pada saat ada kegiatan confreria. Jadi tidak bisa beliau mempersoalkan kehadiran orang lain, khususnya Suku Raja Ama Kelen di Kapela Tuan Ana setiap saat. Pada hari bae sewajarnya fungsionaris adat hadir dan berperan di Kapela Tuan Ma dan Kapela Tuan Ana,” tulis Suku Raja Ama Kelen.

Surat pernyataan  yang ditandatangi turunan Raja Ama Kelen, Yohanes Djuan Bl. De Rosari juga mengklarifikasi pernyataan Don Tinus terkait gelar raja Ama Kelen.

Dalam wawancara Floresbangkit, Don Tinus mengatakan,  “ Kenapa kamu diberi gelar Raja Ama Kelen. Yang memberi gelar Raja Ama Kelen itu Raja Ama Koten”.

Dijelaskan oleh Suku Raja Ama Kelen dalam pernyataan ini bahwa sejarah Suku Raja Ama Kelen itu sangat jelas, walaupun berupa tutur lisan yang diwariskan turun–temuru .

“Leluhur kami merasa penting mewariskan cerita agar anak turunannya menjadi orang yang tahu dan sadar diri. Yang jelas kedudukan dan fungsi seseorang atau suatu suku dalam masyarakat bukan diberi begitu saja sebagai hadiah. Ada jasa sejarah yang menempatkan suatu suku dalam kedudukan dan fungsi tertentu,”tegas Turunan Suku Ama Kelen.

Dijelaskan, ketika Raja Adobala II membutuhkan bantuan untuk mengalahkan musuh, leluhur Suku Ama Kelen yakni  Suban Ama Kaki Pago Laga Doni bersama pasukannya berhasil menghalau.  Atas jasanya itu dibuat sumpah adat di Nuba Nara raja Ama Koten, yang mengukuhkan ada dua Raja / Penguasa Kerajaan Ile jadi. Juga bersama suku Hurint dan suku Maran. Suku Raja Ama Koten dan Suku Ama Kelen secara bersama-sama melaksanakan ritual adat.

Suku Raja Ama Kelen berpendapat, Don Tinus tidak memahami sejarah dan  mengharapkan agar Don Tinus lebih rendah hati. “Kami malah berterimakasih terhadap penyataan-pernyataan beliau, karena dengan itu semua pihak dapat mendudukkan persoalan secara proporsional,”tulis Suku Raja Ama Kelen. (Ben)

Wisata Sepeda Flores 2015 Digelar Agustus Mendatang

Next Story »

Kali Nangagete Meluap, Tanaman dan Ternak Warga Hanyut Terbawa

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *