Semana Santa Tinggal Menghitung Hari

Penulis : Melky Koli Baran

LARANTUKA, FBC-  Tinggal menghitung hari, umat Katolik di Keuskupan Larantuka merayakan Pekan Semana Santa. Hingga hari Selasa 31 Maret 2015, pembenahan demi pembenahan terus dilakukan. Sejumlah tenda Posko di sekitar lokasi prosesi Jumad Agung sudah dibangun. Di depan rumah Jabatan Bupati Flores Timur bersebelahan dengan pelabuhan laut Larantuka, sebuah tenda ukuran besar didirikan sejak hari sabtu 28 Maret. Demikian pula dengan jalan-jalan dalam kota yang akan dilewati para peziarah mulai dari arah Bandara di Timur kota Larantuka maupun arah pelabuhan feri di kelurahan Waibalun.

Kompleks gereja Katedral Larantuka juga mengalami sejumlah perubahan. Halaman ditata lebih apik. Sebuah tenda besar telah didirikan di halaman gereja itu yang dilengkapi dengan ratusan kursi cadangan. Di situ juga telah berdiri tenda P3K dari Dinas Kesehatan.

Pos pengamanan di pelabuhan Laratuka, bukan Tobilota sesuai nama yang tertera di spanduk. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Pos pengamanan di pelabuhan Laratuka, bukan Tobilota sesuai nama yang tertera di spanduk. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Hal yang sama juga berlangsung di taman pemakaman yang tidak jauh dari gereja Katedral sebagai pusat perayaan Semana Santa. Wajah pemakaman Katolik ini semakin apik tertata. Rumput-rumput liar dipangkas, serta aneka sampah disingkirkan. Bahkan di sejumlah titik di jalan dalam kota ini, asap api ditemukan mengepul menghanguskan tumpukan sampah. Demikian pula dengan sisa-sisa lilin yang menempel di dinding maupun lantai kubur dibersihkan.

Di level panitiapun berbagai persiapan tekhnis telah dilakukan. Misalnya untuk prosesi laut dari pantai Kota ke Larantuka pada Jumad Agung. Hal ini mendapat perhartian serius pada tahun ini lantaran setahun yang lalu (2014) telah terjadi tragedi laut yang menempatkan Jumad Agung saat itu semakin kelabu.

Dari pengalaman inilah, pada Jumad Agung tahun ini, semua kapal yang rencananya ikut prosesi laut wajib didaftar. Kepala kantor unit penyelenggara pelabuhan Kelas III Larantuka, Pariman mengatakan, Dinas Perhubungan Kabupaten Flores Timur mewajibkan semua kapal yang akan mengikuti prosesi laut untuk mendaftarkan diri di diberi bendera warnah kuning. Hal ini dilakukan agar mudah dikontrol.

Sejumlah warga kota Reinha Larantuka mengharapkan, yang terpenting adalah menjaga kesakralan dalam prosesi laut tersebut untuk mendukung para peziarah yang rela datang dari tempatnya masing-masing untuk berziarah di tahun ini.

Dari paroki St. Ignasius Waibalun yang setahun silam kehilangan belasan umatnya itu merefleksikan pengalaman pada tahun-tahun yang lalu tentang semakin mengikisnya kesakralan prosesi laut menghantar Tuan Menino ke Larantuka. Kesan umum yang sempat ditangkap, dalam prosesi laut itu semakin dominan kebisingan di laut ketimbang suasana kesakralan.

Walau demikian, masih ditemukan suasana sakral di dalam arak-arakan kecil sejumlah sampan berwarnah hitam yang mengiringi sampan utama pembawa Tuan Menino. Rombongan ini menampilkan suasana dan pemandangan unik bagi para peziarah ketimbang arak-arakan besar kapal-kapal yang menciptakan kegaduhan di laut.

Sepanjang pantai dari Kota Sau hingga pantai Pohon Sirih Larantuka, kawanan sampan beratribut hitam kedukaan itu tenang syahdu mendayung sampan menyusuri pantai mulai dari paroki San Juan Lebao hingga memasuki pantai depan istana Raja Larantuka. Sampan-sampan itu hanyut perlahan-lahan mengikuti dorongan arus didukung para pendayung yang mendayung santun dan tenang di jalan prosesi di atas air lait itu.

Hal inilah yang kemudian melahirkan refleksi atas tragedi tenggelamnya sebuah kapan dalam prosesi tahun 2014 yang menenggelamkan belasan umat. Ada refleksi yang mengatakan bahwa, tragedi itu sebagai teguran untuk kembali kepada kesakralan dalam prosesi laut itu.

Yohanes Koten, salah seorang umat paroki Waibalun justru melihat hal ini untuk kembali pada kekuatan kesakralan arak-arakan sampan hitam yang mengawal sampan utama pembawa Tuan Menino. Menurutnya, jika Dinas Pariwisata ingin mempromosikan prosesi laut ini sebagai sebuah kekuatan wisata, maka keunikannya bukan terletak pada semakin banyaknya rombongan kapal bermesin yang mengisi dan memenuhi selat Gonzalu. Justru kekuatan yang mesti dipromosikan adalah arak-arakan sampan yang digerakkan dengan pendayung dan bukan mesin yang menyumbang kebisingan dan menghalau kesakralan sebuah ziarah religius.

Karena itu, ia berpendapat, sebaiknya Dinas Pariwisata membuat pengadaan sampan hingga ratusan buah untuk dijadikan alat trasportasi dalam prosesi laut itu untuk menggantikan kapal-kapal bermesin. Hal ini akan memberi dua nilai tambah, demikian kata Yohanes.

Pertama, Pemandangan wisata akan lebih memesona oleh lautan sampan yang berarak beriringan sepanjang pantai dengan busana hitam khas Jumad kedukaan Agung. Kedua, hal ini akan lebih menjamin kesakralan dan kekhusukan berlangsungnya prosesi laut Tuan Menino.

Namun demikian katanya, apapun pilihannya, pemerintah mesti berkoordinasi dengan pemangku kepentingan di dalam suku-suku semana dan otoritas Gereja Katolik di Paroki Katedral Larantuka.

Refleksi ini bukan cuma suasana prosesi laut di Jumad Agung siang itu. Kesakralan yang telah mentradisi dalam Gereja Katolik sejak hari Rabu Treva (rabu dalam pecan suci), semua aktivitas penduduk dihentikan sementara. Karena itu mulai hari Rabu sampai hari Mumad dalam pekan suci itu, nuansa tenang sangat dominan. Berbagai bunyian dan aktivitas rumah tangga yang menyebabkan kegaduhan ditahan untuk dilakukan. Suasana tenang, duka dankabung mewarnai hari-hari ini.

Tradisi ini semakin pudar dari tahun ke tahun. Justru Jumad Agung semakin jauh dari tradisi itu. Bahkan di sepanjang jalan yang akan dilewati, mulai muncul kebiasaan untuk berjualan di sana sehingga kesan puasa dan pantang di hari berkabung itu hilang.

Demikian halnya menyaksikan prosesi laut. Di sana, nyaris terkesan sedang berlangsung atraksi menguji kecepatan lari di laut sehingga menghalau suasana kesyahduan. Menurut sejumlah umat yang dimintai pendapatnya, prosesi laut harus dikembalikan ke procedur awal yang berlangsung tenang.

Itulah yang diharapkan dan panitia berupaya untuk menciptakan suasana ziarah bagi para peziarah yang akan ke Larantuka pada pekan suci tahun ini

 

Semana Santa, Rabu Trewa Tandai Hari-hari Tenang di Pekan Suci

Next Story »

Syahbandar Larantuka Perketat Pemeriksaan Kapal Motor yang Ikut Prosesi Laut

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *