Radja Bataona, Sang Pelukis Malam

Sehari-hari pria asal perkampungan nelayan di Lamalera ini bekerja sebagai tukang bangunan. Saat malam menjelang, mulailah dia menggoreskan cat minyak di atas kanvas, dan tersualah ragam lukisan buah karyanya. Seperti apa?

SEPINTAS pria 40 tahun yang tinggal di lingkungan Eropaun, Kelurahan Lewoleba ini itu tampak biasa saja. Penampilannya sederhana, namun siapa sangka kalau lelaki bertubuh mungil yang satu ini  menyimpan bakat seni.

Memilih hidup sebagai seorang pelukis, Yoseph Radja Bataona, demikian seniman kampung ini dikenal, tak muluk-muluk bermimpi, dia hanya ingin agar karya seninya tidak seksedar dilihat sisi indahnya, namun pesan moral yang disampaikan melalui guratan kuas itu bisa ditangkap dan dijalankan dalam keseharian para penikmat seni.

Impian pelukis asal kampung nelayan Lamalera itu dia sampaikan, baru-baru ini, ketika saya bertandang ke kediamannya. Setelah sejenak berbasa-basi, Tote demikian Yosep Radja akbrab disapa, mengajak saya melongok ruangan tempat dia berkarya. Ruang berukuran 3 meter x 3 meter ini jauh dari kesan studio melukis apalagi galeri seni. Sempit dan dipenuhi perkakas rumah tangga lain.

Yoseph Radja Bataona, serius mengerjakan lukisan. (Foto: FBC/Yogi Making)

Yoseph Radja Bataona, serius mengerjakan lukisan. (Foto: FBC/Yogi Making)

Tetapi jangan salah. Kala mata saya tertuju pada sederet karya yang dia pajang di dalam ruang nan sempit itu, membuat saya terkesima. Selain melukis, Tote ternyata bisa merajut pentolan korek api menjadi miniatur perahu phinisi. Unik dan menampakan ketekunan, kematangan emosi seorang  perupa. Tote berceritera, bakat seninya itu diturunkan kakeknya yang juga seorang perupa. Dia tertarik melukis sejak duduk di bangku sekolah dasar, dan bakat itu terus dia asah seiring perjalanan hidupnya.

“Saya melukis sejak SD, tetapi saya baru mulai tekun dan menuangkan karya saya di atas kanvas sektitar tahun 2000 saat merantau ke Kalimantan Timur,” katanya.

Ratusan karyanya laku dijual ketika di Kalimantan.  Uang hasil lukisan itu dia rasa cukup memenuhi kehidupannya. Ragam karya hasil guratan kuas di atas kanvas miliknya, tersebar hingga ke beberapa daerah. “Ada yang di Jawa, ada yang beli dan dibawa ke Jakarta, tetapi lebih banyak saya jual di Kalimantan,” kisahnya.

Menariknya, sang maestro kampung itu hanya memanfaatkan waktu senggang untuk menuangkan imajinasinya ke atas kanvas. “Saya kerja jadi buruh pabrik kayu lapis, sehingga melukis hanya saat libur, lebih banyak di malam hari, atau saat saya tidak bekerja,” katanya. Putra kampung  nelayan ikan paus ini mengatakan, dalam melukis dia tak terpaku pada sebuah aliran. Hanya lebih banyak karyanya bercorak naturalis.

Lembata Adalah Lukisan

Kemudahan hidup dan peluang ekonomi yang ditawarkan di Kalimantan saat merantau, tidak membuat pria lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) jurusan mesin itu betah. Hidup ibarat guratan kuas di atas kanvas, bukan soal tempat tetapi soal kesungguhan. Di mana pun seseorang menjalani kehidupan, namun bila tidak di barengi dengan kesungguhan, kesejahteraan terasa sulit untuk diraih.

Kendati tahu bahwa Lembata belum bisa menjadi tempat hidup layak bagi seorang pelukis, namun dengan keyakinan dan berbekal pengalaman yang dia dapat selama di masa perantauan,  pelukis muda berbakat itu akhirnya memilih untuk pulang kampung. Hidup bukan hanya dari melukis, di Lembata sebagai sebuah kabupaten baru kala itu, dia yakin masih ada banyak hal yang bisa dilakukan.

“Kalau soal uang, Kalimantan lebih menjanjikan. Banyak lukisan saya terjual di sana, tentu hasilnya lumayan. Setidaknya, ekonomi saya lebih baik. Tetapi, orang bilang lebih baik hujan batu di kampung sendiri daripada hidup dalam genangan emas di negeri orang. Pepatah tua itulah yang menginspirasi saya untuk pulang kampung. Lebih baik saya susah tetapi dekat dengan orang tua dan keluarga, daripada hidup senang tetapi jauh dari kampung, keluarga, dan orang tua,” ujar seniman otodidak ini.

Awal tahun 2006 akhirnya Tote kembali menginjakan kakinya di Pelabuhan Lewoleba, Kabupaten Lembata. “Saya sadar bahwa, lukisan belum mendapat tempat di hati masyarakat Lembata. Terbukti Pak Emil Diaz dan almarhum Ambros Oleona, dua maestro pelukis di Lembata, belum menjadikan lukisan sebagai sandaran hidup. Tetapi tidak berarti di Lembata tidak bisa melukis, karena Lembata sendiri adalah lukisan. Karena itu sebagai pelukis saya harus berkarya meneruskan bakat yang di wariskan Opa saya, dan saya yakin ada banyak hal di Lembata yang bisa saya tuangkan dalam bentuk sebuah karya seni,” katanya.

Tidak Identik

Berkaca pada hidup Ambros Lelaona dan Emil Diaz, dua perupa senior di Kabupaten Lembata,  membuat banyak orang mengindentikan seniman Lembata sebagai orang yang lemah secara ekonomi. Pendapat itu pula yang membuat banyak perupa asal Lembata memilih banting setir dan menjalani hidup melalui jalur yang berbeda. Jiwa seni mati, tak ada lagi karya yang bisa dihasilkan.

Radja Bataona, pelukis ini pun demikian. Dia tahu, kalau seni terutama seni lukis belum mendapat tempat di mata penikmatnya warga Lembata. Karenanya, dia pun belum menjadikan karya lukisan sebagai  sandaran hidup. Hari-harinya dia isi dengan bekerja sebagai tukang bangunan. Melukis hanya dilakukan kala pekerjaan sebagai tukang bangunan sedang sepi.

Hidup sebagai seniman di Lembata, ibarat liukan kuas di atas kanvas, kadang menghasilkan warna gelap. Namun, di antara warna gelap itu selalu mucul warna terang dan memancarkan harapan. Demikian, sang perupa muda itu memaknai hidup.

Yoseph Radja Bataona dan phinisi hasil kerasinya yang terbuat batang korek api. (Foto: FBC/Yogi Making)

Yoseph Radja Bataona dan phinisi hasil kerasinya yang terbuat batang korek api. (Foto: FBC/Yogi Making)

Kendati tak membantah stigma negatif terhadap pelukis, namun Tote pria sederhana itu selalu berusaha untuk membalikkan sisi hidup sebagai pelukis di mata masyarakat. Hanya dengan melukis dan terus menumpahkan imajinasinya di atas kanvas dia barharap lambat laun pandangan negatif terhadap seorang pelukis hilang.

“Kalau kita masih berkutat dengan cara pandang seperti itu, maka sama saja dengan kita sedang membunuh bakat generasi muda. Terutama bakat seni atau yang punya kemampuan melukis. Melukis itu sesuatu yang menyenangkan, sama seperti seorang penulis buku, sama juga penyanyi. Dengan melukis, kita bisa menghibur orang, sekaligus membangkitkan semangat setiap penikmat seni untuk berkarya. Walau melukis hanya saya lakukan di saat waktu senggang. Tetapi saya masih berkarya, dan saya akan terus berkarya. Karena saya percaya, pandangan negatif terhadap kami itu akan hilang seiring waktu,” katanya.

Menurutnya, pandangan negatif terhadap seorang pekerja seni muncul karena dari sisi kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya membuka ruang bagi orang-orang berbakat seperti dirinya untuk berkarya. Di Lembata orang hanya bisa berkarya dan berusaha sendiri untuk memasarkan karyanya. Belum ada upaya riil pemerintah untuk membuka pasar terutama bagi mereka para penggiat seni.

“Di Larantuka selalu ada pameran lukisan. Saya dengar juga di daerah lain sering buka pameran. Lembata punya potensi yang menjanjikan, potensi seni yang tertanam dalam jiwa setiap generasi muda Lembata ini harus bisa digerakan agar bisa hidup. Kalau ada ruang untuk orang berkarya maka saya percaya, bakat-bakat seni terutama seni melukis itu kembali tumbuh. Para seniman yang sudah beralih profesi bisa kembali menekuni seni,” yakinnya.

Dia mengatakan, jika ruang kepada seorang seniman dibuka oleh pemerintah, dia berniat untuk membuka sebuah galeri seni. Dengan begitu, setiap anak Lembata yang berbakat melukis bisa ikut belajar sekaligus berkreasi di rumah seni miliknya.

“Kendati punya bakat seni, tetapi kalau tidak diasah maka tidak berkembang. Saya dulu hanya bisa melukis dengan pensil, seiring waktu saya berusaha untuk belajar bagaimana menciptakan warna yang pas dengan sebuah objek lukisan. Kemampuan seperti itulah, yang saya maksudkan untuk terus diasah. Itulah kenapa saya punya mimpi untuk memiliki galeri seni, agar semua anak Lembata bisa ikut belajar bersama saya,” pungkas Tote. (*)

 

Penulis: Yogi Making

Editor: EC. Pudjiachirusanto 

Domi dan Kisah Jenazah yang Bangun Lagi

Next Story »

Mimpikan Konga Jadi Desa Wisata

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *