Prosesi Jumad Agung, Antara Ziarah dan Pariwisata

Oleh Melky Koli Baran

Jumad Agung tahun ini akhirnya tiba lagi. Seperti biasa, jauh sebelum hari puncak ziarah ini, berbagai kegiatan dan persiapan telah dilaksanakan. Umat di kota Larantuka yang terkonsentrasi di empat paroki telah melewati masa-masa persiapan iman ini dalam serangkaian katekese orang dewasa (Katorde), ibadat-ibadat di komunitas basis, rekoleksi dan pengakuan dosa di kelompok-kelompok kategorial maupun di lingkungan paroki. Semuanya ini diprogramkan oleh paroki-paroki tentu tidak tanpa agenda. Ada yang hendak dicapai dengan semuanya ini.

Kontributor FBC. Tinggal di Larantuka.

Kontributor FBC. Tinggal di Larantuka.

Setiap tahun, prosesi Jumad Agung di Larantuka semakin menyedot perhatian banyak pihak. Kelompok-kelompok ziarah dan paguyuban iman di berbagai keuskupan dan paroki kabarnya telah menempatkan Prosesi Jumad Agung di Larantuka setiap tahun sebagai salah satu tempat ziarah. Tentu karena itu juga maka menjadi tanggungjawab umat yang memiliki tradisi ini untuk mempersiapkannya secara baik. Dimulai dengan persiapan diri dan bathin melalui kegiatan-kegiatan terprogram di paroki-paroki, seperti katekese, ibadat, rekoleksi dan lain sebagainya.

Selain itu, secara fisik, kota ini dibenah. Betapa tidak, pada Jumad Agung, banyak pengunjung membanjiri kota kecil di leremg gunung Mandiri itu. Kota kecil bernama Larantuka ini diserbu para peziarah. Karena itu, kesan bersih dan tertata perlu dikedepankan. Uuntuk itulah perlu pembenahan, walau kendala terbesar adalah jalur transportasi alternatif di jalan tiga yang belum bisa dibenahi secara lebih layak untuk menampung banjiran kendaraan ketika jalur tengah dan pantai dalam kota itu harus ditutup total sejak hari Kamis Putih. Hal ini yang tetap menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah Flores Timur.

Pusat Ziarah dan Berkat

Kisah sejarah yang dirilis ketika merayakan lima abad Tuan Ma di Larantuka bahwa kehadiran patung Tuan Ma di kota ini sejak masyarakat di wilayah ini belum beragama Katolik. Dari sejarah ini maka telah ratusan tahun devosi perkabungan umat Katolik Larantuka yang dikemas dalam bentuk prosesi keliling kota dengan pusatnya pada sengsara dan jalan salib Tuhan Yesus Kristus diiringi Bunda Berduka Cita itu berlangsung.

Setiap masa dan zaman pasti berbeda dari waktu ke waktu dan masa ke masa. Ketika mendengar kisah dua puluh bahkan lima puluh tahun silam tentang pelaksanaan prosesi ini, tergambar di sana perbedaan yang mengandung di dalamnya kemajuan yang berimplikasi juga pada perubahan. Bentuk fisik kapela Tuan Ma dan Tuan Ana juga terus mengalami pembenahan dan perubahan. Demikian pula dengan para peziarahnya. Semakin banyak peziarah yang berdatangan dari luar Larantuka, bahkan luar Flores Timur dan Nusa Tenggara Timur. Banjiran peziarah saat ini tentu tidak seperti pada masa-masa awal devosi ini dimulai.

Di titik inilah, kita dengan pasti memaklumkan bahwa Lartantuka menjadi pusat ziarah Jumad Agung setiap tahun, yang terus mengalami perubahan. Salah satu perubahan yang mencolok adalah aspek promosi terhadap pelaksanaan devosi ini setiap tahun. Pertanyaannya, mengapa sebuah ziarah keagamaan perlu dipromosikan? Bukankah, tanpa dipromosikan, sebuah moment keimanan dan keagamaan dengan sendirinya akan dikenal sebab “bagi Tuhan tidak ada yang mustahil”? Jawabannya bisa sederhana saja bahwa melalui cara ini Tuhan sedang memaklumkan kepada dunia bahawa di hari Jumad Agung, kota kecil Larantuka menjadi pusat spiritualitas yang memungkinkan siapa saja yang letih lesuh dan berbeban berat akan mendapatkan keringanan dan penghiburan.

Itulah sisi penting yang mesti diperhatikan dari trahun ke tahun walau pelaksanaan prosesi Jumad Agung di Larantuka ini tak terhindarkan akan mengalami perubahan serta adaptasi. Yang perlu diperhatikan oleh umat Katolik di kota Larantuka terlebih panitya penyelenggara prosesi ini adalah, menciptakan suasana yang memungkinkan setiap peziarah menjalankan ziarah, tapa dan tobat sesuai intensi yang telah mendorongnya datang ke Larantuka pada hari Jumad Agung ini. Inilah tanggungjawab terbesar untuk menjadikan Larantuka kota penuh rahmat dan berkat bagi para peziarah. Sebab untuk hal inilah, sesungguhnya Larantuka sejak awal telah “ditakdirkan” sebagai Kota Religius, kota terberkati yang akan terus mengalirkan berkat berlimpah bagi setiap peziarah yang datang ke kota ini. Dari Larantuka, akan lahir kisah-kisah menakjubkan bagai mujizat yang akan terus diceritakan dan diwartakan oleh para peziarah yang mengalaminya. Dan di titik inilah, bukan Larantuka yang berbangga tetapi nama dan kebesaran Tuhan tetaplah dimuliakan.

Sisi Pariwisata

Tak dapat disangkal bahwa salah satu aspek yang turut mendongkrak kota Larantuka ke dunia luas terkait kekayaan religius ziarah Jumad Agung adalah promosi-promosi wisata. Ini tidak salah. Salah satu cara kerja wisata adalah promosi. Dalam dunia promosi, aspek-aspek yang menarik dan memesona, hal-hal yang menjadi tujuan pencaharian sebanyak-banyaknya manusia wajib dikedepankan. Tujuannya cuma satu, yakni menarik sebanyak mungkin pengunjung. Dari sisi bisnis, membludaknya pengunjung akan berefek pada pendapatan yang diraih sektor pariwisata, seperti kuliner, cinderamata, sarana transportasi, perhotelan dan tumbuhnya pusat-pusat wisata baru yang laris terjual.

Karena itulah, maka saya sependapat dengan salah satu pilar dalam tiga pilar program Gerbang Emas pemerintah kabupaten Flores Timur, yakni “Pariwisata dengan menjadikan Semana Santa Jumad Agung sebagai entri point”.

Catatan penting di sini adalah, devosi Jumad Agung di kota Larantuka yang dirayakan dalam bentuk prosesi yang unik dan khas dengan nuansa peninggalan tradisi religius Katolik Portugal itu dibidik pemerintah dan sektor bisnis pariwisata sebagai entri point. Bagi pemerintah kabupaten Flores Timur, perayaan Semana Santa dengan puncaknya di hari Jumaad Agung perlu dipromosikan agar bisa menggerakkan sebanyak mungkin peziarah ke Larantuka. Dengan membanjirnya para peziarah, dari sisi pemerintahan dan pembangunan, masyartakat kota Larantuka akan mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya penginapan dan perhotelan, rumah makan dan kuliner, tumbuhnya pusat-pusat cinderamata, angkunan dan travel.

Semuanya ini tidak mesti diurus oleh Gereja Katolik Keuskupan Larantuka dalam hal ini paroki Katedral Reinha Rosari melalui panitya Semana santa. Gereja Katolik cukup fokus menyiapkan sarana-sarana devosi dan siarah untuk menciptakan suasana yang pantas untuk penyegaran rohani. Sedangkan fasilitas pendukung sebagai konsekuensi membludaknya tamu di hari raya itu menjadi urusan pemerintah dan sektor swasta untuk membinanya.

Ketegasan Batas

Antara ziarah iman dan pariwisata perlu ketegasan batas yang jelas. Di mana sisi wisatanya dan di mana pula sisi ziarahnya. Jangan sampai, pusat-pusat ziarah seperti kapela, patung-patung kudus menurut Hukum Kanon, armada-armida prosesi serta liturgi Semana Santa dikomersilkan sehingga menjadi semata-mata obyek pariwisata.

Garis batas inilah yang jika direfleksikan dengan jalannya perayaan ini dua puluh bahkan lima puluh tahun silam, telah semakin  kabur. Niscaya, jika tidak dilakukan refleksi dan refleksi maka suatu saat akan tiba zaman kekaburan. Zaman di mana prosesi Jumad Agung di kota ini masih tetap dirayakan tetapi lebih menonjol aspek tontonan dan sekedar sebuah atraksi.

Kekuatiran ini mulai terbaca pada tahapan prosesi laut pada Jumad siang menghantar patung Tuan Menino dari kapelanya di Kota Rewido melewati laut menuju Larantuka. Cerita yang masih tersimpan di dalam kehidupan masyarakat terlebih generasi tua bahwa sejak aswal, patung Tuan Menino diarak ke Larantuka melalui laut melewati pesisir pantai mengandalkan dorongan arus dan tenaga manusia. Perjalanan laut itu dilalui dalam suasana khusuk. Sebagai sebuah ziarah, maka perjalanan itu diiringi  doa dan nyanyian. Tahun-tahunn terakhir, prosesi Tuan Menino cenderung bertumbuh menjadi sebuah atraksi. Jika refleksi tentang nilai-nilai spiritual tidak dilakukan maka bukan tidak mungkin, suatu saat nanti tibalah zaman kekaburan nilai prosesi Tuan Menino. Yang ada hanyalah arak-arakan yang mempertontonkan armada-armada kapal dengan muatan ribuan manusia memadati selat gonzalu. Lalu keluarlah pernyataan kebanggaan bahwa prosesi laut menghantar Tuan Menino diikuti ratusan kapal dengan ribuan peziarah. Lebih parah dan semakin kabur jika sampai ada pernyataan bahwa prosesi laut Tuan Menino diikuti ratusan kapal dan ribuan wisatawan.

Almarhum Mgr. Darius Nggawa, SVD sangat menjaga hal ini. Kepada penulis yang saat itu mewakili Ucan dalam sebuah wawancara mengatakan, yang datang ke Larantuka pda Jumad Agung adalah para peziarah, bukan wisatawan. Tidak ada wiatawan karena Jumad Agung bukan obyek wisata dan bukan prosesi wisata. Jumad Agung adalah prosesi doa dan ziarah mengenang sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus. Jika setelah melakukan ziarah, lalu para peziarah itu mengambil waktu khusus untuk mengunjungi obyek-obyek wisata di daerah ini, itu adalah hal ikutan. Karena itu, ia lebih menyarankan agar pemerintah daerah kabupaten Flores Timur konsentrasi membangun dan memperkembangkan obyek-obyek wisata alam maupun budaya di sekitar kota Larantuka dan dipromosikan sehingga para peziarah mengetahuinya dan akhirnya memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat itu setelah berakhirnya ziarah Jumad Agung dan paskah. Juga berkonsentrasi membangun hotel dan penginapan serta restoran dan pusat  oleh-oleh sebab hal-hal itu dibutuhkan para peziarah tanpa merusakan makna terdalam Jumad Agung sebagai hari Pantang dan Puasa.

Di sinilah, perlu ketegasan batas pada Jumad Agung antara ziarah prosesi sengsara Tuhan Yesus dan pariwisata. Patung Tuan Ma dan Peti serta ornament perkabungan dari kapela Tuan Ana bukanlah obyek pariwisata tetapi kekayaan religius iman Katolik tua di Larantuka.***

 

Semana (Turistica) Santa

Next Story »

Mamon di Mata Tuhan: Catatan Kecil Jelang Semana Santa

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *