Ritual Panen Jagung

Peti Kadea: Sebuah Penghormatan Pada Leluhur

Floresbangkit.comMarkus1511040013_makan jagung muda dicampur kopi_13

Sudah ratusan tahun leluhur Orang Manggarai mengajarkan untuk mensyukuri alam. Setiap akan bercocok tanam hingga masa panen tiba, ritual penghormatan mesti ditunjukkan. Bila kita melanggar, leluhur bakal murka.

Jalinan hubungan warga Manggarai dengan tanaman jagung amat panjang. Jauh lebih panjang ketimbang pergaulan mereka dengan beras yang secara luas baru dikenal beberapa dekade terakhir abad 20 lalu. Tak heran bila jagung amat kuat kuat mewarnai tradisi pangan di sana. Beragam ritual terkait tanaman jagung pun ada di seluruh pelosok Manggarai Raya mulai saat bercocok tanam hingga panen tiba.

Demikian pula warga Kampung adat Saghe, Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Memasuki masa panen jagung, yang tiba pada bulan Maret dan April mereka selalu bersiap merayakannya.

Kali ini ritual berlangsung pada Jumat (10/4/2015) di ladang-ladang di seputar Kampung sebelum memanen tanamannya. Beragam keperluan ritual disiapkan warga semenjak pagi hari mengikuti perintah tetua adat untuk berkumpul di Mbaru Meze, rumah adat Kampung Saghe.

Hari itu mereka bersama-sama menyumbangkan kayu api, beras, air minum untuk masakan,ayam kampung dan tuak. Semua demi lancarnya ritual Peti Kadea atau makan Jagung muda di rumah adat tersebut. Para pemilik kebun mesti memetik jagung muda dan mempersembahkannya untuk disantap bersama.

Dalam kegembiraan menjelang panen, mereka tak lupa terlebih dahulu menggelar Pau Manuk atau ujud doa kepada Sang Pencipta dan para leluhur atas pemeliharaan tanaman jagung sampai pada musim panen.

Ayam adalah simbol komunikasi dengan Sang Pencipta dan Leluhur

Ayam adalah simbol komunikasi dengan Sang Pencipta dan Leluhur

Saat memimpin ritual itu, sang tetua memegang seekor ayam. Hewan itu adalah simbol perantaraan kepada Sang Pencipta dan leluhur atau Embu dan Embo. Lalu ia pun mengumandangkan doanya dalam Bahasa Suku Kolor,

Sot Wai wa pedu meje, lode jemu koko dou, lakas tiba, tara Ndong manuk, wone mai bengu eghi, ngo tombo agu meu, embu agu embo, nusiagu no’e ata pa’an abe le gu watu abe lau, weta ngalit embu, embo…….,…., nggami bengu eghi, ngi ghan kedea nguja ga, neka ga nilu lul ur agu siku, won e weki, neka be’ti etan gae wan koe, nang sija we’an sekan agu uma, neka tam a e mari lejo, neka sai ele piju api, ramba neka saet le wae agu neka selon le daron, ti denge ga ele meu embu agu embo, gau manuk, sama ka in ele jao, sot wai wa pedu meje lode jemu, koko deu, lakas tiba….. Nggoi urat manuk….wale Nggoi. Wegan manga ata kukuk wa pu’un agu po’et a londokn, sepa mbael, loko ren ang…. Raseng gia…Wale… Mala.

Lewat kalimat itu, tetua mengantarkan warga menyampaikan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan alam semesta, juga kepada leluhur, yang telah menjaga lahan dan jagung semenjak penanaman hingga masa panen tiba.

Selain itu, doa tersebut juga merupakan undangan untuk menyantap jagung hasil kemurahan alam. Tak hanya hadiran yang dipersilahkan oleh tetua untuk menikmati buah kerja keras namun juga arwah leluhur dimohon untuk ikut mencicipinya.
Bahasa Suku Kolor itu adalah alat komunikasi warga Desa Mbengan, Desa Ranakolong, Desa Gunung, Desa Komba, sebagai dari Kelurahan Watunggene, dan sebagian juga dari Kelurahan Ronggakoe, Desa Lembur. Bahasa itu tidak dipergunakan masyarakat adat di wilayah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat. Mereka menggunakan Bahasa yang lain dalam ritual-ritual adat.

Taat Leluhur
Kampung adat Saghe adalah satu perkampungan di Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Pemukiman lain yang berbatasan dengannya adalah Desa Mbengan dan Desa Gunung. Semenjak dahulu warga hidup dengan bercocok tanam dan taat pada ajaran leluhur untuk selalu mencintai dan menghormati alam yang telah memberi mereka hidup. Tak cuma bidang pertanian namun juga bidang penghidupan lainnya.

Mereka sadar bahwa tanah dan kehidupan orang Manggarai selalu berhubungan secara timbal balik. Tanpa tanah untuk menanam berbagai jenis tanaman holtikultura, orang Manggarai tidak hidup. Sebanyak 90 persen warga Manggarai Timur pada khususnya dan Manggarai Raya pada umumnya adalah bercocok tanam. Segala kebutuhan hidup orang Manggarai Timur yang tersebar di kampung-kampung selalu berkaitan alam.

Ada beragam cara warga Manggarai Timur menghormati leluhur dan alam. Ritual Peti Kadea yang rutin dilakukan Suku Saghe hanya salah satu contohnya. Warga Desa Ranakolong selama ini bercocoktaman dengan berladang, mereka menanam padi dan jagung selalu berbarengan. Tentu masa panen jagung tiba lebih dahulu.

Dalam sistem kepercayaan mereka Peti Kadea adalah syarat yang wajib dipatuhi para petani. Bila mereka tak melaksanakannya leluhur bakal memberi peringatan berupa kegagalan panen, yakni tanaman hanya berbuah sedikit atau malah mengalami kerusakan. Sebelum ritual warga dilarang menyentuh jagung apalagi memetiknya.

Tetua yang mendapat kepercayaan memimpin ritual mestilah yang punya kelebihan. Dia mesti mampu berbicara dengan arwah para leluhur. Tentu tak semua mampu apalagi mendatangkan arwah-arwah itu untuk ikut bersama menikmati sajian jagung. Sebelumnya, demikian mereka yakin, arwah leluhur telah melindungi ladang mereka.

Salah seorang warga Suku Saghe, Fransiskus Ndolu kepada FBC, Sabtu (11/4/2015) memastikan bahwa mereka akan selalu taat pada ajaran leluhur yang telah berusia ratusan tahun agar alam selalu terjaga.

“Taat hanya ritual yang mesti berlangsung di Mbaru Meze saja, bahkan, ritual-ritual kecil juga dilaksanakan di rumah keluarga, “tutur dia

Sebagaimana para peladang jagung lain di Kabupaten Manggarai Timur, Fransiskus merasa bersyukur atas panenan tahun ini yang cukup melimpah. Tak cuma warga dan pemilik ladang yang gembira, pemerintah pun bersukaria lantaran program pertanian untuk menjadikan NTT sebagai pusat produksi jagung berjalan baik.

“Ritual ini juga sekaligus bersyukur kepada Sang Pencipta, alam dan leluhur atas campur tangan mereka dalam menjaga kebun dari gangguan hama dan binatang liar,” ujar dia menutup pembicaraan.

Editor: Donny Iswandono

Penulis: Markus Makur

Nggore Ngote Sara Jawa di Kampung Tua

Next Story »

Menghidupkan Kembali Ritual yang Hilang

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *