Pesan Pendek untuk Calon Bupati Manggarai dan Manggarai Barat

Oleh: Kanis Lina Bana

Sebentar lagi, dua kabupaten di Manggarai Raya yaitu Manggarai dan Manggarai Barat akan melaksanakan pesta demokrasi pemilihan langsung kepala daerah, Desember 2015 mendatang. Momentum bersejarah tersebut bakal menentukan nasib rakyat di dua kabupaten ini. Mau dibawah ke manakah perahu Manggarai dan Manggarai Barat? Apakah Nuca Lale bakal menjadi rumah hunian yang layak? Atau sebaliknya, menjadi perahu retak karena minimnya sarana dan fasilitas pelayanan? Entahlah…. Semuanya tergantung politik anggaran dan visi misi pembangunan bupati terpilih.

 Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Menyambut hajatan demokrasi lima tahunan tersebut, para kandidat sudah kasak-kusuk lobi partai. Tawar-menawar harga kursi seperti berbalas pantun. Gebyar hajatan ini semakin hangat dan mengerucut. Meski belum ada kepastian partai, pamer wajah cabup-cawabup ke kampung-kampung semakin menggeliat. Mereka datang sambil menenteng sejumput harap dan segapok impian. Mengusung niat suci dalam nada dasar yang sama; terpanggil membaktikan diri untuk rakyat. Membangun tanah kuni agu kalo.

Manggarai Raya dengan karakter politik yang masih kental dengan unsur-unsur non politis, tentunya membutuhkan strategi yang tidak enteng agar bisa terpilih. Sebab nama besar figur, mesin partai yang canggih, duit banyak, seabrek pengalaman dan sejumlah track record lainnya bukanlah jaminan untuk menang. Ya… namanya juga politik ‘alergi’ hitam putih, tetapi selalu kental dengan abu-abu. Itu sebabnya strategi dan perencanaan yang matang serta eksekusi lapangan mempengaruhi rakyat hanyalah bagian kecil memuluskan langkah figur menuju kursi panas itu.Saya yakin pemilih punya kriteria. Mereka sudah kantongi figur yang tepat yang bakal dipilih menjadi Bupati Manggarai dan Manggarai Barat.

Pertanyaan yang menggedor nubari kita adalah, ” apakah para kandidat yang maju dalam arena pilkada lantaran sudah mengantongi visi misi pembangunan daerah secara jitu jika terpilih kelak”? Apakah tilikan prioritas mengacu pada keunggulan potensinya? Pertanyaan ini penting karena mayoritas kandidat cendrung memformulasikan visi misi pembangunan secara normatif saja. Atau lebih gemar mengubar janji manis. Rancangan hanya mengupas bagian permukaan saja. Tidak menukik pada esensi persoalan kebutuhan kontekstual rakyatnya. Kalau pun ada yang menjangkau harapan publik, beda-beda tipis dengan yang sudah-sudah. Janji-janji saat tatap muka atau kampanye hanya mimpi di atas mimpi. Kagiatan berjalan seadanya. Sibuk urus keluarga dan tim suksesnya. Lebih sibuk rampas lahan basah dan kering antarbupati dan wakil bupati.

Pada kolom bermartbat ini izinkanlah saya mencuatlecutkan beberapa pokok pikiran sebagai masukan. Semacam pesan pendek bagi calon Bupati Manggarai dan Manggarai Barat apabila terpilih kelak. Pesan pendek ini lahir dari kegelisahan seorang musafir kampung yang mendambakan pemimpin Manggarai dan Manggarai Barat yang memiliki spirituaitas pengabdian yang total. Pemimpin yang beraklak. Pemimpin penuh dedikasi dan kebajikan. Pemimpin yang menyadari bahwa memimpin adalah sebuah ibadah sejati.

Menakar Potensi Daerah

Rahim Manggarai Raya mengandung potensi yang luar biasa. Kandungan sumber daya alamnya menyebar merata. Potensi pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, budaya adalah sebagian bejana indah yang amat menonjol. Namun potensi tersebut belum digarap secara maksimal dan profesional. Strategi garapannya masih menerabas. Tidak terukur dalam skala priotas. Banyak potensi yang masih terkubur. Seperti mutiara dibalut lumpur.

Zaman Gaspar Parang Ehok dulu Manggarai jadi lumbung beras. Suplai beras ke mana-mana. Sekarang malah sebaliknya, ketergantungan pada beras miskin semakin menjadi-jadi.
Produktivitas pertanian menurun drastis. Mekanisme pengelolaan yang disponsori pemerintah sekenanya saja. Ibarat memancing, tapi hanya beri kail dan umpannya saja tanpa mengajarkan bagaimana memasang kail, mengatur umpan pada kail dan bagaimana pula membuang umpan agar bisa mendapat tangkapan yang banyak.

Kekayaan potensi laut sangat menjanjikan. Rmput laut, aneka jenis ikan bersemai di karang-karang indah laut kita. Ironisnya semua potensi itu belum diberdayakan secara optimal. Sektor laut belum jadi andalan. Hanya sekadar mengelus manja. Kita pun hanya mengkonsumsi ikan yang didatangkan dari luar daerah. Ikan yang selalu diawetkan dengan es batu. Kekayaan laut kita pun jadi lahan empuk bagi nelayan luar daerah yang gemar curi ikan kita.

Potensi pariwisata dan budaya masih suam-suam kuku. Dibanggakan tetapi enggan kelola secara bermartabat. Misalnya, Liang Mbua tempat ditemukan manusia pendek Homo Floresiensis belum ditata secara arif dan bijaksana. Demikian kampung peradaban Wae Rebho yang oleh Unesco masuk keajaiban dunia masih sebatas didengung-dengungkan saja. Dukungan infrastruktur sekunder masih jauh dari harapan. Upaya promosi masih minim. Potensi itu pun hanya dibanggakan tanpa mendulang rupiah untuk mendongkrak pendapatan asli daerah.

Lebih miris lagi, lokasi pariwsisata di Manggarai Barat sudah marak dikuasai konglomerat. Masyarakat setempat jadi penonton. Manggarai Barat hanya bangga punya kadal raksasa, tetapi operasionalnya masih domain oknum tertentu. Seperti sapi punya susu kerbau punya nama. Proses marginalisasi sedang menderah hangat. Pendatang merajai wilayah-wilayah strategis, sementara masyarakat setempat tergusur pergi ke pinggir. Tragis.

Kendala-Kendala Strategis

Persoalan strategis yang sering membelit masyarakat publik Manggarai Raya adalah mampetnya faslitas umum. Sarana transportasi yang masih minim. Jalan aspal masih itu-itu saja. Kalau pun ada pekerjaan baru kwalitasnya sangat rendah. Akibatnya aspal jalan yang baru dikerjakan hanya bertahan sebentar. Selebihnya rusak parah. Badan jalan jadi berlumpur. Kelikir dan aspal terburai ke luar badan jalan.

Angka kematian ibu dan bayi masih tinggi. Anak putus sekolah setiap tahun terus bertambah. Fasilitas pendidikan dan kesehatan masih dibawah standart dengan jumlah tenaga operasional masih terbatas pula.

Harga komoditi petani tak menentu seperti bandul. Maju mundur dan kembang kempis. Sistem ijon jadi tradisi meski dengan konsekuensi yang besar. Masalah pertambangan terus mencuat. Gereja dan pemerintah jadi tegang terkait eksplorasi tambang di dua wilayah ini.

Penduduk yang hijrah ke luar negeri menjadi tenaga kerja asing akibat tuntutan perut dan disiplin periuk terus melonjak. Kasus HIV/Aids terus bertambah. Air minum bersih semakin langkah. Sumber semakin jauh dan terjangkau. PLN seperti hidup enggan mati tak mau. Mati hidup, mati hidup jadi tradisi baru PLN

Di bidang pemerintahan, penempatan jabatan lebih mengutamakan faktor suka dan tidak suka. Memrioritaskan PNS yang terlibat aktif sebagai tim sukses tanpa memperhatikan aspek the right man on the right place. Pelayanan publik pemerintah yang berbelit-belit jadi lagu lama. Pelayanan efektif dan ekonomis hanya indah rupa dari langit.

Rancang Bangun

Menjembatani kendala dan potensi yang saya beberkan di atas, maka langkah yang harus ditempuh oleh bupati terpilih Manggarai dan Manggarai Barat periode 2019-2024 mendatang adalah;

Pertama, bidang pertanian dan perkebunan. Langkah yang harus dilakukan adalah identifikasi secara komprehensif potensial hidrogen (PH) dan tekstur tanah yang berpontesi mengembangkan jenis komoditi unggulan. Mekanisme pengembangannya terfokus mulai dari kegiatan sampai pemasarannya. Hilangkan kegiatan berdasarkan mengigo dan mimpi malam. Pengelolaan dan pemberdayaan potensi harus dilakukan secara terencana, terprogram dan terukur. Guna mendukung kegiatan ini sebaiknya pemerintah memanfaatkan program sarjana masuk kampung. Maksudnya, setiap anak yang berpendidikan sarjana sesuai spesifikasi yang ada di wilayah kegiatan berlangsung diberdayakan sebagai tenaga teknis, penyuluh dan pengawas. Mereka tinggal, ada bersama dan terlibat aktif dalam seluruh proses pendampingannya.

Kedua, pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan perempuan. Pengadaan sarana dan fasilitas pendidikan dan kesehatan harus berdasarkan analisis yang tajam dan realitas kebutuhan. Bukan sekadar tukar guling kepentingan politik antar DPRD dengan bupati atau bupati dengan tim suksesnya. Banyak soal muncul karena fasilitas yang diadakan tanpa penghitungan kebutuhan secara jitu, baik dan benar. Akibatnya sarana ada, tenaga tidak tersedia. Sarana yang ada jadi rumah hantu karena mubasir.

Kegiatan pemberdayaan perempuan hendaknya fokus hidupkan kembali kerajinan tenun kain yang saat ini mulai hilang dari aktivitas kaum ibu. Hanya saja perlu latihan dan dukungan sarana memadai. Bukan program omong-omong sebagaimana galibnya yang sering dilakukan ibu-ibu PKK. Tradisi-tradisi yang mengandung kabajikan hidup diberi roh sesuai hakekat peradaban yang mewaris.

Tiga, pariwisata dan budaya. Penataan lokasi pariwisata tidak sebatas destinasi belaka. Perlu pemetaan yang mendalam dan memahami karakter potensinya. Galahkan promosi terus menerus. Perkuatkan basis masyarakat akar rumput dan warga lingkar lokasi wisata. Mereka harus mendapat dampak langsung. Bukan sebaliknya sekadar mencapai target PAD dengan mengorbankan warga lingkar pariwisata. Mereka bukan penonton. Jadikan mereka pelaku pariwisata itu sendiri. Warisan perdaban yang melekat pada masyarakat sekitar tempat wisata harus jadi perekat dalam upaya pengembangan potensi wisata tersebut.

Empat, Infrastruktur sosial. Infrastruktur jalan, jembatan, air minum bersih dikerjakan bermutu. Hal ini hanya mungkin dilakukan pemerintah dengan pengawasan melekat kepada kontraktor. Kontraktor yang dipercayakan harus kontraktor yang bertanggung jawab, bukan kontraktor dadakan hanya mau cari makan. Hindari monopoli pelaksanaan dan pengawasan oleh satu kontraktor. Ini penting agar sarana yang dihasilkan berkwalitas.

Lima , penataan birokrasi. Birokrasi sangat vital dalam melayani masyarakat. Hindari perangkat birokrasi yang tambun.Dinas, kantor, badan yang tidak ada gunanya dihapus saja. Komposisinya selalu menganut prinsip miskin struktur kaya fungsi. Ramping tapi gesit dan efektif dan berdayaguna dari pada gemuk hanya bikin banyak jabatan dan habiskan uang tunjangan jabatan.

Menempartkan figur dalam jabatan eselon di dinas atau badan-badan berdasarkan daftar urutan kepangkatan (DUK) dan hasil fit and proper test. Bukan angkat tempel berdasarkan daftar urutan kedekatan keluarga.

Enam, dekat dengan rakyat. Banyak pejabat lupa daratan, padahal mereka menduduki jabatan itu karena kepercayaan dari rakyat. Karena itu pejabat harus dekat dengan rakyat. Ada bersama mereka untuk dengar dan merasakan apa yang mereka inginkan. Jangan macam yang sudah-sudah bermaksud kunjung rakyat, e… yang duduk paling dekat dengan bupati malah pejabat-pejabat yang ikut rombongan bupati sendiri. Bupati perlu rubah pola ini ketika berada di tengah rakyat agar bisa merasakan degup harap dan selaksa rindu dari mereka.

Metode inilah yang dilakukan Mencius, seorang filsuf Cina. Dia mengingatkan bahwa, “Kalau Anda ingin merebut kerajaan, rebutlah rakyat. Kalau ingin merebut rakyat, rebutlah hati rakyat. Kalau ingin merebut hati rakyat, berilah kepada mereka, ada bersama mereka dan nikmatilah bersama mereka apa yang mereka butuhkan. Jangan engkau ciderai mereka. Jangan pelihara pada mereka apa yang mereka tidak sukai. Rakyat lebih respek kepada pemimpin yang manusiawi. Tak ubahnya seperti pameo air yang mengalir ke tempat yang lebih rendah, atau seperti margasatwa pulang ke hutan.”

Tujuh, akur sampai selesai tugas. Hindari dusta dan singkirkan mental monopoli. Sesuai regulasi Undang-Undang baru pilkada rakyat hanya memilih bupati. Sedangkan wakil bupati dipilih bupati sendiri. Hendaknya memilih pendamping yang pas dan tepat. Pendamping yang memahami visi misi bupati terpilih sehingga dalam pelaksanaan tugas selalu akur.

Ibarat jodoh, rakyat mengayuhbahagiakan dua sejoli yang sepakat menyatu dalam sebuah tugas pengabdian. Harapan rakyat ialah semoga kesatuan dan kebersamaan selalu lestari dan abadi hingga tugas berakhir. Jangan saling gesek seperti yang terjadi di Manggarai Barat sebelumnya. Atau seperti di Larantuka mesra hanya sebentar, retaknya hingga turun dari kursi panas. Contohilah Manggarai sebagaimana diperlihatkan Bupati Drs. Christian Rotok-Deno Kamelus yang dalam dua periode kepemimpinan selalu akur seperti pinang dibelah dua.

Mencapai harapan ini jangan jadikan Wakil Bupati hanya ‘ban serep’. Kemesraan itu jangan cuma bertahan sampai pelantikan usai. Selebihnya ribut, saling jual dan dendam kusumat. Wajib hukumnya harus lestari, abadi sampai di ujung batas masa.

Sesuangguhnya masih banyak hal yang harus saya sampaikan. Galibnya pesan pendek yang perlu-perlu saja yang disampaikan. Beberapa sentilan dan sentilun di atas, hemat saya mendesak dari seorang warga pinggiran. Sebagaimana dari orang pinggiran pesan pendek ini diterima puji Tuhan, diabaikan tidak apa-apa. Semuanya tergantung sudut angle pemimpin itu sendiri membidiknya. Apakah mau melihat SMS ini sebagai materi awasan atau suara sumbang yang tak berguna. Terserah saja. Sebagai rakyat saya terpanggil dan wajib melansir pesan ini. Semoga ada guna gananya. Semoga!!!

Menggagas Orientasi Pendidikan Kita

Next Story »

Guru Masih Berdiri di Kelas

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *