Bagian Terakhir dari Dua Tulisan

Perempuan, Iptek dan Kearifan Lokal

Oleh : Canisius Maran

Penghujung Desember 2014, dua nona manis dari Desa Rego, Kecamatan Macang Pacar, Manggarai Barat, menjadi pemberitaan media ibukota (Suara Pembaruan) sehubungan dengan prestasi akademik mereka mengubah kopi Flores menjadi permen Jelly Kopi Arabika.

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Keduanya adalah Marsa Dea Erika dan Fransisca Verawati Jinus, mahasiswi jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Katholik Widya Mandala (WM), Surabaya.

Entah apa yang mereka pikirkan ketika mendapat tugas dari dosen pembimbing, namun berdasar pengakuan, mereka membuat permen Jelly dengan bahan dasar kopi Arabika Flores karena keluarga mereka di Flores memiliki perkebunan kopi Arabika yang luas.

Padahal, sebagai perempuan, mereka bisa membuat produk yang lebih pas dengan kebutuhan perempuan, karena kopi ternyata bermanfaat untuk kecantikan (news.health.com, 18/10/2014), baik untuk wajah, rambut, dan kulit. Zat antioksidan yang terkandung dalam kopi bisa menghambat penuaan kulit pipi dengan cara menghilangkan racun dan melindungi radikal bebas seperti polusi, asap rokok dan partikel lain.

Pilihan atas kopi, produk lokal Flores untuk tugas kehamasiswaan, serasa pas dengan harumnya kopi lokal (Manggarai dan Bajawa) di pasar internasional. Sejalan pula dengan reputasi kopi Indonesia menempati peringkat ketiga terbesar dunia dimana tahun ini produksi kopi Indonesia diperkirakan mencapai 738.000 ton (Bloomberg Businessweek, Desember 2014).

Pertanyaannya, apakah posisi terbesar dunia juga menunjukkan kita juga penggemar kopi? Data menunjukkan bahwa konsumsi kopi rata-rata di Indonesia per kapita 1,3 kg. Kalah dengan Jepang (3,4 kg), Amerika (4,3 kg), Brazil (4,8 kg), Belanda (6,7 kg), Austria (7,6 kg), Belgia (8,0 kg), Norwegia (10,6 kg) dan Finlandia (11,4 kg).

Rendahnya konsumsi kopi dalam negeri menunjukkan daya serap kopi di pasar lokal yang artinya orang kita kurang suka minum kopi. Hal ini tentu berhubungan dengan mitos tentang kopi. Dimana sebagian orang menganggap kopi membahayakan kesehatan dan tidak bisa tidur setelah menyeruput kopi. Benarkah?

Namun rendahnya konsumsi kopi dalam negeri, ternyata tidak mengubah kebiasaan baru minum kopi di kota besar. Seperti di Jakarta kini banyak muncul kedai-kedai kopi mengikuti selera penikmat kopi. Bahkan ada tempat merupakan surga para penikmat kopi karena menyajikan kopi geografi (dari semua daerah) termasuk dari Bajawa dan Manggarai.

Dan dari sini pula, muncul kopi Yellow Catura dari Ruteng, Manggarai yang mengandung aroma citrus, tidak kental dan intensitasnya rendah, oleh para penikmat kopi dikatakan lebih baik diminum sore hari karena lebih nyaman dan santai.

Untuk menjaga mutu produk olahan kopi sesuai citarasa dan aroma khas daerah asal kopi, Kementerian Perindustrian telah merevisi SNI Kopi Instan untuk diterapkan secara wajib terhadap kopi instan yang sudah terkenal di mancanegara. Antaranya, Bajawa Coffee, Kintamani Cofee, Tojara Cofee, Wamena Cofee, Mandailing Coffee, Lampung Coffeedan Java Coffee.

Kembali pada Marsa dan Fransiska, yang meneliti pembuatan Jelly Kopi Arabika Flores, sebagai orang Flores kita tentu merasa bangga bahwa generasi kita bisa memanfaatkan produk lokal dalam pengembangan iptek, yang bisa berguna dalam kehidupan masyarakat.

Bahwa melalui pendidikan, mereka telah belajar melakukan sesuatu yang benar dan melalui pelatihan, mereka bisa melakukan berbagai hal dengan benar. Dan itu mereka sudah buktikan di Laboratorium Teknologi Pangan WM, bagaimana mereka merumuskan proses pembuatan permen jelly yang kemudian mereka beri nama Jelly Kopi Arabika Flores.

Pertanyaan kita apakah keberhasilan keduanya, dalam mengaplikasi iptek terhadap produk daerah (budaya lokal), bukankah sebuah bentuk apresiasi terhadap pendidikan matematika?

Kita memang tidak lagi hidup di zaman Galileo Galilei (abad 17), namun penemuan periode ayunan lampu gantung di Gereja Piza membuktikan adanya keselarasan antara teori dan eksperimen. Penemuan Galileo kemudian membuka tabir kemajuan cabang-cabang matematika seperti aritmatika, geometri, kalkulus, aljabar, statistik, dan analisis berikut pembuktian-pembuktian yang telah ditemukan oleh para ahli matematika.

Manusia menggunakan matematika dan intelektual berdasar kearifan budaya. Matematika sebagai fenomena budaya hanya masuk akal jika nilainya pas dalam kehidupan masyarakat. Integrasi nilai budaya dalam masyarakat juga tidak lepas dari pendidikan matematika. Dan matematika secara kontekstual memberi respon terhadap budaya dan kehidupan sosial,memiliki bahasa dan aturan yang terdefinisi dengan baik, penalaran yang jelas.

Keberhasilan Marsa dan Fransisca membuat jelly dengan mengembangkan produk lokal (kopi) menjadi permen Jelly Kopi Arabika, membuktikan mereka mengerjakan tugas seturut prinsip kebenaran matematika. Selain memperoleh basis penguasaan iptek yang kuat dari jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas WM, Surabaya.

Sesuatu yang masih selalu diperbincangkan dalam pengembangan konsep EBP (Ekonomi Berbasis Pengetahuan), dimana diperlukan tersedianya SDM yang cakap untuk menghasilkan karya inovasi iptek. Seperti INOVASI 101 dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi, atau Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI, atau dari perguruan tinggi di Bali, NTT.

Diharapkan dari sini muncul ide-ide inovatif yang kemudian menjadi inspirasi kalangan industri untuk membuat produk komersil yang bisa dipasarkan. Keberhasilan melalui pengembangan EBP pada gilirannya menghasilkan budaya technopreneurship atau kewirausahaan di bidang karya-karya inovasi iptek, tidak hanya mencipta tetapi juga bisa menjual.

Namun untuk sampai pada tahap produksi dan menjual, tentu masih memerlukan beberapa tahapan bukan hanya modal tetapi begitu sulitnya mendapat kepercayaan dari kalangan industri terhadap produk inovasi baru karena dianggap belum dikenal pasar.

Namun kita tentu berharap, dengan modal pendidikan dan dukungan produk budaya lokal, ditopang faktor bawaan perempuan, yang selalu tekun dan teliti dan percaya pada insting kiranya upaya Marsa dan Fransiska tidak hanya berhenti di Laboratorium Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas WM.

Seperti dalam tulisan pertama, dikemukakan ada faktor alam yang secara otomatis terbawa kaum perempuan dan itu selalu menjadi kekuatan bagi mereka dalam menilai dan mengidentifikasi peluang dalam karir, membuat mereka lebih peka mengambil keputusan-keputusan strategis.

Naluri itu ada dari penetrasi proses, dari cara keduanya memilih bahan pembuat gel. Meski bahan dasarnya sama, yaitu kopi, namun perbedaannya terletak pada pilihan kekenyalan bahan pembuat gel. Marsa menggunakan Konjag (umbi-umbian) yang agak lentur,
sedangkan Fransisca menggunakan Karagenan (rumput laut) yang agak keras. Mana yang akan dipilih, tentu selera pasar menentukan, namun keduanya sudah melangkah membangun sebuah mimpi.

Paling tidak, mereka berdua sudah buktikan keinginan dan kemampuan untuk bergerak ke depan, mempunyai inisiatif untuk melakukan sesuatu, disiplin, fokus pada kemampuan dan harapan, respek terhadap perkembangan iptek dan bersemangat mengembangkannya untuk memecahkan rahasia kehidupan. Mereka juga tau mana yang benar menurut prinsip matematika yang dapat membawa manfaat dalam kehidupan masyarakat.

Dalam kaitan dengan pemanfaatan iptek tentu tidak lantas harus diterjemahkan sebagai produk atau proses yang mahal dan canggih, tetapi suatu pola pikir untuk senantiasa produktif, kreatif dan inovatif dalam menghasilkan sebuah kreasi yang memberi nilai tambah. Hal ini berdasar bahwa iptek dan matematika juga memiliki fungsi sosial, dalam memberi nilai tambah Dan nilai tambah ini menjadi semakin penting bagi alat pengukur setiap transaksi ekonomi.

Nilai tambah tersebut dapat dioptimalkan pendayagunaannya, apabila SDM yang ada mampu mengaplikasikan iptek melalui sikap profesionalisme. Jika demikian, maka milestone atau titik tolaknya adalah peningkatan kemampuan SDM merupakan keharusan.

Pada sisi lain, apa yang dikerjakan Marsa dan Fransiska, membuka inspirasi terhadap upaya pengembangan usaha perkebunan kopi di Flores, misalnya dipadukan dengan sistem pemeliharaan ternak sapi. Hal semacam ini selalu menarik minat pembeli kopi dari luar negeri, terutama Jepang, yang selama ini menjadi konsumen kopi Flores untuk beragrowisata seraya menyaksikan cara kerja para petani kopi Flores dalam mengolah kopi berkualitas ekspor.

Selain mendidik petani kebun kopi untuk tidak membiasakan diri menggunakan pupuk kimia, para petani memperoleh pupuk kandang secara cuma-cuma untuk merawat kebun kopi. Namun yang perlu dihitung, berapa ekor sapi untuk satu hektar kebun kopi dan apakah pemerintah daerah bersedia menjadi bapak angkatnya.

Hari ini, kita catat nama Marsa dan Fransiska, namun masih banyak innovator muda lain kini tengah bertarung dalam kegiatan penelitian dalam laboratorium di berbagai perguruan tinggi.

Sebagaimana harapan keduanya, kiranya permen Jelly Kopi Arabika Flores dapat dijadikan cara lain menikmati kopi, yang biasanya diminum di desa-desa atau pinggiran kota, menjadi makanan yang pantas untuk segala tingkatan dan usia, … dimana saja juga boleh!!! (habis)

Perempuan Kian Merambah Dunia Maskulin

Next Story »

Menggagas Orientasi Pendidikan Kita

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *