Pemkab Manggarai Timur Amankan Aset Peninggalan Kabupaten Induk

Pemerintah setempat bersama jajaran Satpol PP, TNI dan polisi mengamankan tanah di Bugis, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong  dengan cara membersihkan seluruh tanaman warga.

Pemerintah setempat bersama jajaran Satpol PP, TNI dan polisi mengamankan tanah di Bugis, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong dengan cara membersihkan seluruh tanaman warga.

BORONG, FBC- Langkah pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Timur mengamankan aset-aset daerah peninggalan kabupaten induk Manggarai sangat serius. Aset-aset tersebut diinventaris demi keamanan masa depan.

Salah satu aset tanah yang diselamatkan pemerintah setempat adalah lokasi tanah di Bugis, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong. Pada Senin (27/4/2015) pemerintah setempat bersama jajaran Satpol PP, TNI dan polisi mengamankan tanah tersebut dengan cara membersihkan seluruh tanaman warga.

Tanaman berupa pisang, jati dan beberapa jenis tanaman lain digilas dengan menggunakan alat berat. Para pemilik sempat ajukan keberatan, namun pemerintah mengantongi legalitas hukum atas tanah tersebut sehingga proses membersihkan tanaman warga tetap berjalan.

Bupati Manggarai Timur, Drs. Yoseph Tote, M.Si yang dikonfirmasi di Kantor DPRD Manggarai Timur, Senin (27/4/2015) menjelaskan apa yang dilakukan pemerintah bertujuan mengamankan seluruh aset-aset yang ada. Sementara operasional aset tersebut tergantung kebutuhan baik jangka pendek maupun jangka panjang.

“Kita amankan aset yang ada. Tanah tersebut dekat Wae Bobo. Ada sebagian lahan yang sudah dikikis banjir. Kita amankan yang sisa itu,” katanya.

Informasi yang dihimpun wartawan di Borong menyebutkan, sesuai data tanah tersebut diserahkan oleh leluhur turunan pemangku adat kepada pemerintah daerah pada tahun 1967. Pada saat itu Manggarai Timur masih menjadi wilayah Kabupaten Manggarai.

Tanah tersebut dijadikan sebagai lapangan sepak bola. Namun dalam perkembangan selanjutnya lapangan sepak bola dipindahkan ke lokasi baru dekat terminal Borong. Sementara tanah yang ada yang telah diserahkan itu tetap menjadi aset pemerintah daerah yang ditandai dengan pembaharuan penyerahan pada tahun 1987.

Lantaran kurang mendapat perawatan dari pemerintah setempat, maka beberapa warga yang merupakan turunan dari pemilik tanah menggarap kembali lahan tersebut. Mereka menanam tanaman produktif seperti pohon jati dan pisang.

Sejak Manggarai Timur otonom menjadi kabupaten definitip, 23 Nopember 2007 lalu, pemerintah setempat menginventaris semua aset-aset daerah termasuk lahan tanah yang ada di pusat ibukota Kabupaten Manggarai Timur tersebut.

Lantaran tanah tersebut akan diberdayakan untuk pembangunan fasilitas umum maka pemerintah membersihkan seluruh isi tanah itu. Termasuk menghabiskan seluruh tanaman dengan menggunakan alat berat menggilas seluruh tanaman warga.

Proses kegiatan berjalan lancar meski ada protes dari beberapa warga. Pemerintah bersama tim tetap melaksanakan kegiatannya karena memiliki legalitas hukum yang jelas.

Serahkan Tanah 100 Hektar

Sebelumnya warga Suku Motu menyerahkan tanah seluas 100 hektar kepada pemerintah setempat. Penyerahan tanah tersebut merupakan bukti dukungan dari warga suku atas rencana pemerintah membangun bandar udara.

Kepala Dinas Perhubungan Matim. Drs. Yulius Biman menjawab wartawan di Borong menyebutkan, penyerahan tanah tersebut berdasarkan kesepakatan anggota suku. Sementara suku lain menyaksikan seluruh proses penyerahan yang berlangsung di Waelengga, Ibukota Kecamatan Kota Komba.

Menurutnya, sesuai perencanaan lahan 100 hektare tersebut akan dmanfaatkan untuk membangun bandara. Hasil studi kelayakan dan dampak lingkungan tanah yang dibutuhkan untuk bandara 100 hektar. Namun sesuai master plan tanah yang dibutuhkan harus 200 hektar.

Total lahan yang dibutuhkan untuk seluruh kegiatan bandara termasuk pembangunan fisik lainnya seluas 200 ha. Yang ada saat ini yang telah diserahkan warga suku Motu seluas 100 hektar. Sedangkan 100 hektar lainnya masih didiskusikan terutama menyamakan persepsi diantara masyarakat suku Motu.

“Penyerahan tanah 100 hektar aman. Semua wakil dari tujuh suku Motu sudah tanda tangan. 100 hektar lainnya masih didiskusikan lebih lanjut,” katanya.

Laporan, Kanis Lina Bana, kontributor FBC Borong.

Galang Dukungan untuk Azizah, Pihak Sekolah Masuk Keluar Pasar Kumpul Koin Sumbangan

Next Story »

Kasus Pencurian Marak, Warga Kota Lewoleba Resah

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *