Pedagang Tolak Pindah, Pemerintah Lembata Belum Bersikap

Aktivitas jual beli di salah satu sudut pasar dadakan taman kota Lewoleba. Tak hanya ratusan lapak jualan yang dibangun memadati arena taman kota, pasar dadakan ini pun marak dikunjungi pembeli. Gbr hasil Pantauan floresbangkit.org, Senin 13 April 2015.  (Foto : FBC/Yogi Making)

Aktivitas jual beli di salah satu sudut pasar dadakan taman kota Lewoleba. Tak hanya ratusan lapak jualan yang dibangun memadati arena taman kota, pasar dadakan ini pun marak dikunjungi pembeli. Gbr hasil Pantauan floresbangkit.org, Senin 13 April 2015. (Foto : FBC/Yogi Making)

LEWOLEBA, FBC-Kendati mendapat peringatan keras dari pemerintah, namun aksi pedagang pasar Pada dengan membuka pasar dadakan di tengah kota Lewoleba terus berlanjut. Mereka menolak untuk pindah, sebelum pemerintah kabupaten Lembata mengembalikan fungsi pasar TPI seperti semula.

Pantauan FBC Senin (13/4/2015), aktifitas jual beli di pasar dadakan yang berlokasi di Taman Hiburan Rakyat, kota Lewoleba kian marak. Tak hanya pedagang yang datang dari pasar Pada, kini warga pedalaman Lembata yang datang menjual hasil pertanian pun ikut berjualan.

Veronika dan Maria, yang datang dari desa Lite Ulumado, Kecamatan Nubatukan kepada media ini mengatakan, karena aktivitas pasar Pada terhenti, mereka akhirnya ikut datang ke taman kota.

“Pasar Pada sudah tidak orang yang jualan disana, jadi kami datang jual di sini. Mau jualan dimana saja, yang penting kami bisa dapat uang,” kata Maria di amini Veronika.

Ketua Persatuan Pedagang Pasar Pada, Rudy, di sela kesibukannya melayani pembeli menjelaskan, mereka menolak mengindahkan peringatan pemerintah Kabupaten Lembata. Menurutnya, aksi protes pedagang di picu oleh ketiadaan pembeli yang mengakibatkan kerugian. Karena itu, peringatan pemerintah agar pedagang kembali berjualan di tempat semula bukan solusi.

“Kita bisa pulang lagi untuk jualan di pasar Pada hanya dengan syarat, pemerintah kembalikan fungsi pasar TPI sebagai pasar senja, atau tutup pasar TPI dan semua pedagang di arahkan untuk jualan di satu tempat. Kami datang kesini karena di Pada tidak ada pembeli, jadi kalau suruh kami pulang lagi kesana, sama dengan pemerintah ambil pisau lalu gorok kami punya leher. Saya sudah sampaikan ke pemerintah bahwa jualan di Pada itu kami rugi, karena tidak ada pembeli. Kami semua disini sudah sepakat untuk tidak mau pindah,” tegasnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Sekertaris Diskoperindag Benediktus Ledo, Rabu (25/3/2015), sebagaimana di beritakan media ini mengatakan, Perda Nomor 12 Tahun 2014 hanya mengakui pasar Pada dan Pasar Lamahora. Dengan demikian, dia menghimbau agar semua pedagang pasar Pada yang melakukan aksi protes agar kembali berjualan di tempat semula.

Pasar TPI Lewoleba, sepih. Gbr hasil Pantauanfloresbangkit.org, Senin 13 April 2015. (Foto : FBC/Yogi Making)

Pasar TPI Lewoleba, sepih. Gbr hasil Pantauanfloresbangkit.org, Senin 13 April 2015. (Foto : FBC/Yogi Making)

Reaksi keras terhadap aksi pedagang pasar Pada juga datang dari Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur. Kepada wartawan ketika melepas mahasiswa PKL Akademi Komunitas Lembata di lapangan eks Kantor Bupati Lembata jumad,(27/3/2015) lalu, tegas melarang pedagang untuk berjualan di taman kota. Dia mengatakan, sarana pasar sebagai tempat berjualan sudah disediakan pemerintah, yakni di pasar Pada dan pasar timur Lamahora. Terkait penanganan pasar, Bupati mengaku sudah dilimpahkan ke instansi teknis.

“Bagaimana mungkin Bupati harus turun tangan untuk atur pasar. Itu kewenangan penuh ada pada instansi teknis yang mengaturnya. Intinya pamerintah sudah menyediakan fasilitas untuk mereka manfaatkan. Tinggal saja diatur oleh instansi teknis. Pada prinsipnya, pemerintah melarang para pedagang untuk berjualan di taman kota yang merupakan eks pasar inpres Lewoleba. Karena itu bukan pasar,” tegas Bupati Sunur.

Lebih jauh dalam keterangannya, Bupati Sunur mengaku komit terhadap regulasi. Atas sikap tegasnya yang melarang pedagang berjualan di taman kota Bupati juga mengaku tak takut untuk tidak dipilih oleh pedagang pasar Pada dalam Pemilihan Kepada Daerah tahun 2017 mendatang.

Tokoh masyarakat Lembata, Bernard Sesa Manuk.  (Foto : FBC/Yogi Making)

Tokoh masyarakat Lembata, Bernard Sesa Manuk. (Foto : FBC/Yogi Making)

“Daerah ini harus bertumbuh dan di dorong dengan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan pola pikir masyarakat harus kita rubah melauipeople follow Infrastruktur. Bukan Infrastruktur follow people. Kalau kita ikut maunya masyarakat, maka untuk apa ada pemerintah. Pemerintah berkehendak baik, agar semua pasar berjalan dengan baik. Kalau suksesi nanti mereka tidak pilih saya lagi silahkan. Itu hak politik mereka.Tetapi perlu ingat bahwa saya juga punya masa di Pasar TPI sekitar 400 an orang,” ungkap Bupati Sunur.

Informasi yang di himpun floresbangkit.org kala memantau aktivitas jual beli di taman kota, Senin (13/4/2015) menyebutkan, Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) kabupaten Lembata segera melakukan penertiban dan mengarahkan pedagang untuk kembali berjualan di tempat semula.

Terkait itu, Kasat Pol PP, Kanis Making di temui kantor DPRD Kabupaten Lembata Senin (13/4/2015), tampak sungkan memberi komentar. Saat di tanya terkait rencana penertiban, Kanis yang tampak sedang terburu-buru berjalan masuk ke salah satu ruang kantor DPRD Lembata, hanya melambaikan tangan kepada floresbangkit, sebagai tanda menolak berkomentar.

Pedagang TPI, Kami Ikut Saja

Terkait desakan dan protes pedagang pasar Pada yang menuntut untuk pasar TPI di kembalikan fungsinya sebagai pasar senja di tanggapi dingin oleh pedang di TPI. Menurut mereka, sebagai pedagang mereka tak mengerti apapun atas kebijakan yang ditempuh pemerintah kabupaten Lembata.

Tanggapan itu disampaikan Somi kala media ini datang memantau aktivitas perdagangan di pasar TPI, Senin (13/4/2015). Menurutnya, aksi pedagang pasar Pada yang berjualan di taman kota Lewoleba, membuat pasar TPI sepih pembeli. Bila omzet penjualan sebelumnya mencapai Rp. 600 ribu per hari, kini pendapatan Somi tak lebih dari Rp. 100 ribu per hari.

“Kami ini tau apa? Soal pasar itu urusan pemerintah. Saya dan teman-teman disini hanya tau datang berjualan. Kami, sekarang juga sepi, kalau sebelumnya bisa dapat sampai 600 ribu sekarang, 100 ribu, kadang juga tidak sampai 100 ribu, jadi kami harap pemerintah segera cari jalan keluar supaya kami jualan juga tidak terganggu dan terpenting kami tidak rugi. Apapaun asal yang terbaik kami ikut saja,” kata Somi, diamini Lina, padagang sayur lainnya.

Himbau Pemerintah

Sementara itu tokoh masyarakat Lembata, Bernard Sesa Manuk saat di hubungi, menghimbau pemerintah agar tidak membuat pernyataan provokatif yang bisa memicu permusuhan antara pedang TPI dan pasar Pada. Dia berharap, polemik pasar di kota Lewoleba segera di atasi agar pedagang tidak dirugikan.

Sesa mengatakan, aksi protes yang di lancarkan pedagang pasar Pada akibat kebijakan yang keliru dari Bupati Lembata. Jika pemerintah komit terhadap Perda Nomor 12 tahun 2014 tentang Tata Ruang Kota, maka sebaiknya pasar TPI ditutup. Sesa juga menegaskan, sikap pemerintah yang ngotot untuk mengembalikan ratusan pedagang pasar Pada untuk kembali berjualan ke tempat semula, tidak menjawab tuntutan masyarakat.

“Saya himbau supaya Bupati jangan lagi buat pernyataan provokatif yang bisa memicu permusuhan antar sesama warga, terutama pedagang di TPI dan pedagang pasar Pada. Aksi pedagang itu di picu oleh rasa kesal terhadap sebuah kebijakan yang menurut saya keliru. Orang tidak belanja ke pasar Pada yang nota bene jauh dari kota, dan lebih memilih datang ke TPI yang mudah dijangkau, akibatnya pasar Pada sepi pembeli, banyak kios terpaksa tutup, banyak pedagang yang bangkrut dan rumahnya disita Bank. Saya tawarkan dua solusi, yang pertama, pasar TPI ditutup dan pedagangnya disatukan dalam pada satu pasar, atau pasar TPI hanya dibuka sebagai pasar senja,” usul Sesa Manuk.

Sebagai gambaran, aksi protes pedagang pasar Pada dengan memindahkan lapak jualan ke taman kota Lewoleba, sudah berlangsung sejak, Selasa (24/3/2015). (Yogi Making)

Paskalis Boli Sabon Ketua Lamaholot Bali

Next Story »

Peralatan SAR Masih Terbatas, Komisi V Janji Membantu

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *