Pater Bruno, Ibu dan Kampung Halaman

JAKARTA, FBC- “Kampung halaman adalah jiwa bagi segala yang hidup. Kembali kepadanya adalah panggilan hidup. Kita perlu belajar dari ikan Salem(Salmon) yang selalu kembali ke hulu sungai tempat ia dilahirkan untuk bertelur dan meninggal di sana,” demikian kalimat yang dituliskan Pater Joseph Bruno Dasion, SVD atau biasa disapa Pater Bruno dalam buku “100 Pesan Revolusi Diri” yang diluncurkan sebulan yang lalu.

Pater Joseph Bruno Dasion, SVD.

Pater Joseph Bruno Dasion, SVD.

Sejalan  dengan yang ditulis pada buku itu, Pastor yang berkarya di Nagoya Jepang ini, dalam tiga hari ini, Selasa-Kamis, (7-9 April 2015) berada di Jakarta, setelah kembali ke kampung halamannya di Lamelera-Lembata, untuk menghadiri pemakaman ibundanya Mama Maria Selaka Korohama Dasion yang meninggal Sabtu, 28 Maret 2015.

Ditemui di Jakarta, Selasa , 7 April 2015, Pastor yang juga kolomnis Floresbangkit.com ini tidak bisa menyembunyikan sukacitanya karena walau telah memilih berkarya di negeri Sakura, saat ibunya meninggal ia masih sempat memimpin upacara pemakaman Rabu, 1 April 2015, bahkan memimpin upacara misa tiga hari setelah pemakaman.

“Semuanya lancar-lancar saja, sejak perjalanan dari Nagoya hingga Lamalera. Di Kupang pesawat siang sempat batal berangkat. Tapi masih bisa dimungkinkan dengan pesawat sore ke Lewoleba dan tiba di Lamalera hari itu juga, Selasa, 31 April 2015 sekitar pukul 19.00 Wita,” kata Pastor Bruno.

Mengenai kesan terhadap ibunda yang dicintainya, imam Serikat Sabda Allah (SVD) yang telah menjadi misonaris di Jepang selama kurang lebih 20 tahun ini mengatakan, ibunya adalah sosok yang mengajarkan kepada anak-anaknya tentang doa dan arti hidup bagi sesama.

“Oleh karena kehidupan doanya sangat berakar di dalam kehidupannya inilah, seumur hidupnya tidak pernah saya mendengar ibu bertengkar dengan orang lain atau bertutur tentang kejelakan orang lain. Ibu mengajarkan kepada kami kelembutan dan sikap hidup untuk selalu memberikan maaf kepada siapapun,” katanya.

Belajar dari teladan ibunya, ia mengambil hikmah bahwa sosok ibu di dalam kehidupan setiap orang terutama dengan aktif melibatkan diri dalam doa dan karya sosial dapat menumbuhkan kualitas hidup setiap insan sepanjang masa.

Ia menerima semua pengalaman itu sebagai rencana yang diberikan pencipta kepada dirinya, sebagaimana di akhir buku “100 Pesan Revolusi Diri”,  ia menulis” Tak perlu mempersoalkan apa yang menanti atau apa yang akan diperoleh pada akhir hidup. Serahkan setiap hari dan setiap saat hidup, seluruh kebahagiaan dan penderitaan yang kita alami ke dalam tangan Tuhan,”.

Pater Bruno hari ini, Kamis, (9/04/2015), terbang kembali ke Nagoya, tempat ia berkarya. Ia pun berjanji dari Jepang ia akan mengirimkan tulisan-tulisannya untuk pembaca floresbangkit (Ben)

Tupoksi BPK Hanya Pemeriksaan dan Pemberian Opini

Next Story »

Siswi SMATER Wakili NTT dalam Lomba OSN Tingkat Nasional

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *